The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Misi Satu Selesai...


__ADS_3

Ting tung.... ting tung!


Bel rumah mewah itu berbunyi nyaring. Bukan masalah sebenarnya kalau bel itu berbunyi nyaring. Lagian, biasanya emang begitu, bukan? Yang menjadi masalah adalah; si Pemencet adalah penghuni rumah itu sendiri. Cowok berseragam pemain basket yang masih lengkap dengan peluh di dahinya.


"Ka, kenapa harus mencet bel? Kan, bisa langsung masuk." Rana mengadahkan kepala menatap wajah cowok yang merangkulnya itu.


"Iya. Biar calon mertua kamu bisa langsung nyambut kamu di depan pintu," ucap Arka tiba-tiba mengenakan kata ganti 'kamu'. Padahal kan, biasanya mah 'lo-gue'.


"Eh, kamu?" Bukannya baper dengan perkataan cowok yang sedang menatapnya, Rana justru benar-benar menanyakan hal itu. Walau jelas sekali bola mata indahnya tampak berbinar.


"Maunya gimana?" Cowok itu menatap dengan lekat. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Menambah pesona pada wajah tampannya.


Rana juga tersenyum. Andai saja Arka memiliki kemampuan seperti kelelawar yang punya frekuensi pendengaran tinggi, cowok itu pasti sekarang tak lagi tenang tersenyum menatapnya. Melainkan khawatir karena keadaan jantung cewek yang sedang bersamanya, sungguh jauh dari kata aman. Nyaris meledak.


"Arka? Rana?!"

__ADS_1


Akibat suara cempreng itu, kedua remaja itu langsung dibuat kembali ke bumi. Kembali dari dunia mereka sendiri. Lalu mengalihkan pandangan pada sepasang Pasutri yang kini sedang menatap mereka dengan tatapan yang sungguh sulit untuk diartikan.


"Hai, Pa, Ma!" sapa Arka. Cowok itu justru semakin mengeratkan rangkulannya pada Rana. "Rana sakit, jadi kita pulang duluan," lanjutnya.


"Oowh ...." Sarah dan Rangga seketika menghela napas lega. Tadinya, sebab melihat Arka dalam posisi semesra itu dengan Rana, mereka sungguh berfikir bahwa anak mereka satu-satunya itu habis bolos dari sekolah dan justru sibuk berpacaran.


"Hehehe." Alih-alih menjawab Rana justru memperlihatkan prengesannya.


"Ma, titip Rana, ya. Aku mau mandi dulu," ucap Arka tersenyum pada wanita yang diajaknya bicara itu.


"Tunggu ya, Ra. Gak lama kok." Cowok itu melepaskan rangkulannya.


"Iya," jawab Rana manggut-manggut.


Arka berlalu ke dalam duluan.

__ADS_1


"Ya udah, Ra, Om juga ke dalam, ya," ucap Rangga kepada Rana, namun kepalanya masih menoleh memandangi punggung anaknya yang semakin menjauh.


"Arka udah baikan beneran kan, sama Tante?" tanya Rana untuk kesekian kalinya, tatkala kedua perempuan berparas ayu itu berjalan menuju kamar Sarah. Bukan ia merasa tak percaya saat melihat prilaku Arka yang berubah 190° pada tante Sarah. Hanya saja, ia ingin memastikannya lagi. Memastikan bahwa Arka benar-benar menepati janjinya.


"Iya, Ra. Kamu tenang aja. Arka mah, sekarang udah jinak kok, gara-gara kamu." Sarah mengembangkan senyumnya sempurna. "Makasih, ya," lanjutnya lagi.


Rana menghela napas lega.


"Iya, Tan. Aman. Oh ya, Tan, Rana tembus nih. Pinjem baju Tante, ya," ucap cewek berseragam putih abu-abu itu dengan prengesan andalan di bibirnya.


"Oowh... jadi kamu sakit PMS ternyata?"


"Hehehe..."


"Tenang, Tante punya baju yang pas buat kamu," ucap Sarah dengan kedipan matanya.

__ADS_1


__ADS_2