
"Ehm... belum," jawab Rana tersenyum canggung. Benar-benar bingung dengan jawabannya sendiri.
"Belum, berarti akan?" tanya Raja lagi.
Rana menggigit bibir bawahnya gelisah. Mungkin Raja melontarkan pertanyaan ini hanya karena rasa ingin tahunya. Tapi, tak tahukah Raja, bahwa itu justru membuatnya merasa terpojokkan.
Dredd... dredd...., suara getaran telepon rumah tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.
"Permisi ya, Ja," ucap Rana segera mengangkat telfon. Dalam hati merasa senang sekali karena mungkin setelah mengangkat telfon ini ia bisa sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Halo! Pak Budi?" Rana berhenti sejenak mendengarkan ucapan pak Budi. "Oh, iya, Pak," katanya lagi, setelah itu meletakkan kembali telepon rumahnya.
"Kenapa, Ra?" tanya Raja mengangkat kedua alisnya.
Rasa tak segera menjawab. Gadis itu justru menghela napas sejenak dan bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu, tapi tak segera membukanya. Melainkan mengintip dari jendela terlebih dahulu.
"Tunggu ya, Ja," ucapnya kemudian membuka pintu dan keluar begitu saja membiarkan pertanyaan Raja masih mengayang di udara.
Raja yang ditinggal hanya bisa mengernyitkan dahinya. Kemudian mau tak mau beranjak menuju jendela demi memenuhi rasa ingin tahunya.
__ADS_1
Di depan rumah, Rana yang baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah tiba-tiba menghentikan langkahnya lagi. Ada rasa ragu yang tiba-tiba mencekal kakinya. Di depan sana, Arka berdiri menyandarkan diri pada gerbang rumahnya dalam posisi membelakanginya. Rana menarik napas panjang. Kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Langkah Rana memelan seiring dengan dekatnya ia dengan posisi Arka. Tapi kemudian, cowok itu menoleh menyadari kedatangannya.
"Ra," pelan cowok itu berkata.
"Kok gak masuk?" tanya Rana, masih belum bisa menghapus kecanggungan di antara mereka.
Arka beralih dari posisi bersandarnya. Berdiri menghadap pada Rana. Menatap mata Rana lekat. Mencari kebenaran dugaannya mengenai kemarahan gadis itu.
"Udah malem. Takut ganggu," jawabnya kemudian.
Mendengar pertanyaan lirih Rana, Arka turut menundukkan kepala. Tidak diragukan lagi, Rana benar-benar sedang mendiaminya.
Cowok itu mengeratkan genggaman buku-buku jarinya. Rasanya ia ingin memeluk gadis itu segera. Tapi ia takut. Takut jika respon Rana tak sebaik yang ia kira.
"Kangen," jawab Arka lagi. Benar-benar tak pandai mencairkan suasana canggung yang sudah terlanjur terjadi. Terlalu singkat untuk meluluhkan hati Rana.
Rana diam. Menundukkan kepala. Enggan menatap Arka. Ia tahu, harusnya ia senang Arka mendatanginya begini. Tapi ia sendiri tak tahu, mengapa ia bersikap seperti ini pada cowok itu.
__ADS_1
"Ya udah, gue pulang," pamit Arka menyerah dengan sikap Rana.
Rana hanya mengangguk.
Masih dengan sikap Rana yang seperti itu, dengan langkah kecewa cowok itu berjalan menuju mobilnya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari Rana, sekaligus gerbang rumah gadis itu.
Dibalik punggung cowok yang hendak membuka pintu mobil itu. Dalam keheningan, tanpa kata, Rana menundukkan kepala dengan mata memejam. Di satu sisi, ia ingin menahan tangan Arka untuk tak segera enyah dari hadapannya. Tapi di sisi lain, ia enggan melakukannya. Tubuhnya seolah dibebani batu berton-ton. Sangat berat hingga ia tak bisa bergerak walau sesenti saja.
Masih dalam posisi memegang gagang pintu mobilnya, Arka masih berusaha mengalahkan keegoisannya.
Dan setelah itu ... sekejap, tanpa basa-basi, cowok itu langsung mendekap tubuh Rana ke dalam pelukannya. Persetan andai gadis itu menolaknya.
Deg...
Rana membuka pejaman matanya. Ia mengira ini hanyalah halusinasinya. Tapi ternyata tidak. Seperti harapannya dalam hati, agar cowok itu tak meninggalkannya sesingkat ini.
"Gue kangen. Tolong, jangan giniin gue terus," ucap cowok itu memohon. "Maaf," bisiknya lagi.
2022-10-06_23.00
__ADS_1