
"Yaah... mau gue kasih tau, tapi kok Arka nya gak ada," ucap Dio, seperti sedang memancing emosi, juga memancing rasa penasaran tanpa ada titik terang yang hakiki.
"Kasih tau aja lah, Yo! Ke Arka nya kan besok bisa," Kibo akhirnya bersuara.
"Gak papa nih?"
Semua mengangguk-anggukkan kepala setuju, benar-benar menanti apa yang hendak dikatakan anggota tergemoy di tongkrongan mereka.
"Oke!" Dio berseru. "Kalian tau duda baby face tetangga gue yang tajir melintir?" tanya Dio kemudian.
"Tau!" jawab Kibo, sebab ia memang pernah bertegur sapa dengan pria yang disebutkan Dio barusan.
"Nah, itu ternyata bokap tirinya Rana."
"Yang bener lo?" tanya Kibo lebih bersemangat lagi.
"He em," Dio manggut-manggut.
"Om Darren maksud lo?" tanya Arsya.
"Lah? Lo udah tau, Sya?" Dio malah balik bertanya.
"Ya cuma denger-denger doang. Kita kan se-SMP."
"Loh, kok lo gak bagi-bagi informasi sih, Sya?" Dio merengut.
"Kan kalian gak nanya. Emangnya gua kayak lo, pengikut Vira si Ratu Gosip," ledek Arsya seenaknya saja.
"Ah, kalau gitu entar gue mau main deh. Itung-itung PDKT sama calon mertua," ucap Kibo kepedean sekali.
"Hus! Mau nyoba bogemannya Arka lo?" Bendon mengingatkan.
Arsya melirik ponselnya yang tergeletak nganggur di atas meja, sebab baru saja benda itu bergetar, menampilkan nama si Ratu Gosip ahli ghosting pada layarnya.
"Halo?" sapa Arsya setelah mengangkat telfon dari Vira.
"Heh, Kutu kupret! Mau lo apain sahabat gue, hah?! Gue tau lo itu suka sama Nada, tapi kalau ditolak ya gak usah nyalin juga, bociiil!!" omel Vira di ujung sana.
"Maksud lo apaan sih, Vir?" Arsya mengernyit tak paham.
"Halah, sok polos lo! Udah, lo balikin aja Nada ke rumahnya. Kasian tuh nyokapnya, udah jam segini belum pulang juga...."
Mendengar omelan Vira barusan, Arsya langsung memutuskan sambungan telepon. Kemudian tanpa ba bi bu, segera menaiki motor dan menyalakan mesinnya.
__ADS_1
"Heh, Sya! Mau kemana lo?" teriak Dio.
Brum!
Cowok berjaket jins itu membiarkan pertanyaan Dio menggantung saja di udara. Melaju dengan kecepatan tinggi sebagai seorang pembalap liar yang ahli.
Dugaannya tertuju pada suatu tempat di SMA Tunas Bangsa. Perpustakaan. Ini sudah jam 21.05, tak mungkin tak ada apa-apa jika Nada benar masih berada di sana.
"Pak! Tunggu, Pak! Berenti dulu, Pak!" teriak Arsya segera turun dari motornya, menghentikan Pak Uus yang baru saja menyalakan motornya.
"Pak, bukain dulu gerbangnya, Pak. Saya mau masuk," pinta Arsya, sudah berdiri di samping Pak Uus.
"Ada apa, Sya? Ini itu sudah malam, kamu mau ngapain di dalam? Belajar? Mana ada orang jam segini. Ketemu kunti baru tau rasa," ucap Pak Uus, tetapi sama sekali tak mematikan kendaraan roda duanya.
"Ada temen saya di dalam, Pak. Ayolah, Pak. Kasian kalo malem-malem begini sendirian di dalem," bujuk Arsya.
"Heh, Arsya! Kamu ini sakit atau kesurupan? Jam segini mana ada orang di dalam? Lagian, saya sudah periksa sekeliling dan saya tidak menemukan satu pun orang di dalam," jelas Pak Uus.
"Tapi, Pak...."
"Udah ah, Sya. Di rumah, anak saya lagi sakit, seharian nungguin saya pulang," potong Pak Uus, kemudian acuh tak acuh melaju meninggalkan Arsya.
Arsya mengacak-acak rambutnya frustasi, kemudian berkacak pinggang mencari solusi. Pandangannya langsung saja tertuju pada gerbang sekolahnya yang berdiri kokoh dengan tinggi di atas rata-rata. Cowok itu menghela napas panjang, tapi kemudian tetap berjalan mendekati gerbang itu.
Bruk!
Sejurus kemudian, cowok itu segera berdiri dan buru-buru berlari menuju ke tempat dugaannya.
Arsya terus berlari dengan langkah panjangnya. Bertemankan cahaya yang remang-remang sebab tinggal satu dua lampu yang belum dimatikan.
Dengan napas ngos-ngosan, cowok itu tetap berlari menuju ke perpustakaan yang entah mengapa jaraknya terasa jauh sekali dari gerbang sekolah.
Sayup-sayup semakin terdengar suara tangis yang tertahan, kala Arsya berlari menuju pintu perpustakaan yang tertutup rapat.
"Nad! Nada!" teriak cowok itu dengan suara ngos-ngosan, seraya menggedor-gedor pintu perpustakaan.
"Arsya! Sya... tolongin aku," teriak Nada dari dalam dengan suara terisak.
"Tenang, Nad! Lo tenang, jauh-jauh dari pintu!" titah Arsya, berusaha membuka pintu dengan cara paksa.
Di dalam perpustakaan Nada hanya bisa terisak, dengan posisi duduk bersandar di dinding, memeluk kedua lututnya. Ia takut kegelapan. Ia takut dengan semua hal yang berbau dengan kesunyian malam. Juga satu hal bernama kesendirian.
"Tenang, Nad! Tenang! Gue pasti bisa," teriak Arsya dari luar, masih berusaha mendobrak pintu perpustakaan yang ternyata cukup kokoh untuk dilibas begitu saja.
__ADS_1
Bruak!
Akhirnya pintu terbuka.
"Nad, Nada!" Arsya bersegera menghampiri Nada. Cewek itu masih dalam keadaan memeluk kedua lututnya, menyembunyikan kepala dalam..
"Hiks... hiks...." Nada mulai menegakkan kepalanya, mendapati Arsya sudah berada di hadapannya.
"Nad, lo gak papa, kan?"
"Arsya!" Nada langsung saja memeluk cowok di hadapannya itu. Menghilangkan ketakutan yang semendari tadi mencekamnya.
Kedua mata Arsya membulat. Debar jantungnya seketika meningkat lima kali lipat. Jadi begini ya, rasanya dipeluk cewek.
"Sya, makasih," ucap Nada, hendak melepaskan pelukannya.
"Tunggu, Nad!" Baru saja Nada melepas kedua tangannya, Arsya tiba-tiba menarik tubuh cewek itu lagi ke dalam dekapannya. "Tunggu, jangan lepasin dulu. Biarin gue menikmati debaran jantung ini."
Sekejap, Nada tak melakukan perlawanan sama sekali. Membalas pelukan Arsya dan menikmati debaran jantungnya sendiri. Tapi kemudian....
Bug!
Satu pukulan sukses mendarat di punggung Arsya.
"Eh, aw!" rintih Arsya.
"Arsya! Kamu mau mesum, ya!" tuduh Nada setelah melepaskan diri dari pelukan Arsya.
"Heh, ngawur lo, Nad! Emangnya gua om senang. Sakit tau gak?" keluh Arsya memegangi punggung yang menjadi korban ketidak pekaan Nada.
"Eh, aduh. Sakit, ya?" tanya Nada merasa bersalah, segera memeriksa punggung Arsya. "Duuh... sorry, Sya," ucap Nada seraya mengelus bagian punggung yang dipegangi Arsya semendari tadi.
"Bukan di situ, Nad. Agak kesini lagi."
Nada menurut saja dengan instruksi dari Arsya.
"Eh, bukan, Nad. Di kanannya lagi, agak ke atas, agak ke atas. Eh, eh, kelewatan, ke bawah dong!"
Bug!
Tak butuh waktu lama, satu pukulan lagi mendarat di punggung cowok itu.
"Aw!"
__ADS_1
"Hih, Arsya nyebelin banget," decak Nada kembali ke posisi awalnya, duduk bersandar pada dinding.
"Hhh," kedua sudut bibir Arsya terangkat, ia kemudian duduk di samping Nada, masih dalam suasana penuh kegelapan.