
Kejadian menghawatirkan yang sama sekali jauh dari rencana cewek itu. Ketakutan yang menyesakkan dadanya beberapa waktu lalu. Untung saja semua sudah terlewatkan. Bergantikan dengan Arka yang sekarang sedang duduk menyandar dengan peluh di keningnya. Diberi pertolongan pertama di sebuah ruang rumah sakit terdekat dari tempat kejadian. Beruntung, nyawa cowok itu selamat. Tak kurang satu apa pun. Andai kata tidak, mungkin Rana adalah orang pertama yang akan menangis darah menyesali hidupnya.
"Arka, maafin Rana. Semua ini gara-gara Rana," ucapnya terduduk merasa bersalah. Andai ia tak nekat mencampuri pertemuan Arka dan Daniel, pasti tak akan ada kejadian seperti ini.
Arka tersenyum, menoleh pada Rana, kemudian melemparkan senyum pula pada Daniel yang berdiri tak jauh darinya. Setelah membalas senyum Arka, mantan kekasih Rana itu lantas melangkah keluar dari ruangan. Tahu pasti apa yang seharusnya ia lakukan.
"Gak Papa." Arka menegakkan duduknya, kemudian mendekap kepala Rana mendekat ke arah tubuhnya. Mengelus kepala gadis itu berusaha menenangkan hatinya sendiri; bahwa Rana masih ada di sampingnya dan tak akan pergi kemana-mana.
Diperlakukan seperti ini, Rana yang duduk di samping Arka menurut saja, walau ia menyadari kini teman-teman setongkrongan Arka tengah mengintip dari jendela. Terserah mereka, Rana hanya peduli pada keadaan Arka.
Ya, mereka hanya mengintip di jendela. Bukannya mereka tak peduli pada Arka. Tapi hiruk-pikuk anak muda memang seperti ini. Dan mereka tahu, kalau Arka akan baik-baik saja. Toh, cowok itu lebih kuat dari kelihatannya.
"Lain kali, kalau kemana-mana jangan sendirian lagi," ucap cowok itu lagi, masih mendekap kepala Rana.
Dalam dekapan Arka, Rana hanya mengangguk-anggukkan kepala penurut.
"Luka Arka sakit banget?" tanya cewek itu menarik kepalanya dari dekapan Arka. Ia masih khawatir dengan keadaan cowok itu.
__ADS_1
"Udah gak papa," tegas Arka menarik kepala Rana lagi ke dalam dekapannya.
"Oh ... iya." Rana mendongak melihat wajah Arka, tapi kemudian malah salfok sendiri dengan jakun cowok itu. Gila! Meruntuhkan iman banget ini mah..., batinnya meneguk saliva paksa.
"Kenapa, Ra?" Tapi pertanyaan Arka segera menyadarkan cewek itu.
"Ee ... eee .... Rana beli makanan dulu ya, Ka." Rana segera melepaskan diri dari dekapan Arka. "Arka pasti laper," ucapnya lagi, meringis janggal sekali.
"Oh ... ya udah. Oh ya, gue pengen bicara sama Daniel ...."
"Cuma mau bilang makasih aja," jawab Arka melengkungkan senyumnya.
"Beneran?" tanya Rana sekali lagi.
"Iyaa ..."
"Emm ... oke."
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan dan menutup pintu, Rana meregangkan otot-otot tubuhnya di depan pintu. Fiuh, ternyata dipeluk capek juga, ya, batinnya.
"Widiih ... pegel, Ra? Baru aja dipeluk," ledek Arsya resek sekali, kemudian disambut tawa oleh yang lainnya.
"Heh, gue laporin ke Nada lo, ya!" ancam Rana berkacak pinggang.
"Eh, ampun Ibu Negara. Kalau macem-macem bisa abis gue sama Arka," kelakar cowok itu semakin menjadi. Sedang di sampingnya, Daniel hanya bisa tersenyum tipis. Lebih tepatnya, tersenyum memaksakan.
"Bodo! Eh, Nil, dipanggil sama Arka."
"Ciee ... sekarang manggilnya Nil, Nil. Jangan kalo dulu, 'Nieel, Nieel!" Pintar sekali Arsya menirukan gaya cewek manja.
Rana yang sudah di ambang batas kesabaran, tak perlu pikir panjang langsung melepas sandalnya dan melemparkannya pada Arsya sebal sekali.
Bugh!
Yeah, untung tidak meleset.
__ADS_1