
Meja belajar yang berserakan oleh buku dan kertas cakaran. Ranjang yang belum ia sentuh sama sekali seusai pulang sekolah tadi. Dan ponsel yang seolah tak punya harga diri. Teronggok bagaikan benda rusak tak berarti. Otaknya terus memanas, seolah ujian sudah di depan mata. Bukan hanya masalah Arka, tapi ia lelah menerima hinaan yang serta-merta.
Dari pintu kamar itu terdengar suara dencitan yang samar, tapi Rana memilih untuk tak acuh. Alisnya masih bertaut dan keningnya masih mengerut. Rambutnya dicepol berantakan. Ia menggosok ujung matanya sesaat. Sepertinya, sebentar lagi ia harus memakai kacamata.
"Ra ..." Puspa memegang pundak anaknya. Berdiri di belakang Rana, menatap wajah gadis kecilnya yang tak secerah dahulu.
Rana menghentikan kegiatannya. Melihat ke arah cermin di depannya, dan mendapati wajah cantik yang sarat akan kekhawatiran. Ia mengembangkan senyumnya segera. "Kenapa, Mi?"
Puspa tersenyum sayu. "Makan dulu, yuk. Dari tadi belum makan," ajak ibu dua anak itu.
Rana tak langsung mengiyakan. Ia terdiam sejenak. Ia sedang tak ingin makan, dan perutnya seperti sedang menolak segala hal, tapi ia tak mungkin menolak ajakan ibunya, lagi.
__ADS_1
"Ya udah, ayok," ucapnya pada akhirnya. Bangkit dan merangkul tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.
Di ruang makan sudah ada Cipto dan Dhira, sedang membicarakan rencana mereka akan liburan tahun baru ke mana. Mereka terdengar bersemangat. Lagipula, sudah lama mereka tak melakukannya bersama. Tapi entah kenapa, ekspresi ayah empat anak itu seketika langsung berubah ketika dua orang baru saja bergabung dengan mereka juga.
"Baru keluar, Ra?" tanya Cipto dengan wajah tak bersahabatnya. "Anak cewek seharian di kamar aja. Ingat, Unsos itu kebiasaan buruk," lanjutnya.
Rana menghela napas samar. Mengambil sendok dan garpu di depannya. "Terserah Papa," ucapnya, sudah bosan menghadapi orang tua itu. Gak belajar diceramahin, giliran belajar malah dikatain unsos. Ya kalo dia udah pinter mah nggak harus sengeyel ini.
...****************...
Manik matanya menuju lukisan itu lagi. Lelaki dingin dengan mata elangnya. Seberjuang apapun dirinya untuk pintar, pada akhirnya dia memang bodoh. Buktinya, ia masih membiarkan lukisan itu terbentang di dinding kamarnya. Menggerogoti emosinya, membunuh hatinya, dan membuatnya nyaris mati rasa. Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada akhir yang diberikan Arka.
__ADS_1
Dan ketiga temannya .... Ah, ia sangat merindukan mereka.
...****************...
Di ruang tamu rumah kayu bernuansa klasikal itu, gadis itu tersenyum puas dengan video yang disajikan oleh ponselnya. Video dengan durasi sepuluh menit tapi cukup untuk merubah segalanya. Ahh ... ia memang terlalu pandai dengan tak-tik semacam ini.
"Halo?" Gadis itu kemudian menelpon seseorang.
"Gue udah kirim vidionya. Pastiin Vidio itu kesebar ke seluruh sekolah, kalo bisa ke sekolah sebelah sekalian." Gadis itu kemudian berhenti bicara sejenak, mendengarkan ucapan dari seseorang yang ditelponnya.
"Ya, gue serahin semuanya ke elo. Tentang komisinya, lo gak perlu kuatir."
__ADS_1
Bunyi derak langkah kaki membuat cewek itu memalingkan wajahnya, kemudian mematikan sambungan telefonnya. Seorang cowok dengan kaos putih polos dan celana puntung berjalan ke arahnya. Bayi yang bersama cowok itu terlihat cukup nyaman dengan senyumam lugunya.
"Siapa, Ing?" tanya cowok itu.