
Perjalanan pulang Vira sibuk cekikikan di kursi penumpang menertawakan hal-hal sepele bersama seseorang di telefon. Hhh... siapa lagi kalau bukan kak Zein? Begitulah. Padahal sebelumnya ia anti sekali dengan tetangga sebelah rumahnya itu. Tadi saja, ia cerewet sekali bertanya macam-macam pada kak Zein. Bukan cuma tentang kedokteran, tapi juga tentang keseharian kak Zein kuliah di luar kota.
"Ekhm, ada yang langsung lupa sekitar nih..." ujar Rena memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Vira.
"Hehehe, udah dulu ya, Kak. Vira udah sampe rumah nih."
"Iya. Entar kalo Kak Zein main ke rumah jangan sembunyi lagi loh, ya," suara itu terdengar nyaring sekali dari telepon. Vira sengaja sekali bertelfonan dengan volume loudspeaker yang tak tanggung-tanggung.
"Iyaa... dah, Kak! See you!" ujarnya ceria.
"See you."
Tut... tut....
Sambungan telepon diputuskan.
"Dasar lo, Vir! Suka banget manas-manasin. Udah tau kita jomblo stadium empat," ucap Rena kemudian meminta persetujuan pada Nada yang duduk di sebelahnya.
"He em," jawab Nada mengangguk.
"Ya elah. Iri? Bilang Sayang!" ujar Vira turun dari mobil.
"Dasar! Gitu kalau ngambek gak karu-karuan," ledek Nada ikut terheran.
"Dih, biarin! Cepet cari pacar sana! Biar hidup gak polosan terus," ucap Vira kemudian mengeluarkan lidah meledek.
"Elah,, yaudah, Vir, balik kita," ujar Rena.
"Oke. See you, gaes!
" See you."
Kemudian mobil Rena melaju lagi. Menuju rumah Nada di seberang sana.
...💕...
Rumah Nada_ 12.30
Di meja belajar di ruangan yang kecil, Nada termenung dengan sebuah buku di tangannya. Tadinya hendak membaca, tapi kemudian fikirannya melayang kemana-mana.
"Cewek yang gue suka, suka banget baca buku. Gue jadi penasaran apa sih, serunya?"
Nada mengernyit. Siapa cewek yang dimaksud oleh Arsya? Cewek yang suka banget baca buku. Siapa ya? Masalahnya banyak sekali cewek yang hobi membaca di perpustakaan SMA Tunas Bangsa. Lagi pula selama ini cowok itu tak terlihat sedang mendekati atau juga dekat dengan cewek kelas manapun.
Yap! Ia tentu tahu itu. Walaupun Arsya adalah anak IPS, yang letak kelasnya teramat jauh dari habitatnya sebagai anak IPA. Tapi ia punya seorang nara sumber berita yang cukup dapat diandalkan. Jadi ia tak akan pernah ketinggalan berita mengenai cowok bebal yang hobi trek-trekkan dan balapan liar itu.
Deg!
__ADS_1
Nada tersentak. Barusan sentuhan halus mendarat sekilas di bahu kanannya. Dasar! Memikirkan Arsya saja sudah mengundang kesialan seperti ini. Apalagi kalau lebih dari ini.
Nada menelan salivanya lengkap dengan gemetar yang merayapi sekujur tubuhnya. Geming. Tapi kemudian ia memberanikan diri memastikan prasangkanya.
Set!
Tidak ada. Nada langsung mengalihkan kembali kepalanya seperti semula.
Tek tek tek....
Jemarinya tak bisa berhenti mengetuk-ngetuk meja.
Masih seorang Nada yang penakut.
Satu-satunya hal yang tak bisa ia kendalikan selama ini.
Wush!
Tiupan angin menerbangkan anak rambut cewek manis berkaca mata itu. Ia kemudian membuang napas kesal.
"Raden!!" pekiknya kesal, lalu berdiri dan membalik badan. Fix! Tebakannya benar.
"Eh, kok tau?" pringis Raden menggaruk-garuk lehernya yang sebenarnya tak gatal.
Tadinya ia tak ada niatan sama sekali menjahili kakak perempuannya ini. Tapi apa boleh buat? Saat memasuki ruang kamar sang Mbak Yu, jiwa jahilnya malah meronta-ronta. Ia suka sekali menakut-nakuti kakaknya yang sejak dulu paling anti dengan kata horor.
"Eh? Maksudnya Mbak Yu?"
"Ababmu itu loh... tak dapat dipungkiri," seloroh Nada.
Bukannya menyangkal, Raden justru membuka mulut lebar sekali, tak menyangka ungkapan itu yang akan keluar dari bibir kakaknya.
...💕...
Ruang Tamu_ Rumah Rana
Ruangan itu sepi sekali. Hanya suara jarum jam yang berdetak tanpa henti. Juga suara halus hela napas seorang wanita yang tengah duduk menyandar di kursi sofa.
Gelisah.
Ya, ia tak bisa berdusta bahwa ia tak menghawatirkan anak gadisnya itu. Tadi ia sudah menelfon Sarah, tapi kata sahabatnya itu Rana sudah tidak bersamanya lagi.
Satu jam berlalu. Puspa semakin gelisah dibuatnya. Tapi kemudian ponselnya berdering menampilkan nama "Darren" sebagai si penelfon. Puspa menghela napas. Sesuai dugaannya, Rana pasti sedang bersama mantan suaminya itu.
"Halo?" sapa Darren di ujung sana.
"Iya. Rana ada disitu, Mas?" tanya Puspa segera.
__ADS_1
"Iya. Sekarang dia lagi nonton Tv. Suruh pak Budi aja ke sini. Tadi Rana udah cerita semuanya ke aku." Darren kemudian menghela napas, sedang Puspa hanya diam, sama sekali tak memotong ucapan pria itu.
"Aku bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga kalian lagi...," ucapnya membuat Puspa merasa getir. "... Tapi Rana itu masih remaja. Daniel datang membuat ulah di SMA Tunas Bangsa juga bukan keinginan dia. Kasian dia. Di rumah udah dimarahi, di sekolah dicaci maki juga."
"Maksud, Mas... Rana dibully?" tanya Puspa dengan suara sedikit meninggi tak menyangka.
"Mungkin. Aku juga belum paham betul keadaannya. Tapi aku yakin, Rana bukan tipe yang mudah diintimidasi. Tapi aku minta tolong sama kamu untuk selalu ngasih dia dukungan."
"Maafin aku, Mas. Harusnya aku minta penjelasan dulu ke dia," ucap Puspa merasa bersalah.
"Udah. Gak papa. Habis ini biar aku yang ngerayu Rana biar dia mau pulang."
"Iya, Mas. Makasih banyak."
"Iya."
Tuut....
Panggilan diakhiri. Puspa menghela napas panjang, kemudian menghapus riwayat panggilannya.
💕
Rana menopang dagunya cemberut. Sore yang menyebalkan sebab ia diharuskan kembali pulang ke habitatnya. Huft... kalau saja bukan karena rayuan papi, pasti ia masih bersantai dan menghabiskan waktu bersama dengan ayah kesayangannya itu. Pokoknya kalau mami masih marah padanya, ia akan kembali lagi ke rumah Papi.
"Ayo turun, Non," ucap pak Budi sembari membukakan pintu untuk Rana. Sebenarnya biasanya ia tak perlu memperlakukan majikannya ini begini. Tapi sepertinya non Rana memang sedang bad mood, hingga enggan turun semendari tadi.
Rana menghela napas panjang, tapi kemudian menuruti perkataan pak Budi.
"Papa ada gak ya, Pak?"
"Tuan belum pulang, Non."
"Owh, ya udah, Pak, makasih. Rana masuk dulu, ya," ucap cewek itu lemas.
"Siap! Sama-sama, Non," jawab pak Budi dengan posisi hormat andalannya.
Senyum Rana mengembang menanggapi jawaban pak Budi, lalu kakinya melangkah menuju pintu rumahnya malas.
Krek...
Walau Ragu, Rana membuka pintu rumahnya, menyembulkan kepalanya mengintip keadaan di dalam.
"Rana?" sapa Puspa dengan senyum mengembang. Melangkahkan kaki menghampiri anaknya.
"Mami?" ucap Rana tersenyum canggung. Bingung harus berbuat dan berkata apa.
"Ayo masuk! Mami udah nungguin kamu dari tadi," ucap Puspa menarik tangan Rana agar masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rana merasa kikuk. Maminya tak pernah mendiaminya seperti kejadian beberapa waktu lalu. Tadi kata papi ia harus meminta maaf pada mami, tapi entah kenapa ucapan maaf itu terasa berat sekali untuk diucapkan.