The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Semuanya Pergi


__ADS_3

Arka melangkahkan kakinya menuju motornya. Di belakangnya, Ingga berjalan dengan menggendong bayi yang diketahuinya bernama Erlan. Sejenak, mata elangnya memincing pada setangkai mawar yang telah berpindah dari tempat sebelumnya. Tapi ia abai. Pandangan matanya kemudian menengok ke atas. Bangunan itu sudah sepi. Hanya lampu depan yang temaram menyinari. Ia tahu, Rana sudah pergi. Setelah ini, ia harus datang menjumpai gadis itu secepat mungkin.


"Mbak, aku mau naik motor aja. Mbaknya duluan, ya," ucap Ingga bersamaan dengan Arka yang baru saja menaiki motor KLX-nya.


Arka langsung menolehkan kepala kepada cewek itu. "Ngga?" ucapnya dengan tanda tanya pada wajahnya.


"Aku pengen pulang sama kamu," terang Ingga, tersenyum lebar seolah tanpa beban.


Arka menghela napas. "Ya udah, tapi Erlan biar mbaknya aja yang bawa," kata cowok itu, menyerah dengan keadaan.


"Nggak, aku pengen bareng dia juga," ucap Ingga bersikeras dengan permintaannya.

__ADS_1


"Ngga, dingin ... kasian dia ...," Arka semakin tak mengerti dengan jalan pikir Ingga.


"Tapi aku pengen .... Erlan juga jadi cepet tidurnya kalau diajak naik motor. Kamu bisa kan, pinjemin jaket kamu sebentar?" tanya cewek itu pada akhirnya. Masih tersenyum tanpa beban. Seolah permintaannya bukanlah sesuatu yang berat bagi Arka.


Akhirnya, tanpa kata, Arka melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Ingga. Menyisakan dirinya dengan kaus hitam bergambar tengkoraknya. Enyahlah, mungkin setelah ini Rana tak akan memaafkannya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Sebisa mungkin, Arka ingin membuat bocah di belakangnya merasa nyaman menuju alam mimpinya. Sebisa mungkin, ia mengabaikan kepentingan hatinya. Sebisa mungkin, ia rela mengorbankan semuanya demi masa depan bocah itu.


Namun, seseorang yang berjalan memunggunginya di kejauhan sana membuat cowok itu mengeratkan genggamannya pada grip gas-nya. Rana berjalan sendiri di kemalaman yang bahaya dan sepi. Gadis itu terlihat tertatih-tatih seolah hendak berlari, tapi tak mampu. Arka terluka, tapi ia tahu Rana lebih terluka. Dan yang bisa dilakukan cowok itu adalah ... meningkatkan kecepatan motornya secepat mungkin. Lari dari kenyataan, bahwa ia telah menghianati Rana.


Rana masih menangis saat merasakan rintik hujan mulai turun ke bumi. Tapi pendengarannya kemudian menangkap sesuatu. Ia menolehkan kepalanya. Suara motor Arka terlalu familiar untuk tidak ia kenali. Dan ....

__ADS_1


Brumm ....


Mata Rana terpaku. Tubuhnya seolah membeku. Motor itu sudah pergi secepat kilat, tapi rasa sakit yang ditimbulkan di hatinya masih membekas hingga ia tak dapat bernapas. Setega itukah Arka? Pergi dengan cewek lain dan meninggalkanya begitu saja. Sendiri. Sepi. Berjalan tanpa perlindungan di malam hari.


Rana menjatuhkan dirinya pada aspal yang mulai basah oleh air hujan. Air matanya jatuh begitu perih. Ia pikir, hari-hari kemarin sudah cukup untuk menguji kegigihan hatinya. Tapi nyatanya tidak. Tuhan masih begitu membencinya, hingga tak henti merenggut semua yang ia punya. Nada, Vira, Rena, dan sekarang, bahkan Arka pun terasa begitu tak nyata pernah menjanjikan semua kebahagiaan padanya.


"Arka ...," rintih gadis itu menengadah pada langit yang menjatuhkan air matanya juga. "Rana salah apa sama Arka, sampe Arka ngelakuin semua ini ke Rana?!" Ia kemudian menunduk. Gaunnya sudah basah kuyup dan ia bagaikan mahluk penuh sial yang bahkan tak punya hak untuk merasakan sedikitpun kebahagiaan dunia.


"Ra, lo nggak papa?" tanya seorang cowok tiba-tiba sudah berjongkok di samping Rana dan menyentuh pundaknya.


Rana menoleh. "Daniel?"

__ADS_1


__ADS_2