
Perempuan itu duduk anggun di salah satu bangku di sebuah kafe. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya hari ini tiba juga. Selama ini komunikasi mereka hanyalah virtual saja: chat, telpon, v-call. Kalau bukan karena ia sangat mencintai Zein, pasti ia sudah tak betah ditinggal selama ini.
Mata Kiya kemudian berbinar senang. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Cowok itu tersenyum hangat padanya. Terlihat tampan sekali dengan penampilannya yang rapi dan terpelajar. Berjalan ke arahnya dengan langkahnya yang panjang dan tegas.
"Zeiiin!" panggil Kiya langsung memeluk erat cowok itu. "Kangen bangeeet." Kiya mendongak menatap wajah pacarnya.
"Hhh,,, aku juga."
"Gak bales meluk aku?" tanya Kiya kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Hhh,,, iya deh," ucap Zein kemudian balas mendekap tubuh Kiya di pelukannya.
Senyum di bibir Zein sedikit menyurut. Aroma yang ia hirup saat ini, kenapa malah mengingatkannya pada seseorang yang entah kenapa tiba-tiba menghindar darinya.
"Parfum kamu ...," ucap Zein sembari melepas pelukannya.
"Hhh,,, aku masih inget dulu kamu pernah bilang suka banget aroma apel, jadi aku pakai ini deh, buat ketemu kamu," ucap Kiya ceria, setelah melepas pelukannya dari cowok itu.
Zein terdiam sejenak. Aroma apel. Itu wangi yang selalu ia hirup jika berada di dekat Vira. Segar dan selalu menenangkan. Juga menjadi ciri khas yang tak pernah berubah sampai sekarang. Tadi pagi, ia bisa langsung mencium wangi itu seketika setelah Vira berjalan menuruni tangga. Masih seperti dulu, ceroboh dan kekanak-kanakan.
"Owh. Yaudah, ayo duduk," ucap Zein kemudian duduk di bangku yang sudah di pesan oleh Kiya.
Kiya menghela napas samar. Tersirat sedikit rasa kecewa di dalam hatinya. Zein seperti tak acuh padanya. Tak seperti ekspetasinya selama ini. Pertemuan romantis yang selalu ia bayangkan dalam halusinasinya.
"Gimana rumah sakitnya? Nyaman, tempatnya?" tanya Kiya setelah duduk di hadapan Zein.
"Nyaman, tapi kata Dr. Broto, aku disuruh bantu-bantu di kliniknya."
"Oh ya? Terus kamu mau?"
"Ya mau aja. Aku seneng malah. Bisa nambah pengalaman juga. Kata Dr. Broto, beliau sekarang sibuk banget di rumah sakit. Sebelumnya anaknya yang megang, tapi sekarang anknya itu mau aktif masuk sekolah. Jadi, dia minta tolong aku buat megang kliniknya juga. Jadwalku juga di rumah sakit sama sekali gak padet, jadi semuanya bisa tetep stabil."
"Loh, anaknya mau aktif masuk sekolah? Kelas berapa? Kok udah berani megang klinik?"
__ADS_1
"Katanya sih kelas 12 SMA. Berarti seumuran ya, sama Vira?" tanya Zein tiba-tiba teringat Vira lagi.
"Hmm... iya, ya? Pinter banget pasti. Sampai dipercaya banget buat pegang klinik," ucap Kiya tak lupa dengan senyum mengembang. Zein menyebut-nyebut nama Vira lagi. Itu sudah biasa bukan? Tapi kenapa rasanya masih begitu mengganjal dan mengganggu kenyamanan?
"Denger-denger sih gitu. Sering ikut Olimpiade dan semacamnya. Jenius dan ramah. Tapi Dr. Broto cerita kalau anaknya itu bandel banget. Susah buat di atur."
Kiya tertawa kecil "Aneh, ya? Orang lain pada bangga-banggain, tapi papanya sendiri malah ngeluh kayak gitu," timpal Kiya menyimpulkan.
"Ya gitu. Aku gak terlalu tau juga," ucap Zein kemudian merogoh sakunya hendak mengambil ponsel.
"Oh ya, kamu udah rapiin barang-barang kamu di rumah? Kalau belum, aku bisa dateng ke rumah kamu buat bantuin."
"Hmm ... udah," jawab Zein sembari menggeser layar berandanya. Matanya fokus mengamati tampilan di ponselnya.
"Udah, ya? Padahal aku pengen main ke rumah kamu," pancing Kiya menyadari Zein sudah mulai tak acuh lagi.
1 detik...
2 detik...
Masih belum ada tanggapan dari cowok itu.
"Nanti aku ke rumah kamu ya. Udah lama gak main ke sana," ucap Kiya pada akhirnya. Sedang melihat apa cowok ini? Kenapa sampai mengacuhkannya begini?
"Iya, dateng aja," jawab Zein singkat, tanpa mengalihkan perhatian dari layar handphonenya.
Kiya sudah jengah dengan respon Zein yang begitu-begitu saja. Ia kemudian berdiri dari duduknya, penasaran sekali dengan apa yang sedang dilihat cowok di hadapannya ini.
"Sayang! Kamu kenapa sih? Lagi ada aku di sini. Kita udah hampir lima tahun gak ketemu. Terus, kenapa kamu malah asik sendiri stalking akun sosial media-nya Vira? Kamu gak nganggep aku apa?" Kiya sudah tak bisa menahan lagi. Kesabarannya sudah di ambang batas sekarang. Dikira LDR-an lima tahun mudah apa? Malah sibuk mencari tahu kabar wanita lain.
"Loh, Yang? Kok malah marah-marah?" Zein turut berdiri dari duduknya, tapi nada bicaranya masih tetap tenang seperti biasanya. "Duduk dulu, yuk. Malu diliatin orang," ucapnya lagi, menyentuh bahu Kiya.
Kiya menghela napas kasar, tapi kemudian menuruti perkataan Zein.
__ADS_1
"Iya, aku minta maaf aku malah sibuk sendiri tadi," ucap Zein paham sekali cara meredakan emosi pacarnya ini.
"Aku cemburu kalau kamu nyebut-nyebut nama Vira terus di depan aku. Kamu tau kan, maksud aku?" Kiya tak mau berbasa-basi. Cukup sudah kesabarannya selama ini. Kekasih mana yang tak akan merasa dicurangi, sudah LDR-an lama, setiap telpon dan v-call malah sibuk menanyakan kabar dan keadaan perempuan lain. Ya mana ia tahu.
"Sayang, kamu kan tau, aku tuh udah nganggep Vira kayak adek aku sendiri. Masa iya kamu cemburu sama dia," bujuk Zein mengelus punggung tangan Kiya.
"Beneran, cuma sebagai adik?" tanya Kiya butuh diyakinkan.
"Iyaa ... papanya udah baik banget sama aku. Dari kecil juga selalu aku yang jagain. Ngapain juga aku suka sama dia? Emang ada, abang suka sama adiknya sendiri?"
Kiya menghela napas lega. Benar juga kata Zein. Kenapa ia jadi cemburu buta seperti ini? Senyumnya kemudian turut mengembang juga.
"Udah dimaafin?" tanya Zein menggenggam tangan pacarnya itu.
Wanita itu mengembangkan senyumnya. "Udah. Maafin aku juga deh, udah cemburu buta kayak gini."
Zein tersenyum menanggapi. Kenapa pula ia tiba-tiba bertengkar seperti ini? Ia menyadari ini semua kesalahannya. Harusnya ia bisa lebih romantis sejak tadi. Kenapa pula ia jadi gelisah sekali menyadari bahwa Vira sedang menghindarinya?
...💕...
Sembari mengenakan dasi abu-abunya, cowok itu berbicara lewat telepon genggam yang ia letakkan di meja kamarnya.
"Hari ini kita back to scholl. Gak usah bawa motor, gua jemput pake mobil. Oh ya, bilangin yang lain juga," ucapnya kemudian mematikan saluran telepon setelah mendapat respon dari temannya di ujung sana.
Ia kemudian menatap tampilannya di cermin, "Ka, I'm back to scholl. Hhh,,, pasti lo udah kangen sama gue," ucapnya kemudian tertawa getir karena ucapannya sendiri. Dasar dungu! Mana mungkin si Tolol itu kangen padanya. Ingat saja belum tentu.
Jemarinya kemudian mengetikan pesan untuk seorang perempuan kenalannya baru-baru ini.
"Rey, gua berangkat hari ini. Tungguin aja, semua cewek pasti bakal terpesona sama kegantengan gue."
Ia mengambil kaca mata hitam kemudian ia tenggerkan pada sepasang netranya. Bibirnya sedikit mengembang menertawakan kepercayaan dirinya barusan.
Saat baru saja keluar dari dalam rumah, matanya berhenti sejenak pada seonggok motor KLX yang terparkir di bagasi rumahnya. Sudah lama sekali tak terpakai. Mau dipakai juga untuk apa? Yang ada hanya semakin membuat runyam perasaan
__ADS_1
Ia kemudian melangkah dan memasuki mobil sport kesukaannya. Hari ini, apapun yang terjadi, ia harus menghadapi apa yang seharusnya ia hadapi sejak dulu. Perang dingin yang entah dimana letak ujungnya.