The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hanya Status Online


__ADS_3

"Vir! Buka, Vir!!" suruh Kak Zein, kelihatan sekali sedang tersulut emosi.


Vira membuang nafas kasar. "Kenapa lagi orang ini?" gerutunya dalam hati, tapi tetap melakukan perintah Kak Zein.


"Turun!" Zein dengan kasar menarik tangan Vira turun dari mobil.


"Kak Zein kenapa sih?!" Vira menghempaskan tangan Kak Zein setelah benar-benar turun dari mobil Reza. "Kamu balik aja, Za!" ucapnya lagi, menghentikan Reza yang hendak turun juga dari mobil.


Tanpa ba bi bu, Reza menurut saja dengan ucapan Vira. Dari pada dikeroyok satu keluarga, sepaket dengan tetangga-tetangga Vira, mending ia cabut saja.


"Vir, kamu gak takut apa, kalau diapa-apain sama tuh cowok?! Untung aja Kak Zein dateng. Coba aja kalo Kak Zein gak dateng, mau jadi apa kamu?!" omel Zein panjang lebar.


"Mau jadi apa?" tanya Vira balik, menatap penuh kebencian pada cowok dihadapannya.


Zein diam tak menjawab, membalas tatapan Vira yang terasa sangat menusuk dihatinya. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Kak Zein ngapain sih, ikut campur urusan Vira?!" Dengan nada tinggi, Vira melontarkan pertanyaannya.


"Vira!" Zein mengguncang bahu cewek di hadapannya, memastikan bahwa cewek itu adalah benar Vira kecilnya. "Kak Zein cuma gak mau kamu kenapa-napa!"


Vira menghempaskan tangan Kak Zein dari bahunya kasar. "Kak Zein gak usah ikut campurin urusan Vira lagi! Vira gak suka! Lagian terserah Vira kan, Vira mau ngelakuin apa aja? Hidup, hidup Vira. Toh, Vira juga bukan siapa-siapa Kak Zein," tegas cewek itu kemudian berlari pergi dari hadapan Zein.


"Vir! Vira!!" panggil Zein berusaha mengejar, tapi kemudian ia berhenti dan mengacak-acak rambutnya frustasi.


...πŸ’•...


"Hai, Nil!" sapa Rena pada seorang cowok yang duduk seorang diri di sebuah kafe yang menjadi tempat janjian ketemu saat menghubungi cowok itu kemarin.


"Hai!" Daniel balas menyapa, tak lupa pula melempar senyum pada cowok yang datang bersama Rena. "Duduk, gue udah nungguin kalian dari tadi."


"Sorry. Biasa lah, jalanan macet," ucap Rena kemudian duduk di kursi yang dimaksud Daniel, diikuti Andra yang memang mengusulkan ide untuk bertemu dengan Daniel.


"Jadi gimana?" tanya Daniel langsung to the point saja.


Andra tersenyum menanggapi pertanyaan cowok di hadapannya ini, kemudian langsung saja mulai menjelaskan maksudnya datang menemui Daniel kesini.

__ADS_1


"Jadi, karena kejadian beberapa hari lalu, hubungan antara SMA Tunas Bangsa dan SMK Karya Nusantara yang sebelumnya emang udah gak akur sekarang ini jadi lebih panas lagi. Dan gue ngerasa, hal itu terjadi karena hubungan kita yang tidak terjalin dengan baik. Gue sebagai ketua OSIS yang harus mengutamakan keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah gue, ngerasa harus ngajuin diadakannya lomba persahabatan diantara sekolah kita. Dan gue butuh bantuan elo."


"Kalau gue gak mau bantu?" Jelas sekali Daniel malas mendengarkan ocehan panjang cowok di hadapannya. Mendengarkan ide tentang perlombaan persahabatan saja ia malas, apalagi sampai membantu terlaksananya acara itu. Di tambah lagi, dalam lomba persahabatan sudah pasti ia akan berhadapan dengan Arka yang tingkat kesongongannya mengalahkan para dewa.


"Kalau lo gak mau bantu, berarti lo udah bener-bener gak peduli ama Rana," Rena ikut angkat bicara, tahu pasti bahwa Daniel masih sangat mencintai Rana.


"Maksud lo?" tanya Daniel tak paham.


"Nil, lo gak bakal tau dan gak bakal paham rasanya jadi Rana. Lo gak bakal paham rasanya jadi pergunjingan dimana-mana. Lo gak bakal pernah ngerasain rasanya dibully mati-matian cuma gara-gara permasalahan yang dia sendiri gak tau awal mulanya dari mana. Rana keliatan baik-baik aja, tapi gue rasa, lo lebih tau, dia serapuh apa."


"Oke, gue bakal bantu. Tapi gue pengen ketemu Rana dulu," ucap cowok itu pada akhirnya.


...πŸ’•...


Sama seperti bulan yang tak bisa tak mengacuhkan senja pagi, juga seperti matahari yang menolak untuk tak mengacuhkan kerlip bintang di malam hari. Arka mengamati kertas berbentuk hati di tangannya pada jam 21.00 malam begini. Membaca ukiran tangan itu berulang-ulang. Sebuah kata motifasi tanpa nama pengirim yang mau tak mau membuat cowok itu memikirkan nama seorang cewek yang berani sekali menyatakan perasaan padanya di hari ini, di tempat paling ramai di SMA Tunas Bangsa.


Dredd... sebuah pesan menggetarkan ponsel cowok itu. Membuatnya menghela napas, meletakkan kertas di tangannya pada meja belajar di hadapannya, kemudian memeriksa pesan masuk di ponselnya.


Setelah mengetahui siapa pengirimnya, pun juga dengan isi pesannya, Arka hanya memandanginya dari beranda chat, membiarkan saja chat itu berstatus sebagai pesan yang belum dibaca.


Di tempat lain, di sebuah kamar luas dengan dinding berlukiskan wajah seorang cowok berahang tegas dengan segala kesan dinginnya, seorang cewek menatapi ponselnya dengan senyum mengembang sempurna, dengan layar ponsel yang menampilkan riwayat chat dari seorang yang sudah membuatnya terlanjur tergila-gila.


Arkanya Rana😜😜


^^^Anda^^^


^^^Arka udah makan?^^^


Setelah cukup puas menatapi layar ponselnya, cewek itu lantas menaruh ponselnya di meja, kemudian mengambil kertas origami dari dalam laci belajarnya.


"Untung aja gue masih punya simpenan, hasil nyolong origami nya Dhira dulu," batinnya terkekeh, sembari melipat kertas origami itu menjadi bentuk hati, lalu mengambil pena dan mengukirkan sebuah kalimat pada kertas itu.


"Bahagiaku... sesederhana mengetahui status online-mu dari ponselku, tanpa ada notif pesan dari nomormu."


Gundul-gundul pacul-cul... gemblengan...

__ADS_1


Rana segera saja beralih mengambil ponselnya lagi. Sebuah telfon dari nomor tak dikenal, tapi ia tak ragu segera mengangkatnya.


"Halo!" sapa Rana pada seseorang di ujung sana.


"Halo!"


"Daniel?!" pekik Rana senang. Tak ada tanda-tanda kebencian sesama mantan pacar disini.


"Niel, Rana ...." ucap Daniel di ujung sana.


"Hahaha," tawa Rana menggelegar seperti biasanya. "Iyaa ..., Niel," ucapnya kemudian, memanggil Daniel dengan panggilan kesayangannya sejak dahulu.


"Kabar, baik?"


"Rana baik. Niel?"


"Baik. Aku pengen ketemu, Ra. Bisa?"


"Boleh. Kapan?" tanpa fikir panjang, Rana langsung menyanggupi saja.


"Sekarang."


"Harus sekarang?" tanya Rana. Tak biasanya Daniel ingin menemuinya semendadak ini.


"Iya, kalau kamu gak keberatan, aku langsung ke rumah kamu sekarang."


"Emm... boleh deh."


"Beneran boleh?" tanya Daniel memastikan.


"Iyaa ... tapi jangan lupa, mampir dulu beli makanan di jalan," ucap Rana kemudian tertawa.


"Hahaha,,, beres, Ra. Oh ya, kamu juga jangan lupa, bilangin Pak Budi kalau kita udah baikan. Biar aku dibolehin masuk."


"Loh, kamu sempet gak dibolehin masuk sama Pak Budi?" tanya Rana sedikit terkejut.

__ADS_1


"Iya. Nanti deh, aku ceritain. Pokoknya kamu bilang gitu dulu aja sama Pak Budi."


"Owh, iya deh, beres," ucap Rana kemudian mematikan sambungan telfonnya.


__ADS_2