
Lagi-lagi, alih-alih menjawab Nada justru memilih membisu. Dan setelah menggeleng kepalanya pelan gadis itu melanjutkan langkah. Benar-benar tak mengindahkan keberadaan dan pertanyaan-pertanyaan mereka.
Melihat tingkah laku Nada, mereka hanya bisa saling bertukar pandang.
"Si Nada apa kesurupan, ya? Serem deh, gue liatnya," celetuk Dio menggeleng kepala heran saat Nada sudah berjalan menjauh dari mereka.
"Huss! Ngawur lo." Vira memelototi cowok berbadan gemuk itu.
"Nad!" panggil Rana sekali lagi. Nada habis dipanggil ke ruang guru. Entah mengapa, tapi feeling-nya mengatakan hal buruk akan terjadi.
"Rana, Vira, Rena, dan Dio, sebaiknya kalian masuk ke kelas saja! Jam pelajaran akan segera dimulai," titah Bu Irma tiba-tiba sudah tampil dengan wajah garang acuh tak acuhnya.
...💕...
"Nada tadi kenapa ya, Gaes, ya?" tanya Vira membuka perbincangan sembari meneruskan perjalanan mereka menuju parkiran.
"Iya. Gue juga heran," timpal Rena mengernyitkan dahi.
"Emm ... coba telpon Arsya deh, ya," usul Rana setelah berfikir sejenak.
"Oke, deh," ucap Dio segera melaksanakan permintaan Rana.
__ADS_1
Tut tuuut....
"Berdering, tapi gak diangkat, Ra," terang cowok gembul itu kemudian.
"Owh... gitu ya, Yo." Sembari berjalan Rana menundukkan kepala memandang lantai koridor yang terus dilangkahinya.
"Vir, coba lo entar tanya-tanya deh ke si Mala atau siapa kek. Anggota PRGSTB lo kan banyak tuh, kali aja mereka tau," Usul Rana. "Gak mungkin Nada sama Arsya dipanggil ke ruang guru tanpa alasan," lanjut gadis itu.
"Oke, siip! Oh ya, Rey, lo balik dianter sama si Andra?"
"Hm," jawab Rena singkat.
"Ciee ... yang makin deket aja nih, yaa ...," ledek Vira.
"Heh! Lu ma apaan dibandingin sama si Andra?! Andra mah udah pinter, rajin, ganteng, punya kendis pula. Lah elu?!" cecar Vira memajang wajah sewotnya.
"Elah, menghina aja kerjaan lo, Vir," sungut Dio memanyunkan bibirnya pura-pura merajuk.
"Heh! Menghina apanya? Gue kan, cuma nanya, Gentong!" cerocos Vira semakin menjadi-jadi.
"Heh, udah, udah, Vir. Gini-gini entar kalo Dio ngambek terus gak mau nganterin lo, lo sendiri loh yang repot," Rena mendamaikan.
__ADS_1
"Tuh, Vir! Dengerin! Gini-gini lo bergantung lho, sama gue," ucap Dio songong.
"Iya ... iyaa ....!! Maap, Dioo ...," ucap Vira akhirnya mengalah juga. Tak lupa pula dengan wajah super terpaksanya.
"Nah ... gitu dong. Hehehe," Dio nyengir.
Setelah sampai di parkiran, pandangan Rana bertemu dengan seseorang. Tapi kemudian ia memalingkan wajah malas. Cowok itu baru saja berdiri dari posisi bersandar-nya pada sebuah mobil yang dibawanya tadi pagi. Ah, betapa sebal Rana pada cowok itu. Tetapi ia benar-benar tak bisa untuk tak mengacuhkannya.
"Ayo, Yo! Let's go!" seru Vira segera ngacir diikuti Dio dibelakangnya. Mana mau ia ikut campur masalah hubungan Rana dan Arka. Melihat tatapan tajam Arka saja, ia bisa langsung mengkeret.
Rana menghela napas panjang. Ya, mau tidak mau ia tidak bisa menghindar Arka. Gadis itu kemudian berjalan ke arah di mana Arka berdiri memandanginya di sana.
"Ra, aku minta maaf," ungkap Arka setelah Rana memberhentikan langkah tepat di hadapannya.
Rana terdiam sejenak. Batinnya sedang meronta-ronta ingin sekali menjambak-jambak rambut Arka.
"Kenapa minta maaf? Emang salah kamu apa?" tanya gadis itu kemudian. Sedikit lebih ketus dari pada biasanya.
Arka semakin dibuat bingung oleh pertanyaan Rana. Apalagi, kini semua orang lagi-lagi sedang mempertontonkan mereka.
"Aku minta maaf karena ...."
__ADS_1
"Udah yuk, Ka. Aku pengen pulang. Capek," potong Rana acuh tak acuh, sembari membuka pintu mobil dan segera masuk saja. Membiarkan Arka yang masih terpaku di sana.