The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Pahatan Sempurna


__ADS_3

"Siapa?" tanya Nada segera.


"Arsya. Mau resek lagi dia, ya?" ucap Vira.


"Bukan lah, Vir. Orang kemaren tu bocah nganterin Nada pulang kok. Paling-paling sekarang mau start PDKT," ucap Rena tersenyum jahil pada Nada.


"Apaan sih, Reey...," elak Nada.


"Paagi, Nadaa!" sapa Arsya lengkap dengan senyum lebarnya, tanpa aba-aba langsung saja duduk di samping cewek yang ia sapa.


Nada menoleh pada cowok di sampingnya, tersenyum singkat dengan kesan seolah terpaksa melakukannya, kemudian kembali fokus dengan makanannya.


"Heh, Kutu Kupret!! Mata lo udah buta, ya?! Perasaan di sini gak cuma ada Nada. Gue, Rena, Rana, gak lu sapa juga?" omel Vira sensitif sekali kalau sudah melihat Arsya.


"Iya, Vir, gue buta...." Cowok itu kemudian menelengkan kepalanya memandang Nada, menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan. "... Buta akan cinta," ucapnya kemudian.


"Buset! Heran gue, kenapa tiba-tiba semua orang jadi bucin berlebihan begini?!" protes Vira lagi.


"Sewot lu, Vir," ucap Arsya, sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari Nada yang bisa-bisanya terlihat sama sekali tak terganggu dengan tingkahnya. Pintar sekali mengatur ekspresi agar tak terlihat salah tingkah.


"Sya!"


Jedug!


Rana dengan watadosnya (Wajah tanpa dosa), menarik tangan Arsya yang sedang dijadikan tumpuan, menyebabkan wajah tampan Arsya terjembab ke meja.


"An**r!!" umpat Arsya memegangi bagian kepalanya yang terkena musibah gara-gara ulah sembrono Rana.


Sudut bibir Nada terangkat juga menyaksikan keapesan yang dialami Arsya. Pasti rasanya sakit sekali. Dilihat banyak orang lagi.


Arsya hendak mengumpat lagi, tapi melihat senyuman yang terbit di bibir Nada, bibirnya malah ikut tersenyum juga. Saling bertukar pandang dengan cewek yang disukainya itu.


"Arsya!!" panggil Rana lagi lengkap dengan suara cemprengnya. Sebal sekali karena merasa tak ditanggapi.


Arsya menghela napasnya, kemudian mengangkat kepalanya yang semendari tadi masih terkapar di meja, ngenes sekali.


"Apa sih, Raa ...?" tanya cowok itu, berusaha menjadi sosok yang penyabar.


"Arka gak ke tongkrongan?" tanya Rana tersenyum ceria tanpa dosa.


"Gak," jawab Arsya singkat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Males, soalnya ada elu," jawab Arsya acuh tak acuh, kemudian tak sungkan-sungkan meraih minuman Nada dan menyeruputnya.


"Arsya!"


Plak! Satu ayunan tangan Nada langsung saja melipir di bahu cowok itu.


"Hehehe. Aus, Nad," ucapnya meringis pada Nada yang tengah membulatkan matanya.


"Dih, jahat banget lu, Sya! Terus sekarang Arkanya dimana?" tanya Rana lagi. Maju tak gentar membela yang benar.


"Di kelas. Lagi bobok dia. Lo jangan coba-coba ngeganggu. Entar kalo lo dimakan, gue ogah tanggung jawab."


"Tapi gue mau dimakan," ucap Rana segera berdiri dari duduknya dan berlalu riang meninggalkan teman-temannya.


"Yang bener aje? Dah gila temen lo, Vir," ucap Arsya keheranan.


"Sama-sama orang gila sewot lu!"


...💕...


Sesampainya di kelas Arka, Rana tak langsung melangkah memasuki kelas itu. Terlebih dahulu ia memastikan kebenaran dari informasi yang Arsya berikan. Dan setelah dia melongokkan kepala ke dalam kelas, ternyata ucapan Arsya benar.


Sama seperti tadi pagi, saat ini Arka juga sedang sendiri. Bedanya, kalau tadi pagi ia tengah sibuk dengan pena dan bukunya, maka saat ini cowok berdindingkan hati tembok besi itu tengah sibuk dengan mimpinya.


Senyum cewek mungil itu semakin mengembang kegirangan, ingin rasanya ia meloncat-loncat menyanyikan lagu kebangsaan, eh, maksudnya lagu kebahagiaan, mendapati cowok yang ia suka dalam tidurnya menggenggam kertas yang ia beri kemarin. Tapi tentu saja Rana mengurungkan niatnya. Memilih duduk diam saja mengamati wajah Arka yang tetap tampan walau dalam keadaan tertidur pulas.


Belum puas memandangi wajah Arka dalam diam, cewek itu kini mulai mengukirkan wajah Arka di buku milik cowok itu. Menikmati setiap goresan penanya dalam menggambar detail wajah yang sangking tampannya, bak pahatan sempurna yang tanpa cela.


Kring....


Bel berbunyi. Rana segera bangkit dari duduknya, bersegera menulis kata pelengkap karyanya dan berlalu begitu saja sebab tak mau Arka mendapati kehadirannya yang ternyata sudah semendari tadi.


Arka mengerjap-ngerjap perlahan, membuka matanya setelah cukup lama menikmati waktu tidurnya.


"Baru bangun lo, Ka?" Kibo datang menghampiri cowok itu.


Arka tak menghiraukan pertanyaan Kibo. Perhatiannya justru terpusat pada sebuah gambaran yang terbuka begitu saja di hadapannya, menampilkan dirinya sebagai objek dari karya itu. Dibacanya sebuah tulisan tangan di bawahnya "Gabut, Ka. Numpang coret, yaaa..."


"Bo, tadi Rana ke sini, ya?" Entah apa yang dipikirkan cowok itu, tapi tebakannya langsung tertuju pada Rana, cewek aneh yang akhir-akhir ini membuat resah hatinya semakin memuncak.


"Emm ...." Kibo terlihat sedang berfikir keras, "Gak tau," jawabnya pada akhirnya. Singkat, padat, dan gak jelas.


Arka membuang napas kasar, segera berdiri dari duduknya dan dengan langkah panjang berjalan ke arah pintu kelas. Sesampai di pintu kelas, cowok itu justru menghentikan langkahnya dan mengacak-acak rambutnya frustasi. Bu Irma sedang berjalan menuju ke kelasnya. Pandangannya tertuju pada kertas di tangannya, kemudian beralih pada tong sampah yang terletak di samping pintu. Kosong. Pasti isinya sudah dibuang ke tempat sampah sekolah.

__ADS_1


"Bo! Izinin gue dulu, ya!" ucapnya bersegera, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Kibo yang hanya bisa menatap keheranan dengan mulut menganga.


...💕...


Pelajaran terakhir sudah berlalu. Seluruh murid di kelas itu segera berkemas memasukkan buku-buku pelajarannya.


"Halo, Yo?" sapa Vira baru saja mendapatkan telfon dari salah satu buaya jantan peliharaannya.


"Iya-iya, Ayang, abis ini aku langsung ke situ kok. Kamu tunggu aja," ucap Vira sembari berkode-kode ria pada teman-temannya yang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Iya, Yang. Muach," ucapnya kemudian mengakhiri telfon.


"Siapa, Vir?" Rena rajin sekali bertanya.


"Rio."


"Gila, siapa lagi tuh, Vir?" Rana heboh sendiri, seperti tak tahu saja hobi sahabatnya ini.


"Biasalah. Ya udah ya, grils, gue cabut dulu. Udah ditungguin, gue," pamit Vira kemudian berlalu begitu saja hendak menemui Rio.


"Huh, dasar!" Rena geleng-geleng kepala.


"Iyaa ... Halo, Papii!" sapa Rana ceria sekali. Baru saja mengangkat telfonnya yang beberapa detik lalu hendak menyanyikan lagu Gundul-gundul Pacul andalannya.


"Pulang dijemput Papi Darren, kamu, Ra?" tanya Nada.


"Iya. Hehehe,,, lo mau berduaan sama Arsya lagi kan, Nad?" tanya Rana kok polos sekali.


Nada hanya memanyunkan bibirnya sekilas. Acuh tak acuh fokus saja mengemasi buku.


"Ya udah ya, guys, gue OTW ke rumah Papi dulu," pamit Rana kemudian dengan riang berlari-lari kecil keluar dari kelas.


"Elah, sekarang tinggal kita berdua, Nad," ucap Rena, seraya mengenakan tasnya.


"Iya," ucap Nada, juga mengenakan tasnya.


"Yaa ... paling-paling abis ini lo balik sama Arsya lagi. Gue liat-liat kalian tuh udah serasi banget deh."


"Apa sih, Rey...." Nada masih terus mengelak.


"Nad!" panggil seorang cewek dari arah pintu masuk ke kelas.


Nada dan Rena segera menoleh ke arah sumber suara.


"Kata Bu Irma, lo disuruh ngerapiin perpustakaan sekolah," ucap Bella, masih berdiri di ambang pintu kelas.

__ADS_1


__ADS_2