The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Permohonan


__ADS_3

Di sebuah tempat yang sepi, seorang cowok duduk bersandar dengan satu kaki berselonjor dan satunya lagi ia lipat sebagai tumpuan bantuan. Dihisapnya sepuntung rokok di tangannya. Merasakan setiap perih yang menggelayuti sekujur tubuhnya.


"He, bro!" sapa seorang cowok lagi, duduk di samping cowok itu.


"Hey, Sya! Gue kira lo gak bakal dateng," ucap Daniel membuang puntung rokoknya begitu saja.


"Kok di buang? Masih panjang gitu," ujar Arsya, justru menarik sepuntung rokok dari kantong ajaibnya.


"Dikit aja. Mau belajar berenti. Lo dari sekolah?" tanya Daniel memperhatikan penampilan Arsya yang masih lengkap dengan seragam putih abu-abunya.


Arsya hanya menjawab dengan gerakan alis, sembari menghisap rokoknya nikmat.


"Bolos lo?"


"Dari pada gak sekolah sama sekali. Lemah lo, tawuran dikit doang kok udah loyo," ucap Arsya sok menaik-turunkan kedua alisnya songong.


"Hhh,,, bukan tawurannya yang bikin loyo, bro."


"Terus apanya? Rana?" tebak Arsya tepat sasaran.


"Iya, dia gak mau balikan. Katanya udah gak punya perasaan," ucap Daniel menatap lurus dengan ekspresi datar.


"Terus, jadinya gimana? Gue kira kalian balikan." Sembari menikmati rokoknya, Arsya menanggapi cerita Daniel, teman SMP-nya ini.


"Gue gak rela, tapi kalau pengen tetep ada di samping Rana, tetep bisa jagain dia, gue harus jadi temennya. Cuma temen, gak bisa lebih, sampai dia bersedia ngasih kesempatan lagi buat gue."


"Hhh,,, gue salut sama lo."


Daniel menoleh pada Arsya.


"Lo berani berjuang buat orang yang lo sayang nggak kayak gue, lakiknya cuma pas tawuran doang. Kalau soal hati gue pengecut. Tinggal bilang suka aja gak berani," kekeh Arsya menertawai kebodohannya.


"Nada?" tebak Daniel tanpa basa-basi.


Arsya hanya tersenyum menanggapi.


"Yaelah, dari SMP gitu-gitu aja lo, Sya. Gak ada perkembangan sama sekali." Daniel turut terkekeh.


...💕...


Parkiran SMA Tunas Bangsa_ Pulang sekolah


"Hari ini Raja bakal ngajak kita jalan-jalan!" seru Vira bersemangat saat keempat sejoli itu sampai di tempat mobil Rena diparkirakan.


"Kemana?" Rena langsung bertanya.

__ADS_1


"Hehehe, gak tau," prenges Vira. "Intinya tadi pas istirahat dia bilang ke gue mau ngajak kita jalan-jalan abis pulang sekolah," jelas Vira menggebu-gebu.


"Abis pulang sekolah?" tanya Rana dengan sebuah ponsel di tangannya.


"Iya, kalian lagi gak ada planing kan?" tanya Vira, menyipitkan mata.


Rena menggeleng pelan, menyunggingkan senyum setipis mungkin.


"Emm... enggak sih," ucap Nada sebagai tanda setuju.


"Lo, Ra?" tanya Vira pada Rana.


"Emm... kayaknya kali ini gue gak bisa ikut deh, grils."


"Yaah... gak seru banget lu, Ra," sungut Vira memanyunkan bibirnya.


"Eh, tuh mereka," ucap Rena menunjuk empat orang cowok yang tengah berjalan mendekati mereka.


"Gimana, Vir? Lagi kosong, kan?" tanya Raja, setelah dekat dengan tempat mobilnya terparkir.


"Semua lagi kosong. Rana tuh, sok sibuk dia," adu Vira seperti gaya merajuknya anak kecil.


Raja langsung menoleh pada Rana, menaikkan kedua alisnya sebagai isyarat tanda tanya.


"Hehehe, sorry, Ja. Kalau sekarang gue lagi ada planing, nih. Gue ngikutnya lain kali aja, ya."


"Eh, nggak lah, baru aja putus kemarin," ucap Rana sembari berlirik-lirikan dengan Vira. Dalam hati menahan rasa ingin ketawa.


"Ellah, Ra, cewek secantik lo mah, baru putus semenit aja udah banyak yang ngantri pasti," ucap Dava jujur sekali. Di sampingnya, Raja langsung melirik tajam ke arahnya.


"Lah, tuh Tante Sarah udah jemput gue," ucap Rana menunjuk sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki pelataran SMA Tunas Bangsa.


"Tante Sarah mama tirinya Arka?" Raja spontan bertanya.


"Iya," jawab Rana tersenyum sembari manggut-manggut senang, kemudian melambai-lambai kan kedua tangan pada Tante Sarah.


"Tante! Di sini, Tan!" teriaknya cempreng membuat semuanya spontan menutup telinga was-was saja kalau gendang telinga mereka rusak total akibat teriakan barusan.


Tiit! Tiiiiit! Disusul suara nyaring klakson mobil milik tante Sarah yang langsung mengemudi mobilnya menghampiri Rana.


"Ciee... iya bener, gak jalan sama cowok, ternyata udah main PDKT sama camer aja nih Ngatiyem," olok Vira menyikut lengan Rana.


"Udahlah, repot berurusan sama Queen of ghosipping group. Daah!" ujar Rana kemudian berlari dan masuk ke dalam mobil tante Sarah.


Vira, Nada, dan Rena geleng-geleng saja menyaksikan ke pecicilan Rana. Sedang Raja dan teman-temannya, tentu tak suka dengan kedekatan Rana dan ibu tiri Arka.

__ADS_1


"Tante pinjem Rananya dulu ya," ucap Sarah memunculkan kepala dari jendela mobil.


"Iya, Tan. Gak usah dibalikin juga gak papa kok," sahut Vira tersenyum ramah.


"Daah!"


Mobil Sarah pun berlalu, meninggalkan teman-teman Rana dengan semua tanda tanyanya. Kapan PDKT nya? Kok udah main deket aja sama camer?


...💕...


Di sebuah restaurant dengan sajian nya yang mahal, Sarah dan Rana menikmati makan siang mereka, sembari bercerita tentang beberapa hal.


"Ra, kemarin itu sebenernya ada kejadian apa sih? Kok Arka sampai pulang malem bonyok-bonyok gitu. Kamu tau gak?" tanya Sarah setelah cukup lama bercerita panjang lebar.


"Emm... Rana jadi merasa bersalah, Tante," setelah menelan makanannya perlahan.


"Merasa bersalah kenapa?" Sarah tak paham.


"Kemarin itu anak SMA Tunas Bangsa sama SMK Karya Nusantara pada tawuran. Padahal cuma gara-gara aku," terang Rana penuh penyesalan, kemudian menghela nafas lemas.


"Tawuran? Gara-gara kamu? Maksud kamu?" Tante Sarah semakin tak paham.


"Iya. Tante tau kan, yang aku mutusin pacar aku gara-gara ketauan selingkuh?"


"Emm... iya, inget. Waktu di kafe itu, kan?"


"Iya, setelah kejadian itu dia dateng ke sekolah kita sama temen-temennya, mau ketemu sama aku, Tan."


"Terus kalian ketemu?"


"Enggak, Arka yang ngalangin dia buat masuk dan nemuin aku. Sampai boong segala kalau Mami nitipin aku ke dia."


Sarah manggut-manggut saja menyimak cerita Rana.


"Tapi gak cuma sampai di situ, Tan. Kemarin ini Daniel dateng lagi. Bawa pasukan lebih banyak dan bawa senjata segala. Dalam keadaan mabuk, dia nyerang SMA kita. Jadi, Arka dan anak-anak gak punya pilihan lain selain ngadepin mereka," jelas Rana sebenar-benarnya.


"Ooh... jadi gitu ceritanya. Arka sama sekali gak nyeritain ini semua ke Om Rangga dan Tante. Kemarin dia pulang larut malem. Udah pulang dalam keadaan bonyok-bonyok, di rumah dia masih dihajar papanya habis-habisan." Sarah kemudian menghela nafas. Betapa kerasnya Mas Rangga terhadap anak semata wayangnya.


"Om Rangga ngehajar Arka, Tan? Kok bisa?" tanya Rana dengan mata membulat tak percaya.


"Mas Rangga ngasih hukuman ke dia karena Mas Rangga tau dia terlibat tawuran antar sekolah itu. Mas Rangga orang yang disiplin dan keras. Ternyata hukuman kekerasan kayak gitu udah sering dialami Arka sejak kecil. Tante gak setuju, makanya Tante pangen ketemu kamu hari ini."


"Aku? Kenapa, Tan?" tanya Rana tak paham. Cukup terkejut mendengar kisah hidup Arka yang sama sekali tak indah. Ditinggal seorang ibu sejak kecil, ditambah seorang ayah yang keras. Pantas saja Arka memiliki watak seperti itu. Dingin dan tanpa rasa kasihan. Juga sebuah kesepian yang panjang. Pasti membuatnya selalu merasa sendirian.


"Ternyata Mas Rangga udah tau kalau selama ini Arka gak pernah menghargai Tante sebagai mama tirinya. Aku minta mas Rangga buat ngubah cara dia mendidik Arka. Dia bersedia, dengan syarat, Arka harus nerima aku seperti yang seharusnya."

__ADS_1


Sarah menyentuh tangan kiri Rana. "Tante minta tolong sama kamu karena Tante percaya kamu bisa ngubah pola fikir Arka yang keras. Tante cuma pengen dia bisa bahagia lagi kayak dulu. Bisa nerima Tante seperti dia sayang sama mamanya dulu. Tante gak bisa punya anak, Ra, kalau Arka aja gak mau ngakuin Tante sebagai mamanya, terus apa peran Tante sebagai wanita?" ucap Sarah getir.


Tangan kanan Rana lalu mengelus punggung tangan tante Sarah. " Rana coba, Tan, tapi Rana gak bisa janji," ucapnya tersenyum tulus.


__ADS_2