The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Papi?


__ADS_3

"Arka, tolong anterin Rana pulang, ya," ucap Rana sama sekali tak menyadari kekikukan Arka.


"Ra...."


"Ka, Rana gak sekuat itu. Rana butuh sendiri, buat nenangin diri," potong Rana sebab ia tak mau Arka menolak keputusannya.


"Ya udah, mumpung lagi sepi, gue anterin lo pulang," ucap Arka kemudian menggamit tangan Rana. Mengajaknya turun dari area rooftop.


"Jalan Sudirman nomer satu ya, Ka!" seru Rana sudah kembali riang lagi, tepatnya mencoba kembali riang. Namun, seruannya justru sukses menghentikan langkah Arka.


"Loh, kenapa, Ka? Kok berenti?"


Arka hanya menjawab Rana dengan tolehan sekejap saja. Senyumnya habis tak tersisa. Lalu tanpa sepatah kata, cowok itu melanjutkan langkahnya, dengan tangan kanan yang masih mengamit tangan Rana.


Dalam perjalanan menuju parkiran, kedua remaja itu berjalan beriringan tanpa kata. Menyusuri koridor sekolah yang teramat sepi, sebab semua sedang berada di dalam kelas. Jam pelajaran pertama tengah berlangsung.


Masih dengan langkah mengikuti cowok yang menggandeng tangannya, Rana memperhatikan setiap mading yang ia lewati. Kertas-kertas itu memang sudah tak menempel di sana, tapi siapa yang bisa memastikan bahwa pembulian tidak akan terjadi lagi padanya?


Arka?


Cowok itu seperti teka-teki baginya. Beberapa menit lalu cowok itu bak seorang malaikat, tapi lihat sekarang! Dalam diamnya pun, cowok itu terlihat dingin sekali. Benar-benar tak bisa ditebak.


Setelah sampai di parkiran, masih dalam keadaan diam seribu bahasa, Arka mengambil motornya, menaikinya setelah sampai di hadapan Rana, mengenakan helm dan kemudian menyodorkan helm pula pada Rana.


Rana meneguk salivanya. Tuh kan, tebakannya benar. Arka seperti sedang marah padanya. Ia kemudian meraih dan mengenakan helm yang diberikan oleh cowok itu. Juga bingung harus bagaimana menyikapinya.


"Naik," ucap Arka singkat. Datar tanpa ekspresi.


Rana segera melakukan perintah cowok itu. Benar-benar bingung dengan sikap Arka yang bisa berubah-ubah secepat kilat.


Klek, Arka memasang kunci motornya dan menyalakan kendaraan beroda dua itu.


"Arka," panggil Rana menongolkan wajahnya di samping cowok itu.


Arka yang dipanggil, langsung menoleh ke kanan, mendapati wajah Rana yang tiba-tiba sudah menatap padanya dengan mata bulatnya.


Namun, cowok itu hanya menoleh tanpa mengeluarkan kata apa-apa. Ia tahu tak seharusnya ia bersikap dingin lagi pada Rana begini. Tapi ... tak tahukah Rana, bahwa cewek itu juga tak seharusnya meminta ia mengantarkannya ke Jln. Sudirman No. 1, rumah duda tampan nan kaya itu?


"Kalau Rana pengen peluk Arka ... boleh gak?" tanya Rana dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Sejenak, Arka menatap cewek itu diam tanpa memberi jawaban. Tapi kemudian ....


"Boleh," jawabnya entah kesambet setan dari mana. Jawaban yang sukses menerbitkan senyum Rana.


Rana yang kegirangan mendapat perizinan dari Arka, langsung memeluk cowok itu erat. Seolah-olah jika ia melonggarkan sedikit saja pelukannya, Arka akan langsung menghilang darinya.


"Rana mau bilang makasih sama Arka," ucap Rana memecah keheningan yang terjadi di antara keduanya dalam perjalanan menuju rumah papinya. "Makasih, karena Arka mau pake jaket ini lagi," ujarnya kemudian, menghirup wangi khas cowok yang menguar dari jaket Arka. Wangi khas milik cowok itu.


Arka masih diam tanpa kata, tapi sudut bibirnya terangkat juga tanpa bisa dicegah.


Motor Arka berhenti di alamat Jln. Sudirman No.1. Cowok itu hanya melirik sekilas ke arah rumah dan kemudian memalingkan wajah menatap jalan. Gerbang rumah mewah itu terbuka lebar, menampilkan jajaran koleksi mobil bermerek yang bukan kaleng-kaleng. Maklum saja, pemiliknya adalah seorang pengusaha produsen mobil. Pasti suka sekali mengoleksi mobil mewah dan juga punya selera wanita yang tak tanggung-tanggung, fikir Arka gedeg sekali.


"Arka, tunggu sini dulu, ya. Rana mau ngecek dulu ada orang apa nggak," ucap Rana setelah turun dari motor Arka.


"Hm..." Arka membuang napas kasar, tetapi tentu tetap menyetujui permintaan gadis itu.


Rana mengembangkan senyum manisnya, kemudian berlalu memasuki area rumah papinya.


"Tumben. Papi gak kerja?" tanya Rana mendapati ayahnya tengah bersantai-santai nonton Tv dalam keadaan hanya mengenakan celana boxer, menampilkan dada bidangnya yang terlampau apik untuk ukuran duda pekerja kantoran.


"Loh, kamu gak sekolah, Ra?" Darren langsung bangkit dari posisi berbaringnya di sofa. Mendapati anaknya tiba-tiba sudah berada di rumahnya pada jam sepagi ini.


"Ooh ... oke, mumpung Papi lagi mager ini. Oh ya, kamu ke sini sama siapa? Pak Budi?"


"Temen," jawab Rana, terlihat antusias sekali dengan senyuman sumringahnya.


"Laki?" Darren menyipitkan kedua netranya yang memang sudah sipit.


"Hehehe," Rana malah meringis tersipu.


"Wah, hebat! Rana nya Papi udah dapet cowok baru. Papi pengen kenalan, Ra. Ganteng mana sama Papi?" tanyanya dengan kilatan menggoda.


"Dih! Ya gantengan Arka lah! Papi kan udah duda. Papi pengen kenalan?" tanyanya, tapi kemudian teringat sesuatu. "Eh iya-ya, Rana lupa, Arka kan masih di luar," ucap cewek itu mengetuk jidatnya pelan.


"Ya udah, suruh masuk aja."


"Em ... oke." Rana hendak berdiri dari duduknya, tapi kemudian tangannya ditahan oleh Darren.


"Chat aja, nanti biar Papi yang bukain pintu. Kamu ganti baju sana! Sekalian pake lip-lip biar tambah cantik," ucap Darren menampilkan senyumannya.

__ADS_1


"Yeay! Papi baik deh. Dah, Papiii!!" serunya sembari melambai-lambaikan tangan kemudian melenggang pergi.


Di depan rumah, masih dalam keadaan nangkring di atas motornya, Arka menyeka keringatnya yang bercucuran. Sudah berapa menit ini? Kenapa Rana lama sekali tak kunjung memberi kabar? Dan sejak kapan matahari pagi jadi sepanas ini?


Dredd..., tiba-tiba ponselnya bergetar. Ternyata notif pesan dari Rana. Sebelum membuka chat, cowok itu menyempatkan diri tersenyum melihat nama kontak Rana yang ... aneh. Padahal, ia sendiri yang membuat nama kontak itu.


Kembarannya Tante Cerewet


Masuk Ka!


Arka langsung membulatkan matanya. Jangan-jangan terjadi apa-apa dengan Rana, sampai-sampai cewek itu menyuruhnya segera masuk ke rumah si duda muda. Arka buru-buru turun dari motornya dan berlari menuju pintu rumah tetangga Dio itu.


Di dalam rumah, Darren yang teramat mager baru saja berdiri dari duduknya. Ia hendak melangkahkan kaki, tapi terjingkat melihat seorang cowok tiba-tiba berada di dalam rumahnya, berjalan dengan langkah panjang ke arahnya.


Bruak!


Tiba-tiba satu buah bogem tinjuan langsung melayang ke pipi kanan Darren, membuat pria itu jatuh kembali ke sofa.


"Heh! Lo apain Rana?!"


Bug!


Bug!


Bug!


Tanpa fikir panjang Arka terus memukuli pria yang sudah ia kunci posisinya itu. Berduaan di dalam rumah dengan Rana dalam keadaan tidak memakai baju seperti ini, mau berbuat apa ia pada Rana?


"Argh ..." Darren yang sudah terlanjur dikunci posisinya benar-benar tak bisa menghindar apalagi melawan.


"Mana Rana?! Kalo lo berani macem-macem sama dia gua pastiin lo bakal abis di tangan gua," ancam cowok itu memasang ancang-ancang bogeman tinjunya untuk pukulan yang lebih keras lagi.


"Arka!!" teriak Rana menggelegar, berdiri melongo di anak tangga rumah papinya. Cewek itu kemudian segera menghampiri Arka dan papinya yang sudah tumpuk-tumpukan seperti pisang goreng yang dijual di pinggir jalan.


Arka yang dipanggil, juga tercengang melihat kedatangan Rana. Kenapa jadi tambah cantik begini?


"Arka! Arka mau ngebunuh Papi Rana?!" Rana menarik tangan Arka agar segera pindah dari atas tubuh ayahnya yang sudah lebam-lebam biru tak terkira.


"Papi?" tanya Arka memastikan pendengarannya.

__ADS_1


__ADS_2