
Semua orang memusatkan perhatian pada kedua remaja itu, tak terkecuali Arka. Cowok itu berdiri dari duduknya. Tangannya mengepal, pun dengan urat-uratnya yang keluar. Mata elangnya kini beradu pandang dengan manik mata lentik gadis itu. Penasaran, apa yang akan dikatakan Rana.
Rana masih geming. Kedua tangannya yang digenggam oleh Raja sedikit bergetar. Bukan ini yang ia harapkan. Sedangkan cowok itu menatapnya tanpa ekspresi, ia sendiri bingung harus berbuat apa.
Ingga melangkah maju, berdiri di depan Arka. Sebelum cowok itu sempat merespon keberadaannya, Ingga segera berjinjit dan mengecup hidung Arka cepat.
Cup ...
Arka tersentak, langsung mengalihkan pandangannya pada Ingga.
"Hadiah untuk kejuaraan kamu," lirih Ingga tersenyum.
Rana segera memalingkan wajahnya. Memejamkan matanya sejenak, sakit sekali.
"Ra," ujar Raja, sebab gadis itu terlalu lama membuatnya menunggu.
Rana menghembuskan napasnya pelan, kemudian beralih pada Raja lagi. "Ya, aku mau," ucap gadis itu, disusul sorak-sorak semua orang.
Raja mengecup punggung tangan Rana, lalu berdiri dari posisi berlututnya. Cowok itu merangkul pundak gadisnya. "Makasih, Ra," bisiknya.
Rana tersenyum membalas ucapan Raja. Bersamaan dengan itu, manik mata gadis itu menyisir segala penjuru. Mencari Arka yang tiba-tiba sudah tidak ada ditempatnya. Entah kemana.
...💕...
Malam ini bulan sepertinya sedang malu-malu untuk muncul. Menyisakan jejeran gemintang yang indah dan mempesona. Kalau saja bulan ada, mungkin ia tak akan menyadarinya; bahwa bintang bisa lebih indah dari bulan purnama sekalipun.
Ingga menatapi langit itu dibalik jendela kamarnya. Raut wajah gadis itu tak terlihat angkuh seperti biasanya. Murung dan sendu. Esok libur. Esok-esoknya juga. Masih ada 14 hari sebelum ia benar-benar memulai sekolahnya. Dan hari ini begitu melelahkan. Benar kata ibunya. Balas dendam memang menyiksa batin. Tapi, bagaimana ia bisa melepaskannya? Itu sama sekali tak mudah.
Ingga menghala napas kasar. Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Tapi, tepat setelah ia telah membaringkan dirinya di balik selimut, suara tangisan bayi pecah begitu saja. Membuat ia memejamkan mata tak tahan.
Tok tok tok!
__ADS_1
Suara ketokan pintu semakin membuatnya terganggu. Disusul suara decit pintu yang dibuka tanpa perizinan darinya.
"Non, Den Erlan rewel, Non. Badannya panas. Demam kayaknya." Mbak Susi kalang kabut, mencoba menenangkan bayi delapan bulan dalam gendongannya.
Ingga membuang napas kasar. Masih dalam posisinya yang membelakangi pembantunya itu.
"Mbak bisa kan, urusin dia sendiri! Saya ngantuk, pengen istirahat," titah gadis itu tanpa melihat pada Mbak Susi dan bayi yang tengah rewel itu.
"Tapi, Non ...."
"Keluar!" bentak Ingga sekali lagi.
Bayi itu terus menangis, bergerak kesana-kemari rewel sekali. Tapi, Susi memilih untuk pergi dari ruangan itu. Tentu ia tak ingin mendapat amukan lagi.
Ia menutup pintu kamar perlahan-lahan, lalu melangkah menuju ruang tamu. Sementara tangis bayi itu masih pecah, sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di meja menyita perhatiannya.
Walau dengan perasaan sedikit ragu, ia mengambil ponsel itu dan membukanya. Tidak terkunci. Diliriknya bayi yang sedang digendongnya. Menyedihkan sekali.
"Halo?" ucap seorang cowok di ujung sana.
"Halo?" suara cowok itu kembali menggema. "Ingga?"
"Ha-halo, Den." Akhirnya, Susi sanggup menjawab juga.
"Eh? Ini siapa? Mbak Susi, ya?" tanya Arka lagi.
"Iya, Den."
"Oh ... kenapa, Mbak?"
Dengan sekali pertanyaan, perempuan itu pun segera menjelaskan keadaan bayi yang digendongnya saat ini. Meminta cowok itu untuk datang dan membantunya, sebab ia sendiri bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Oh iya, Mbak. Habis ini saya ke sana," ucap cowok itu sebelum menutup sambungan telepon.
Susi kembali menimang bocah itu. Mencoba menenangkannya. Memberinya susu. Kemudian menggendongnya lagi. Tapi Erlan benar-benar tak mau menghentikan tangisnya.
Beberapa menit kemudian, suara derum motor yang ditunggu-tunggu pengasuh bayi itu akhirnya terdengar juga. Berhenti tepat di depan rumah itu.
Dan sebelum perempuan itu membukakan pintu, dencit pintu itu terdengar lebih dulu. Memunculkan seorang cowok yang melepaskan jaket segera sembari berjalan cepat ke arahnya.
"Sini, Mbak," ucap Arka sigap membawa bayi itu pada timangannya.
"Ingga nya mana, Mbak?" tanya Arka sembari mencoba menenangkan bocah itu.
"Non Ingga lagi istirahat, Den. Gak bisa diganggu."
Arka manggut-manggut, kemudian berlalu pergi ke kamar Erlan. Kamar itu cukup luas. Ukiran pada kusennya membuatnya cukup nyaman ditinggali.
"Tenang ya, Erlan. Jangan nangis ...." ucapnya. Karena ia sendiri tak pernah menghadapi bayi yang sedang tantrum seperti ini, maka yang bisa dilakukannya hanyalah mencari solusinya di google. Yah ... gimana lagi.
...💕...
Suasana ruang makan masih sepi saat Rana turun dari kamarnya dan duduk pada salah satu kursi di sana. Ibunya sedang menyiapkan segalanya dibantu oleh Bi Esih, pembantu rumah tangganya. Sedangkan dirinya, ia terlalu lemas untuk bergerak sedikit saja. Ia memutuskan untuk berdiam diri saja, membiarkan pikirannya mengambang entah ke mana.
"Hai, Ra!" sapa Puspa. "Cemberut aja. Cuma gara-gara Mama gak masak jengkol masa kamu marah sama Mama?" tanya perempuan itu sembari meletakkan semangkok sayuran menu makan mereka malam ini.
Rana menghela napasnya. "Bukan kok, Ma," ucapnya. Bersamaan dengan itu, Dhira turun dari anak tangga terakhir. Kemudian duduk di samping Rana.
"Bagus malahan, kalau gak ada jengkol," ucap bocah belum genap sebelas tahun itu acuh tak acuh.
"Dhiraaa ...," tegur Rana tanpa memalingkan wajahnya. Ia hanya memasang posisi menopang dagu. Jangankan membalas ucapan Dhira, bernapas saja ia malas.
"Paa!" panggil Puspa, kemudian duduk di tempatnya. Bersebrangan dengan anak bungsunya, Dhira.
__ADS_1
Tak berselang lama, seorang pria yang tak terlalu berisi masuk ke ruangan itu. Duduk di samping Puspa sembari membenahkan arloji di tangannya.
"Hari ini kamu terima rapor kan? Pringkat berapa?" Pria dengan wajah tirus itu menatap lurus pada gadis di hadapannya, anak sulungnya.