
Rana menuruni tangga dengan langkah kecilnya yang sama semangatnya dengan dirinya. Bibirnya tersenyum sempurna dengan cahaya yang memancar indah lewat matanya.
Di ruang makan sudah ada mami, papanya dan Dhira. Kali ini, ia sudah tidak akan terganggu dengan keberadaan papanya. Banyak hal, termasuk manusia di sekitar kita, tidak bisa bertindak seperti yang kita kehendaki. Kita tidak bisa memaksa. Kita hanya bisa merubah apa yang kita rasa. Sangat mungkin, ayahnya itu hanya ingin dirinya memacu lebih keras.
Dan yahh.... Huh, sepertinya belakangan ini ia jarang berkunjung ke rumah keduanya. Ia pastikan siang ini akan mampir dan memberikan kabar terbaik yang bisa didengar ayahnya itu dalam sebulan terakhir ini. Dan semoga itu bisa mengobati kekesalan Papinya karena ia sudah jarang ke sana. Belakangan ia terlalu ambisius. Bahkan sampai lupa diri dan terlalu bersemangat.
"Pagi, Miii!" sapa gadis itu ceria. Duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Ia menatap ibunya yang tengah sibuk menata sarapan pagi mereka bersama pembantunya.
"Ya, sayang." Puspa tersenyum, tapi masih belum berhenti dari kegiatannya.
"Mami inget kan, besok hari apa?" tanya gadis itu dengan bola mata berbinarnya.
Puspa berhenti sejenak dari pekerjaannya. Pupilnya bergerak ke atas. Mungkin sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Minggu, kan?" tanyanya, kemudian sibuk lagi dengan pekerjaannya. "Mami ini udah bukan anak sekolah lagi, Rana. Mami butuh effort cuma buat nginget ini hari apa."
Rana mendesah malas. " Bukan itu maksud Rana, Mami," keluhnya.
"Bik Esih, yang ini taruh dulu di meja. Saya mau ke belakang dulu." Puspa menyerahkan sebuah wadah kepada pembantunya. Kemudian pergi ke belakang alih-alih merespon keluhan Rana.
Gadis itu menghela napas kesal, kemudian menoleh pada Dhira. "Dhira, kamu inget kan, besok hari apa?" tanyanya tersenyum dengan binar harapan dari pupilnya yang membesar.
Dhira menoleh pada kakaknya datar. Kemudian acuh tak acuh mengedikkan bahu.
__ADS_1
Rana semakin lemas. Pandangannya kemudian menatap lurus pada pria dewasa di hadapannya. Ia meyakinkan diri untuk melayangkan pertanyaan itu, walaupun hanya ada 1% kemungkinan pria itu mengingatnya.
Tapi saat ia baru membuka mulutnya, ibunya sudah duluan menyita perhatiannya dengan pertanyaan.
"Oh ya, hari ini kalau gak salah agendanya terima rapor ya, Ra?" lontarnya sembari bolak-balik menyiapkan sarapan bersama pembantu rumah tangganya, kemudian duduk di samping suaminya.
"Iya, Mi. Sekalian sama pengumuman hasil ujian akhir untuk kelas 12-nya," jelas Rana seraya mulai mengambil makanan untuk mengisi perutnya di pagi hari yang indah ini.
Mengapa indah? Tentu saja, karena hari ini ia akan mengetahui hasil usaha kerasnya selama satu semester penuh, dan ia akan dengan lapang dada menerima semuanya. Plus satu lagi, ada sesuatu yang paling ia tunggu-tunggu di jam 12 tengah malam nanti.
"Oh ya? Mami sama Papa perlu dateng gak? Soalnya Mami, Papa, sama Dhira hari ini mau pergi dulu." Mami akhirnya duduk juga di tempatnya, selesai juga mengerjakan rutinitas menyiapkan sarapan pagi itu.
"Gak papa kok, yang wajib dateng cuma wali kelas 12 aja, Mi. Ya walaupun makin rame makin bagus sih...," ungkap gadis itu menunjukkan pringisan andalannya.
Rana tersenyum, seolah benar-benar melupakan beberapa hal bohong yang dijejalkan ke otaknya kemarin.
...****************...
Suasana di sekolah sudah ramai sekali saat cowok itu memarkirkan motornya di parkiran, disusul sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang mengikuti dirinya dari belakang. Mungkin ini agak sedikit menggelikan, tapi ini memang sudah wajib dilakukan. Ya, ini adalah mengenai kedatangan kedua orang tuanya.
"Arka!"
Baru saja ia menghembuskan napasnya bebas setelah terkurung oleh helm fullface-nya, telinganya sudah disambut suara melengking mamanya.
__ADS_1
"Iya, Mama...," jawabnya dengan senyuman penuh tekanan. Menoleh pada mobil yang cukup mengkilap itu.
"Bukain pintu mobilnya, sayang," ucap wanita dengan paras mungil nan ayu itu tersenyum puas sebab ini saatnya semua orang harus tau seberapa penurutnya anak tampannya padanya.
Arka menghela nafas dan turun dari motornya tampak terpaksa, sedangkan ayahnya justru terkekeh. Tampak semakin tampan dengan wajah tuanya yang berwibawa.
Arka melakukan hal yang dipinta ibunya, tak terlalu peduli dengan lalu lalang orang yang setengah melirik ke arahnya, bahkan tak jarang ada yang menoleh tak ada sungkannya.
"Terimakasih, sayang." Senyum Sarah semakin merekah saja, sembari menautkan tangan ke gandengan suaminya.
Arka tersenyum. "Ya udah yuk, Pa, Ma," ajaknya.
Tapi kemudian sesosok perempuan yang baru saja keluar dari mobil antar jemputnya membuat perhatian mereka teralihkan.
"Makasih banyak, Pak Budi!" seru cewek itu sembari mengiringi kepergian supirnya dengan tangan melambai-lambai. Seperti biasa, ia harus memenuhi hari dengan keceriaan. Dan sialnya saat ia membalikkan badannya, ia langsung dipertemukan dengan keadaan yang sama sekali tak ia harapkan.
Wajah penuh semangat Tante Sarah. Tatapan sendu penuh wibawa Om Rangga. Dan tatapan elang itu, kenapa ia sungguh tak kuasa mencurinya walau sekilas. Dan anehnya ia justru menginginkannya.
"Pagi Tante, Om," sapa gadis itu mendekat, menundukkan kepalanya sopan. Mencoba menjadi terlatih untuk terlihat baik-baik saja.
"Halo, Ranaa!!" Sarah segera menyergap gadis itu ke pelukannya. Membuat Rana terpaku, tak bisa berkata-kata.
"Arka duluan, Pa." Cowok dengan seragam putih abu-Abu itu lantas pergi tanpa menunggu izin dari ayahnya. Caci maki saja ia sebagai pengecut, karena kenyataannya memang begitu. Bahkan ia sendiri membenci dirinya.
__ADS_1