
"Na na na naaa...," senandung ria seorang cewek berparas ayu, dengan posisi di atas tangga, sedang melukis wajah seorang laki-laki, diselingi melirik ke arah sebuah jaket Jins yang ia gantung di depan lemarinya.
Saat ini, di dalam otak bebalnya hanya dipenuhi oleh wajah cowok itu. Rambutnya, alisnya, mata galaknya, rahangnya, bibirnya, ah! Pokoknya semua hal tentang cowok itu. Juga semua kejadian indah yang terjadi di hari minggu pagi tadi.
Kreek....
Bruak! Jedar! Jeder!
Sangking asyiknya Rana melukis, suara pintu yang dibuka saja bisa sangat mengagetkannya. Membuatnya jatuh keteteran dengan wajah penuh cat tembok dimana-mana.
"Mi?" ucapnya, mengusap cat di keningnya, walau tak berefek apa-apa.
"Rana?" Puspa menghampiri anaknya. Walau merasa kasihan, tapi rasanya ia ingin tertawa. "Kok bisa sih?" tanyanya dengan kedua sudut bibir yang terlanjur terangkat.
"Mami sih, ngagetin Rana," sungut Rana berdiri, kemudian melihat keadaannya dari pantulan cermin. Sudah seperti kue manis penuh warna.
"Hhh,,, kamu sih, terlalu asik ngelukisnya. Eh, kayaknya Mami gak asing deh, sama lukisan kamu." Puspa mengamati hasil karya anaknya yang masih belum rampung dikerjakan.
"Hehehe," prenges Rana menggaruk kepalanya. "Mami jaga rahasia, ya," ucapnya kemudian.
"Hmm ... Iya deh, iya. Mami gak bakal ngasih tau ke Tante Sarah," ucap Puspa terkekeh.
"Ya udah, kamu lanjutin aja. Tapi nanti jam delapan malam Mami sama Papa mau berkunjung ke rumah Pak Kusma. Kamu harus ikut. Jadi, sebelum jam delapan, kamu harus udah siap loh, ya ...."
"Siap, Mi!" seru Rana menyodorkan kedua jari jempolnya.
...💕...
Rumah Pak Kusma
Suara tawa Pak Kusma menggelegar di ruang tamu rumah itu, diikuti suara tawa tamunya yang dulunya adalah murid kesayangannya.
"Hahaha,,, lain waktu berkunjunglah ke sini lagi, Cip. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu. Iya kan, Bu?" Kusma menyentuh punggung tangan istrinya.
__ADS_1
"Iya. Biasalah, Pak. Murid kalau sudah sukses dan sibuk dengan kerjaan, sudah pasti lupa lah dengan gurunya," ucap istri Pak Kusma kemudian terkekeh.
"Hhh, tentu saja bukan begitu, Pak. Mana mungkin seorang murid melupakan jasa-jasa gurunya. Hanya saja saya memiliki kesibukan ini itu dan lain sebagainya. Dan ulah Rana di sekolah ternyata punya manfaat juga, hingga kami yang sudah lama tak berkunjung, akhirnya berkunjung juga."
Rana memalingkan wajah. Malas mendengarkan celotehan ayahnya. Manfaat gundulmu peyang! umpatnya dalam hati.
"Hahaha,,, tak apa lah, Cip. Namanya juga anak-anak. Tawuran itu memang tak asing bagi mereka. Lagian, kalau melihat wajah Rana yang cantik sekali seperti mamanya, saya tidak heran kalau sampai jadi rebutan."
Rana menundukkan kepala dalam. Ingin rasanya ia menyumpal mulut kedua pria yang cerewet sekali ini. Siapa juga yang pengen jadi rebutan?! hardiknya dalam hati lagi.
Obrolan demi obrolan pun berlalu, hingga jarum jam menunjukkan pukul 10.35. Obrolan para pria yang entah membahas apa saja. Puspa dan istri Pak Kusma hanya menyimak dan sesekali menimpali pembicaraan mereka.
"Duh, gak kerasa sudah malam saja, Pak. Kami sekeluarga mau pamit dulu," ucap Cipto melirik jam di tangannya. "Ma, suruh Pak Budi bawa barangnya ke sini," katanya lagi pada Puspa yang duduk di sampingnya. Puspa tak butuh pengulangan perintah segera berdiri dari duduknya.
" Loh, kok cepet-cepet, Cip," kata Pak Kusma.
"Hahaha,,, nantilah, Pak. Kapan-kapan kami berkunjung ke sini lagi." Cipto berdiri dari duduknya, bersamaan dengan masuknya Pak Budi yang membawa sebuah parsel besar perlengkapan memasak.
"Duh, kok repot-repot segala tho, Cip."
"Loh, Rana kok diam saja, Cip?" tanya istri Pak Kusma mengamati Rana yang duduk dengan kepala menunduk dalam.
"Groook ... groook ...."
...💕...
Malam sudah larut. Cowok itu bisa saja keluar ke tongkrongannya yang biasanya pada jam-jam seperti ini masih ramai, bisa juga bermain game online sampai menjelang pagi, atau bisa juga mengerjakan soal-soal matematika dan fisika seperti kebiasaannya saat sedang gabut. Tapi cowok itu lebih memilih untuk merebahkan diri di balkon beratapkan kaca di rumahnya. Menatap langit malam yang kian gelap saja, dengan hiasan bintang yang sangking sedikitnya serasa bisa dihitung bahkan hanya menggunakan jari saja.
Saat ini, ia sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Berusaha mengendalikan hatinya agar tak terlampau jauh melanggar janji yang ia buat sendiri di waktu lampau.
Mengikutcampuri urusan Rana Puspakarina adalah kesalahan besar, dan menyukainya adalah sebuah larangan yang mutlak. Ia tak boleh menjadi lelaki yang dungu, dengan mencintai tipe wanita seperti Rana. Ia harus menjauhinya. Itu pun kalau ia ingin melindungi hatinya yang memang sudah sekarat.
...💕...
__ADS_1
Cewek itu tiba-tiba membuka matanya lebar. Senyumnya langsung terpancar. Sejurus kemudian, ia sudah meloncat dan berdiri di atas ranjangnya.
Matahari masih menyembunyikan diri, Rana yang biasanya masih tertidur tak sadarkan diri, kini sudah pecicilan tak tahu waktu masih dini.
Rana melompat lagi, turun dari ranjangnya. Senyumnya semakin mengembang tatkala melirik wajah Arka yang tetap tampan walaupun lukisan itu belum sepenuhnya selesai. Cewek itu berlari riang menuju kamar mandi. Kemudian membersihkan diri sembari menyanyikan segala lagu ceria yang ia hafal.
"Huaah!" Mendengar suara berisik, Dhira terbangun dari tidurnya. Kemudian, tak ragu turun dari ranjangnya. "Pasti suara Kak Rana," geramnya membuka pintu kamar kakaknya itu.
"Diobok-obok airnya diobok-obok...."
Dhira mengucek-ucek matanya. Tumben sekali kakaknya sudah bangun di jam segini. Dan yang lebih membuatnya heran adalah, lukisan seorang cowok yang terpampang besar sekali di dinding kamar kakaknya. Perasaan baru putus deh, batinnya menggeleng heran.
"Banyak ikannya kecil-kecil pada mabok...."
Dog dog dog!
"Diobok-obok airnya ...."
Kreek!
"Aaa! Aa! Aa! Tolong! Ada orang mesum!" teriak Rana menutup kembali pintu kamar mandinya terburu-buru. "Dhiraaa! Jangan nakal, nanti Kakak bilangin Mami loh!" ancam Rana berteriak dari dalam.
"Bilangin aja," ucap Dhira kemudian berlalu saja meninggalkan kamar kakaknya.
Kreek..., tak berselang lama setelah kepergian Dhira dari ruang itu, Rana keluar dari permandiannya. Mengenakan baju mandi dengan sebuah handuk membungkus rambutnya yang habis dikeramas.
"Lah, mana tu bocah?" ucap Rana menutup kembali pintu kamar mandinya, kemudian beranjak duduk di hadapan meja rias miliknya.
Dredd..., sebuah pesan baru saja menggetarkan ponselnya. Cewek itu segera saja meraih benda itu. Bersemangat sekali. Matanya berbinar. Tapi kemudian ia menghela napas kecewa. Ternyata pesan dari grup miliknya dan ketiga temannya.
Bukan Janda Kembang 😜😜
@Miss_Fashinable
__ADS_1
Gaes, Sorry.
Gue gak bisa jemput.