The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ada Yang Lebih Licik


__ADS_3

Vira mengoleskan liptint-nya semerah mungkin. Ditatapnya tampilannya dari pantulan cermin. Sepatu high heels mengkilap, gaun berwarna merah di atas lutut tanpa lengan, rambut terurai dengan sedikit dijepit di sampingnya. Make up-nya? Ah, semuanya sudah sempurna.


Gadis itu lantas menyerobot tas cantiknya dan melangkahkan kaki keluar kamar bersegera. Papah dan mamah sedang sibuk di restoran. Jadi, ini adalah kesempatan emas baginya. Tidak peduli bahwa besok ujian masih berlangsung. Intinya, ia sedang frustasi dan ingin mencari hiburan. Jadi ia menerima ajakan Reza untuk keluar malam ini.


"Loh, Non Vira mau ke mana?" tanya Mang Ono menatap majikannya dari atas hingga bawah dengan ekspresi terheran-heran.


"Vira mau ngambil buku di rumah temen Vira, Mang. Buat belajar ujian besok," dusta Vira dengan senyum manisnya.


"Yakin, Non, mau ke rumah temen tampil kayak begini?" tanya Mang Ono begitu polosnya.


"Ya iyalah, Mang. Kalau gak cantik, bukan Vira namanya," sahut Vira mengibaskan rambut indahnya.


"Owh ... gitu ya, Non?"


"Iya, Mang. Ya udah, gih, Mang, buka gerbangnya," titah cewek itu menunjuk gerbang rumahnya yang setia mengurungnya selama ini.


Mang Ono yang mendengar perintah majikannya hanya bisa manggut-manggut dan menurutinya tanpa banyak basa-basi lagi.


"Thank you ferry much, Mang Ono," ujar Vira sumringah, kemudian melangkahkan kakinya hingga keluar dari area pelataran rumahnya. Tangannya lantas membuka ponselnya untuk memeriksa pesan terbaru dari Reza. Tapi tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.


Pintu mobil itu terbuka. Vira langsung memalingkan wajahnya walaupun dengan dada yang bergemuruh meletup-letup. Sepertinya, ia tidak akan pernah bisa move on dari cowok itu.


"Virb...." Zein mengamati penampilan Vira dari atas hingga bawah. "Mau ke mana malem-malem begini?"


"Emang urusan Kak Zein, ya?" respon Vira judes sekali. Mana mungkin ia lupa dengan adegan dimana pipi Kak Zein dicium oleh pacarnya. Bayangkan! Siapa yang tidak sakit dipanas-panasi seperti itu.


Zein menghela napas. "Emang bukan. Tapi kamu fikir, memangnya papah-mamah kamu gak bakal marah kalau kamu keluar malam-malam dengan pakaian begini?"


"Huh!" Vira jadi sebal sendiri. "Kak Zein masuk aja ke rumah gih! Sana urusin pacar Kak Zein aja!" suruhnya kemudian memalingkan wajah lagi.


Zein menghela napas. "Pergi sama siapa?" tanyanya kemudian.


"Bukan urusan Kak Zein," ingat Vira sekali lagi.


"Ya udah, terserah." Zein menyerah dengan Vira yang keras kepala. "Tapi inget, jangan pulang malem-malem banget," nasihat cowok itu sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil dan berlalu menuju rumahnya.


"Nyenyenyeb ...." Vira memutar bola matanya malas. "Udah punya cewek, sibuk aja ngurusin anak tetangga," dumelnya walau ada sedikit penyesalan kenapa Kak Zein tak melarangnya lebih keras lagi. Setidaknya, itu memberikan imajinasi kepada otaknya untuk menganggap Kak Zein sedang cemburu.


Tiba-tiba terdengar suara klakson berbunyi, disusul sebuah mobil Alphard yang berhenti tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Ayo, Vir!" ajak Reza yang kala itu roofcar-nya tengah terbuka. Menampilkan wajah tampannya yang tersenyum bersemangat.


"Okay!" seru Vira kemudian masuk ke dalam mobil Reza.


"Gak belajar, Za? Sekolah kamu lagi ujian juga, kan?" tanyanya setelah duduk di samping Reza.


"Have fun aja kali, Vir. Murid berpartisipasi mah bebas!"


...💕...


Mang Ono melirik jam dinding di poskonya gusar. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, tapi majikannya, Non Vira, belum pulang juga. Tuan dan Nyonya memang belum pulang ke rumah, tapi andaikan beliau-beliau tahu, pasti ia yang mendapat marah besar. Alhasil, Mang Ono segera melangkahkan kaki menuju rumah tetangga majikannya, dokter muda yang sudah dianggap seperti keluarga oleh Pak Dharma.


"Mas Zein," ujar Mang Ono tepat setelah pintu rumah itu terbuka.


"Ada apa, Mang Ono?" tanya cowok yang mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam itu. Ia sedikit mengernyit. Ada apa penjaga rumah tetangganya mengetuk pintunya di jam selarut ini? Untungnya, kebetulan ia sedang lembur dengan pekerjaannya.


"Non Vira belum pulang, Mas. Saya jadi khawatir."


"Belum pulang, Mang?" Alis Zein langsung tertaut dibuatnya. "Perginya sama siapa?" tanyanya lagi.


"Emm ...." Mang Ono terlihat berfikir. "... Ya cowok gitu, Mas. Saya gak tahu namanya."


"Plat mobilnya inget gak, Mang?"


Setelah mendengar penuturan Mang Ono, Zein langsung menyerobot jaket levis dan kemudian mengenakannya cepat.


"Ya udah, Mang Ono serahin aja semuanya sama saya," ucapnya kemudian mengambil kunci mobil dan bersegera melangkahkan kaki ke mobilnya.


...💕...


Musik Dj diputar dengan asyiknya. Muda-mudi di ruangan itu menari-nari riang melepaskan frustasi dan kepenatan yang ada. Hidup hanya sekali, maka hura-hura adalah pilihan yang tepat sekali. Begitu fikir mereka.


"Vir!" panggung Reza di tengah hiruk-pikuk musik yang memekakkan telinga. Keduanya kini tengah menari-nari riang di tengah kerumunan.


"Ya?!" Vira ikut mengeraskan suaranya.


"Kamu cantik."


"Apa?!" Vira mengernyit, tak terlalu mendengar ucapan Reza.

__ADS_1


"Kamu gak capek?!" tanya Reza mengalihkan.


"Iya nih, capek. Berenti dulu, yuk!"


"Ayok!" Reza lantas menggandeng Vira dan membawanya duduk di salah satu sofa yang terletak agak jauh di sana.


"Kamu tunggu di sini. Biar aku yang pesenin minumannya," ucap Reza kemudian.


"Oke," ujar Vira, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menyempatkan diri membalas pesan-pesan dari jajaran buaya peliharaannya.


"Udah jam segini, Vir. Gak dimarahin sama orang tua kamu?" tanya Reza setelah duduk kembali di sebelah Vira.


Vira langsung menaruh kembali ponselnya lincah. Was-was saja kalau ketahuan player-nya.


"Eh, iya nih. Gak sadar udah jam segini."


"Ya udah, abis ini aku anterin. Tapi minum aja dulu. Tuh, minumannya udah dateng," kata Reza menunjuk seorang bartender yang berjalan ke arah mereka.


"Siap." Vira tersenyum dan mengangguk. Bersamaan dengan itu, dua gelas minuman pun disajikan di hadapan mereka.


"Tos, Vir," ajak Reza setelah mengambil salah satu gelas.


"Tos!" seru Vira kemudian menyejajarkan gelasnya dan gelas Reza.


Dredd ... dredd ....


"Eh, sorry, Vir. Aku angkat telfon dulu, ya," ucap Reza kemudian bersegera berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Vira.


Seperginya Reza guna mengangkat telfon, Vira menatap minumannya dan minuman Reza bergantian. Ia tidak percaya pada cowok mana pun, termasuk Reza. Dengan was-was, ia menukarkan minumannya dengan minuman cowok itu.


"Naah ... kalau gini kan, gue tenang," ujarnya lantas meneguk minuman itu. Menghilangkan haus yang semendari tadi mencekik lehernya.


"Oke, Bos. Dua-duanya udah gue kasih obat," ujar cowok itu dengan sebuah ponsel di samping indra pendengarnya.


"Bos tinggal nunggu aja di situ. Serahin aja semuanya ke gue," lanjutnya, kemudian menutup saluran telepon dan melangkahkan kembali kakinya ke salah satu sofa di mana Vira berada. Dilihatnya gadis itu sudah menyandar di sandaran sofa dengan mata yang hampir terlelap.


"Za, ayo pulang. Gue ngantuk," gumam Vira tak terlalu jelas.


"Iya ... abis ini gue anterin lo." Reza bersedekap dada mengamati cewek itu, tapi kemudian deringan sebuah ponsel mengalihkan atensinya. Diambilnya ponsel Vira acuh tak acuh. Sebuah telpon dari seorang cowok.

__ADS_1


"Siapa nih, Vir? Cowok lo yang ke berapa?" tanya cowok itu walau tahu Vira sudah benar-benar terlelap.


"Elo emang pantas sih ... buat dapetin semua ini," ucapnya lagi, kemudian menekan tombol power ponsel Vira lama. Mematikan dayanya.


__ADS_2