
Detik-detik berlalu begitu lama sejak kepergian gadis itu. Jam pun sudah menunjukkan waktunya. Tiga jam setelah wanita itu, Tante Sarah, memberitahukan nya bahwa Rana telah pulang dan hanya menitipkan salam padanya. Hanya itu. Hanya seucap salam tanpa kata.
Marahkah Rana? Atau, gadis itu hanya membisu untuk sementara? Entahlah. Tapi, ini terasa begitu tak mengenakkan.
Dan anehnya, walaupun ia amat terganggu dengan kebisuan ini, ia tetap tak kunjung menghubungi gadis itu. Entah keegoisan atau sebab ia tak bisa menghadapi kecanggungan. Yang dilakukannya saat ini justru duduk bersandar dengan sebuah buku gambar dan pensil di tangannya.
Dengan fikiran mengayang, ia menggambar pada buku itu asal. Jemarinya terus menggoreskan pensil. Menggambarkan suasana yang terjadi di ruangan ini beberapa jam lalu.
Awkwardly, finishnya pada pojok bawah hasil gambaran itu. Kemudian ia melemparkan buku itu ke sebelahnya.
Dihadapkan pada pilihan seperti ini. Ia tak terbiasa meminta maaf, apalagi memohon-mohon. Dan tentang menerima tante Sarah ... bisakah ia melakukannya demi Rana?
...💕...
Masih dengan suasana hati yang sama. Sama-sama buruknya atau mungkin juga lebih buruk dari sebelumnya. Cowok itu sama sekali tak mengiriminya pesan atau juga menjadi sebab berderingnya ponselnya malam ini.
Ia benci menunggu. Ia sedang merasa marah, tapi ia juga merasa tak akrab dengan dengan kedinginan ini. Jadi, ia harus bagaimana? Melampiaskan rasa marah dan rindu secara bersamaan, bagaimana caranya?
__ADS_1
Rana menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sebenarnya, tak butuh tenaga banyak untuk mengirim pesan pada cowok itu. Tapi, ia tak bisa.
Sebenernya ini salah siapa? Ia tak tahu. Lalu, siapa yang harus meminta maaf terlebih dahulu? Entahlah. Tapi naluri wanitanya mengatakan bahwa kali ini ia haruslah menjadi pihak yang diperjuangkan.
"Kak Rana!" panggil Dhira tiba-tiba menongolkan kepalanya dari balik pintu kamar Rana.
Rana hanya menoleh dan melontarkan tanda tanyanya dengan isyarat dagu.
"Disuruh turun sama papa. Di bawah ada temennya Kak Rana."
"Iya," jawab Dhira kemudian berlalu.
Tak langsung turun menuruti perintah ayahnya, terlebih dahulu Rana memeriksa penampilannya di cermin. Tak lupa pula memakaikan sedikit bedak dan merapikan rambutnya. Juga ... sedikit olesan pada bibirnya.
Arka kesini jauh-jauh. Maka, ia tak boleh terlihat mengecewakan, tegasnya kemudian berlalu keluar kamar dan menuruni tangga rumahnya menuju ruang tamu.
Tapi, baru saja ia berada di pertengahan anak tangga menuju ruang tamu, binar matanya seketika memudar. Ternyata Raja, bukan Arka, keluhnya dalam hati kecewa.
__ADS_1
Lagian, salahnya sendiri. Dhira saja tidak bilang temannya ini temannya yang mana. Lagipula, mana mungkin Arka, dalam keadaan kelelahan dan terluka, rela-rela datang ke rumahnya hanya untuk mengakhiri kecanggungan yang entah punya dalih apa.
"Hai, Ra! Lo gak papa, kan?" sapa Raja setelah Rana menghampiri cowok itu.
"Gak papa, kok," jawab Rana mendudukkan diri di sofa.
"Ya udah. Om masuk dulu ya, Ja," ucap Cipto bangkit dari duduknya.
"Iya, Om," jawab Raja tersenyum.
"Di grup lagi rame ngomongin kejadian lo tadi sore, Ra. Makanya gue tau. Tapi, lo beneran gak papa, kan?" tanya Raja memastikan kembali.
"Iyaa ... lo bisa liat sendiri, kan? Anggota badan gue utuh gak kekurang apa-apa," kata Rana meyakinkan. "Lagian, udah ditolongin juga sama Arka dan Daniel," jelas Rana lagi.
"Kalian ... pacaran?" Tanpa tertahan lagi, pertanyaan itu muncul dengan sendirinya dari bibir Raja. Pertanyaan yang sudah ia simpan sejak lama.
Rana langsung terdiam datar. Tak cukup dirinya sendiri yang menanyakan hal itu sekarang. Raja juga menanyakannya.
__ADS_1