The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ngatiyem si Paling Bucin


__ADS_3

Hari Senin ini, jam pertama adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Bu Irma datang ke kelas 11 IPA 1 dengan setumpuk kertas di tangannya, dengan air muka yang tak bersahabat. Guru itu berkata hendak membagikan hasil ulangan di hari lalu.


Semua murid di kelas itu harap-harap cemas penasaran dengan hasil ulangan mereka. Namun, ada beberapa orang yang justru memikirkan hal lain.


Rena mencoret-coret asal buku di hadapannya. Sesekali ia melirik wajah cantik cewek yang duduk di sampingnya. Memang benar, Rana mengakui bahwa ia menyukai Arka, tapi siapa pun juga akan melihat dengan jelas, bahwa Raja menyukainya. Dan Raja bukanlah sesuatu yang jauh jika dibandingkan dengan Arka. Jelas ia khawatir.


Rena memalingkan wajah ke arah jendela. Tidak, ia tidak boleh membenci sahabatnya hanya karena masalah cowok seperti ini. Cewek itu terlampau lugu. Ia tak punya salah apa pun. Lagi pula, melihat tekad Rana tadi, sahabatnya itu pasti akan kukuh berjuang untuk mendapatkan Arka. Jadi, meskipun Raja seperti menaruh rasa pada Rana, sedang Rana yang terbiasa dikejar-kejar kini memilih berjuang mengejar, lalu kenapa ia memilih mundur?


Di kursi sebelah cewek itu, Rana yang menjadi sumber kegelisahan dari sahabatnya, justru senyum-senyum sendiri mirip sekali dengan orang gila. "Kalau gue bilang balik, ya balik!" Ahh, bentakan Arka bahkan terus saja terngiang-ngiang di telinganya.


Walaupun Arka hobi sekali jual mahal, tapi dari sikapnya, terlihat sangat jelas bahwa cowok itu sedang cemburu. Duh, jadi makin klepek-klepek deh. Hihihi.


"Rana!" tegur Bu Irma yang semendari tadi memperhatikan Rana karena cewek itu senyum-senyum sendiri seperti orang kesambet kuntilanak genit.


"Eh, Iya, Bu?" Rana yang biasanya agak budeg, untung saja kini pendengarannya mulai berguna. Walaupun sekarang posisinya sudah berdiri tegap karena terjingkat.


"Ini, ambil hasil ulangan kamu," ucap Bu Irma judes. Menyodorkan sebuah kertas kunyel yang tengahnya habis ditambal menggunakan solasi berwarna jernih.


Rana yang merasa diintimidasi oleh tatapan guru bahasa Indonesia nya, langsung maju saja hendak mengambil hasil ulangannya.


"Rana, Ibu tidak suka ada yang bermain-main dengan mata pelajaran Ibu," gertak Bu Irma menahan kertas ulangan Rana yang ujungnya sudah digapai oleh cewek itu.


"Rana gak main-main, Bu," ucap Rana menelan salivanya gentar. Ia bukan tipe gadis yang mudah diintimidasi, tapi kalau mengenai hal ini, entah mengapa rasanya sakit sekali.


Bu Irma kemudian melepaskan tangannya dari kertas ulangan Rana. "Kalau kamu memang tidak ada niatan mempermainkan Ibu, pasti hasil ulangan kamu tidak akan sebegitu parahnya," ucap Bu Irma tajam.


Rana diam tanpa pembelaan, kemudian mengambil kertas ulangannya dan melangkahkan kaki kembali ke tempat duduknya. Duduk murung. Seratus sembilan puluh derajat berbeda sekali dengan Rana sebelum maju tadi.


Setelah memberikan hasil ulangan milik Rana, Bu Irma beralih membagikan hasil ulangan milik murid yang lainnya.

__ADS_1


Nada tersenyum lebar. Ulangannya mendapat nilai sempurna. Vira juga senang dengan nilai sembilan puluh-nya, dan Rena dengan nilai delapan puluh lima-nya.


Di mejanya, Rana meremas kertas ulangannya getir, kemudian menjatuhkannya secara sengaja.


...💕...


Kring ....


Bel istirahat berbunyi. Pak Hendra pun mengakhiri pelajaran fisika nya dan kemudian berlalu keluar dari kelas 11 IPA 1.


"Yeay!" seru cewek itu berdiri dari duduknya. Bersemangat sekali ingin segera pergi ke kantin. Dan kali ini, alasannya bukan karena lapar, melainkan karena seseorang yang berhasil membuat jantungnya berpacu lebih cepat tatkala melihat wajah tampannya. Jangankan melihat langsung, membayangkannya saja sudah cukup membuat hatinya termehek-mehek.


"Busyet! Santuy aje kali, Ngatiyem!" Vira menyusul Rana berdiri dari duduknya.


"Gitu dah, Vir. Namanya juga lagi jatuh cinta." Rena berusaha terlihat biasa saja. Tak mengacuhkan segala prasangka yang jika dibiarkan menghuni, bisa merusak hubungan persahabatan di antara mereka.


Nada hanya tersenyum menanggapi.


Vira, Rena, dan Nada hanya bisa menggeleng kepala heran. Kemudian mengikuti langkah kecil sahabat mereka itu.


Dalam perjalanan ke kantin pun, pemandangannya tak jauh berbeda. Rana berlari-lari kecil dengan riang, mendahului ketiga temannya yang harus diakui sedikit banyak ikut merasa malu dengan tingkah pecicilannya, yang walaupun begitu cukup berhasil memancing mengembangnya senyum di bibir mereka.


Sesampai di kantin, cewek itu langsung nyelonong menghampiri Bu Ratih guna memesan makanan untuk ia dan ketiga temannya. Matanya terus mengawasi tongkrongan Arka yang masih sepi. Entah dimana penghuni tongkrongan itu berada.


Dari kejauhan, Rena melihat kedatangan Raja dan teman-temannya. "Hai, Ja," sapa cewek itu ketika Raja sudah dekat dengan meja andalan ia dan teman-temannya.


"Hai, Rey! Kita gabung, ya," ucap Raja duduk di meja yang sama dengan Rena and the gank, diikuti pula dengan ketiga temannya.


Bruk! Datang-datang Rana menaruh pesanannya kasar, kemudian duduk di tempatnya malas. Untung saja, baksonya aman terkendali, dan pentolnya pun tak kabur kemana-mana.

__ADS_1


"Gaes ... kok dia gak ada, yaa ...," keluhannya dengan wajah ditekuk.


...💕...


"Langsung ke tongkrongan, kita?" tanya Arsya pada teman-temannya yang berjalan bergerombol di Koridor sekolah.


Ada sedikit keterlambatan. Mereka habis melakukan diskusi. Diskusi, tolong digaris bawahi, bukan ngerumpi. Lagi-lagi membahas mengenai seseorang yang dulunya pernah menjadi anggota penting dalam kelompok mereka.


Arka memang sudah mempersilahkan mereka untuk boleh saja dekat dengan Raja. Tapi sebab melihat bahwa ketua mereka itu masih menyimpan dendam kesumat pada cowok tersebut, jadilah mereka memutuskan untuk tetap tak dekat-dekat dulu dengan Raja. Walaupun sejujurnya ... mereka pun tak terlalu paham permasalahan di antara mereka.


"Emm ... pengen, sih," ucap Dio menaruh tangannya di perut, kemudian melakukan gerakan putar-putar. Wajahnya memelas menatap si Ketua Geng.


Arka yang ditatap seperti itu, kini memutar bola mata jengah, kemudian berkata, "Ke kantin, kita!"


...💕...


"Gue gak mau makan, kalo gak liat dia," ucap cewek itu melipat tangannya pada meja kantin. Membiarkan baksonya menjadi pengangguran dalam beberapa menit ini.


"Ellah, bucin amat si Ngatiyem." Vira menatap jengah.


"Kayaknya dia gak ke kantin deh, Ra," Nada angkat bicara, sembari mengaduk-aduk minumannya.


"Kenapa?"


"Males. Soalnya ada elu," ucap Rena senang sekali menjahili.


"Huh! Rey jahat!" sungut cewek itu memanyunkan bibir mungilnya. Tapi kemudian kerucutan di bibir itu berganti dengan senyuman terbahagia miliknya tatkala melihat seorang cowok berjalan angkuh menuju kantin, lengkap dengan segerombolan cowok di belakangnya.


Rana tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Menatap dengan mata berbinar-binar. Membuat teman-temannya juga mengarahkan pandangan mereka ke arah yang dilihat Rana.

__ADS_1


Raja mengepalkan tangannya geram. Benar-benar hari yang menyebalkan. Tak kalah menyebalkannya dengan mantan sahabatnya itu.


Rena menatapi cowok di hadapannya. Terlihat sekali cowok itu sedang cemburu. Matanya menatap wajah Rana dengan pandangan seorang cowok yang melihat ceweknya mengidolakan cowok lain. Tak tahukah Raja, bahwa hal yang sama juga terjadi padanya? Bahwa cintanya juga bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2