The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Angin Beriak Tanda Tak Dalam


__ADS_3

Mendengar bisikan gadis itu, seketika Arka terkesiap, matanya membulat tak menyangka. Bertahun-tahun sejak ia dibrojolkan dari rahim seorang wanita, tak pernah sekalipun ia merasakan rasanya membeli pembalut wanita. Tak terkira betapa memalukannya bukan? Belum lagi bajunya juga sobek gara-gara cewek pendek menyebalkan ini.


" Lo mau bikin gue malu?" tanya Arka menatap tajam, setelah menegakkan badannya kembali.


"Loh, kan lo yang maksa," kata Rana menyedekapkan kedua tangannya. Dengan berani ia menatap cowok jakung itu balik.


"Ya udah lah, biar gue aja yang beli. Lagian aneh banget lo, ngapain coba?" setelah acara tatap menatap yang cukup lama, Rana akhirnya memutuskan untuk membeli sendiri.


"Stop!" tapi cowok itu menghentikannya lagi. Tangannya menyentuh bahu Rana, menahan gadis itu agar tak melangkah lebih maju. "Biar gue yang beli," ucapnya setelah mengambil alih tangannya lagi.


"Tuh, kan, " Rana menampilkan wajah penuh kemenangannya. Hidup kaum kartini! jeritnya dalam hati.


Setelah berjuang keras mencari benda sialan bernama pembalut wanita itu-entah apa mereknya, Arka menyodorkannya pada si mbak-mbak kasir. Tak lupa dipasangnya tampang dingin untuk menutupi rasa malunya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Si Mbak kasir justru melongo menatap Arka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Masih anak sekolahan, penampilannya berantakan, baju seragamnya sobek di bagian kanan, beli pembalut cewek lagi. Duganya, pembalut itu pasti untuk pacar si cowok dihadapannya.


Untung ganteng, batin si mbak kasir tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Cepetan, Mbak! Saya banyak urusan," kata Arka tak bersahabat, tahu saja apa yang ada dalam fikiran wanita umur 30-an dihadapannya ini.


"Nih," Arka menyodorkan bungkusan penuh perjuangan itu pada cewek dihadapannya.


Tak butuh waktu lama, Rana langsung menyambut bungkusan itu girang lengkap dengan prengesannya yang cukup menyebalkan, bagi Arka.


"Thanks, hehehe," ucapnya terkekeh. Sebenarnya, baru kali ini ia menyuruh seorang cowok membelikannya pembalut, dan cowok itu bukan Daniel. Bahkan ia sendiri belum mengetahui nama cowok ini. Tapi biarlah, akan lebih baik kalau cowok ini juga tak mengenali namanya dan kalau bisa, sekalian saja habis ini cowok ini amnesia. Agar tak mengingatnya sama sekali.


"Jalan Sudirman no. 1," kata Rana tak sungkan-sungkan, setelah menaiki motor milik cowok galak itu lagi.


Arka hanya mendengus kesal. Kenal juga tidak, cewek dibelakangnya ini sudah membawa ribuan kesialan baginya. Dan setelah ribuan kesialan itu, cewek ini juga memperlakukannya seperti tukang ojek.

__ADS_1


Suasana di kelas itu agak ricuh. Terjadi perdebatan sengit antara pelajar-pelajar di dalamnya. Maklum saja, persaingan perebutan prestasi sangat ketat di kelas ini.


"Lo yakin jawaban lo bener, Nad? Kalau berdasarkan perhitungan gue, jawaban lo itu bener-bener meleset jauh," koar-koar seorang cewek penuh percaya diri. Namanya Bella, si juara dua yang sangat ambisius mengalahkan Nada, si juara bertahan sejak dahulu kala.


"Woy, kutu kupret! PD banget lu, ya, ngomong kayak gitu! " serbu Vira geram, tak suka melihat kesongongan si Bella ini.


"Yaa ... bukannya terlalu PD, tapi belakangan ini tuh, gue liat Nada mulai gak konsen sama pelajarannya, " ujar Bella lagi, menatap Nada dengan tatapan menantang.


Nada yang ditatap hanya diam, tak merespon apalagi melawan. Sedikit muak dengan perlakuan Bella yang seperti ini. Kalau ingin bersaing, kenapa harus sememalukan ini? Membanggakan diri sendiri bukanlah suatu prilaku yang patut dipuji bukan?


"Dan gue yakin, jawaban gue adalah jawaban yang paling bener dari soal fisika kali ini, " ucap Bella lagi, tersenyum penuh keyakinan.


"Gak malu lo Bel, kalau emang lo yakin jawaban lo bener dan lo lebih pinter dari Nada, terus kenapa lo masih aja juara dua? " Rena dengan gaya dinginnya mulai angkat bicara. Cukup sudah ia menahan kesabarannya semendari tadi.


Bella geming. Sombong sekali si Rena, mentang-mentang anak Walikota, batinnya tak suka.


Tok tok tok!


"Ada apa ini, kenapa kok ribut sekali?" Bu Mutia menaikkan ujung kacamatanya.


"Enggak, Bu ... " jawab semua murid serempak, kemudian kembali ke tempat masing-masing karena pelajaran akan segera dimulai.


"Tuh, kan, gue bilang juga apa," ujar Dio di ujung sana lirih, kemudian menjatuhkan kepalanya ke meja. Kenapa repot-repot berdebat hanya karena soal fisika? Bukankah tidur lebih nikmat? Batinnya heran dengan cewek-cewek ambisius di kelasnya.


"Jadi, Ibu sudah periksa tugas kalian tadi. Tapi ibu sangat kecewa, karena hanya satu orang diantara kalian yang bisa menjawabnya dengan sempurna," ujar Bu Mutia setelah duduk di singgasana kehormatannya.


Suasana dikelas seketika menegang, semua siswa berharap orang yang dimaksud Bu Mutia adalah dirinya sendiri, bukan Nada apalagi Bella. Baru sebulan pembelajaran tatap muka setelah vaksinasi dimulai, dan mereka berharap masih bisa menggeser Nada jika persaingannya bukan di dunia maya.


"Bella, ayo ambil bukumu," panggil Bu Mutia mengarahkan pandangannya pada Bella.

__ADS_1


Bella langsung berdiri dan tersenyum penuh kemenangan. "Tuh kan, gue bilang juga apa, " ucap Bella lirih, setelah menerima bukunya. Pandangannya tertuju pada si cewek pendiam saingan terberatnya.


Semua siswa dikelas itu menampilkan wajah kecewa. Ternyata, cewek belagu itu tak bisa diremehkan juga.


Nada terhenyak, menelan air liur pahit. Prestasi adalah segalanya baginya. Jika bukan karena pintar, ia bukanlah apa-apa dibandingkan dengan teman-temannya yang memang terlahir sebagai anak orang kaya.


"Santai aja, Nad, ini cuma soal fisika kok," ucap Vira lirih, mengerti saja apa yang dirasakan Nada.


Nada masih diam, tak merespon apa-apa.


"Dio!" panggil Bu Mutia lagi, membuat seluruh isi kelas melongo tak menyangka. Bagaimana ceritanya, sosok Dio yang gemuk dan selalu ketiduran di dalam kelas bisa mendapatkan nilai yang cukup tinggi? Sehingga berada tepat di bawah nilai yang tertinggi.


Dio terkesiap, ia yang hampir jatuh ke alam mimpi terbangun lagi sebab samar-samar mendengar namanya dipanggil.


"Dipanggil Bu Mutia tuh, Yo! " ucap teman Dio menyikut tangan cowok yang hobi sekali makan itu, menyadarkannya dari alam ghaib yang tak baik dinikmati jika sedang berada di kelas seperti ini.


"Eh, iya, Bu!" Dio terjingkat, langsung berdiri dari duduknya dengan posisi siap sedia. Seperti seorang calon tentara sedang latihan militer. Duh, namanya juga baru bangun tidur.


Sontak ulah Dio membuat gelak tawa seisi kelas menggema tanpa aba-aba, meluluhlantahkan ketegangan yang ada. Dasar si gentong!


"Dio, ambil buku kamu!" Bu Mutia mengulang perintahnya, tak ikut tertawa sebab menurutnya tak ada yang patut ditertawakan saat jam pelajaran begini.


Tak butuh waktu lama setelah mengumpulkan kesadarannya, Dio mengambil buku itu.


"Nadania Salsabila!" panggil Bu Mutia lagi, pandangannya langsung tertuju pada cewek berkaca mata yang duduk di barisan depan tepat dihadapannya.


Tanpa kata, Nada segera berdiri dari duduknya dan maju kedepan. Berusaha menerima dengan lapang dada jika saja yang dikatakan Bella benar adanya, bahwa jawabannya jauh meleset dari yang sebenarnya.


"Kamu suka pelajaran Fisika? Saya suka cara kamu mengerjakan soal-soal ini," ucap Bu Mutia sembari menyodorkan buku Nada, tersenyum ramah tak seperti biasanya.

__ADS_1


Nada sedikit tercenung, tapi setelah itu ia tersenyum canggung. Menerima bukunya sembari mengangguk sedikit sebagai isyarat jawaban sekaligus ucapan terimakasih.


Bela tersentak. Buru-buru ia mengecek buku fisikanya. 85, masih jauh dari kata sempurna. Pandangannya langsung tertuju pada Nada yang ternyata juga mengarahkan pandangan padanya. Cewek itu tersenyum samar. Di sampingnya, Vira memain-mainkan ujung rambutnya tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2