The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Barokah Calon Suami


__ADS_3

"Nad, kita mampir beli cendol dawet, ya," ucap Arsya tiba-tiba memberhentikan motornya. Membuat cewek di belakangnya terjingkat dan segera melepas pelukannya pada pinggang Arsya.


"Tadi lo bilang lo kepanasan, kan? Nah, sebagai gantinya gue mau traktir elo es cendol," terang Arsya sembari memasang standar motornya.


Tak ada penolakan dari Nada. Tanpa kata, cewek manis berkaca dari itu turun dari motor Arsya. Berusaha mengusir kecanggungan yang mengusik hatinya.


"Ayo, Nad!" Arsya menarik tangan Nada memasuki warung. Membuat cewek itu semakin bingung harus merespon bagaimana.


"Cendol dawetnya dua ya, Pak," ucap cowok itu setelah membawa Nada duduk di kursi pelanggan. Kemudian melepaskan tangannya dari jemari alus Nada.


"Pesen dua aja, Nad? Lo gak pengen gitu, bawain nyokap, bokap, adek lo cendol dawet?" tanya Arsya pada Nada yang tengah menundukkan kepala. Sedikit kilat keresek-an mulai menghiasi senyumnya.


"Sya," Nada langsung saja menegakkan kepalanya, menoleh pada cowok di sebelahnya. "Ibu'ku jualan cendol juga, ngapain aku bawain cendol dawet lagi?" tanya Nada tak bersahabat. Hilang sudah rasa canggung dalam hatinya.


"Ya siapa tau aja ... Bu Ratih bosen sama cendol buatan sendiri," seloroh Arsya, dalam hati gemas sekali melihat respon Nada yang langsung naik tensi kalau sudah dijahili. Padahal tadi terlihat canggung sekali.


"Ya enggak lah, ngarang kamu," ketus Nada, bersamaan dengan datangnya dua gelas besar es cendol dawet pesanan mereka.


"Makasih loh, ya ...," ucap Nada tulus, walau dengan nada ketus. Kemudian mulai menikmati cendol dawet di hadapannya.


Alih-alih meminum cendol dawetnya, Arsya justru menopang dagu, menikmati pemandangan Nada dengan segelas cendol yang diminumnya sedikit demi sedikit.


"Kamu gak minum, Sya?" tanya Nada menoleh pada Arsya. Sedikit merasa tak nyaman dengan pandangan Arsya yang terus dipusatkan padanya.


"Minum," ucap Arsya kemudian memasukkan sesendok es cendol ke mulutnya. Ia menyendok es cendolnya lagi, kemudian jahil sekali memasukkannya ke gelas Nada yang baru berkurang sedikit.


"Arsya!!" pekik Nada membulatkan kedua matanya. Ulah macam apa lagi ini?


"Gak papa, Nad, itung-itung barokah calon suami," prenges Arsya tanpa rasa bersalah.


"Aw aw aw! Sakit, Nad!" Sejurus kemudian, cubitan maut Nada langsung melipir ke pinggang cowok itu secara bertubi-tubi.


...💕...


Cowok itu baru saja mengakhiri permainan bola basketnya saat jam 14.00 siang hari. Saat ini, ia tengah berjalan melewati koridor sekolah, hendak menuju ke tempat dimana motor kesayangannya diparkiran.


"Ka!"

__ADS_1


Cowok itu langsung menghentikan langkahnya. Membalikkan badan pada arah sumber suara. Tak berjarak jauh darinya, seorang cowok tengah berdiri menatapnya. Tatapan yang ia balas dengan wajah datar tanpa ekspresi miliknya. Kalau menurut tebakannya, cowok itu pasti habis dari laboratorium sekolah. Sibuk berkutat dengan bahan kimia di ruangan itu.


"Gue suka sama Rana," ucap cowok itu gagah berani. Terlihat berniat sekali menantang mantan sahabatnya.


"Terus, urusan gue apa?" ketus Arka tak bersahabat. Menyipitkan kedua matanya tak suka.


"Lo masih belum move on kan, dari dia? Jadi, jauhin Rana. Gue gak mau dia sakit hati gara-gara elo," ujar Raja terdengar serius sekali dengan ucapannya.


"Hhh,,," Arka tertawa getir. " Setelah semua yang lo lakuin ke dia, gue gak nyangka lo masih bisa ngomong kayak gini," ucap Arka kemudian membalikkan badan. Acuh tak acuh meninggalkan Raja yang masih berdiri mematung di sana tanpa ada sedikit pun niat menghalangi kepergiannya.


Dalam diam ia melangkah. Padahal, dalam hati ia sedang menahan amarahnya agar tak menghabisi Raja seperti dulu lagi. Ia tak ingin kejadian itu terulang kembali. Walaupun ia sungguh benci dengan sikap Raja yang seperti ini. Sudah melakukan kesalahan sebesar itu, masih berani memunculkan batang hidung, bahkan sampai memerintahnya begini. Dasar bangsat! Bajingan!


Sepanjang perjalanan Arka mengumpat dalam hati, tapi kemudian umpatannya terhenti ketika mendapati sebuah berbentuk hati tergeletak begitu saja di atas motornya. Dan anehnya, nama lengkapnya jelas tercantum di kertas itu.


Diambilnya kertas itu hendak dibuang, tapi kemudian ia urung melakukannya sebab melihat kilasan sebuah tulisan tangan di balik benda itu.


"Jangan sedih. Jangan pernah ngerasa sendiri. Kamu nggak pernah tau seberapa keras seseorang meminta, hanya untuk bisa melihatmu tersenyum bahagia."


...💕...


Cowok itu duduk bersandar di kursi ruang kerjanya seraya melirik benda penunjuk jam yang melingkar di tangannya. Dibukanya jas dokter miliknya, kemudian ia gantungkan di sebelahnya. Tangannya mengeluarkan benda gepeng yang senantiasa ia bawa kemana-mana. Lalu, ia mengirimkan pesan pada seseorang di ujung sana.


^^^Anda^^^


^^^Berangkat sekolah tadi Rena gak jemput.^^^


^^^Pulang sekolah sama siapa?^^^


^^^Kak Zein jemput, ya?^^^


Gak usah. Gak papa.


Ini Vira udah di jalan kok.


^^^Anda^^^


^^^Naik apa?^^^

__ADS_1


^^^Sama siapa?^^^


Dianter, sama temen Vira.


^^^Anda^^^


^^^Cewek, cowok?^^^


Cowok


...💕...


Vira memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Memanyunkan bibir sekilas, kemudian melemparkan senyum manis pada cowok yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya. Kenapa harus patah hati memikirkan Kak Zein yang ternyata sudah punya pacar? Ia harus membuka mata lebar-lebar. Di dunia ini cowok bukan hanya Kak Zein. Lagi pula, kalau bisa punya banyak, kenapa harus satu?


"Kapan-kapan kita makan yuk, Vir," ucap Reza setelah memberhentikan mobil tepat di depan gerbang rumah Vira.


Menanggapi ajakan Reza, Vira sengaja sekali mengukir senyum manisnya. "Kapan-kapan nya kapan?"


"Ya kalau kamunya ada waktu," ucap Reza, memusatkan perhatiannya pada cewek di sampingnya.


"Apa sih yang nggak buat kamu?"


"Cium mungkin," ucap Reza, sesekali melirik bibir seksi Vira yang merah menggoda.


"Coba aja kalo berani," ucap Vira terdengar sedang menantang.


"Kalau gitu ... aku mau coba sekarang," ucap Reza tanpa fikir panjang mendekatkan wajahnya pada wajah Vira.


Dalam jarak sedekat ini, Vira masih sempat mengembangkan senyum. Gila! Ganteng banget ni cowok. Mana bibirnya menggoda lagi.


Reza menatap dalam mata cewek yang tepat di hadapannya ini. Tangannya tak ragu menyentuh rahang cewek itu, hendak melakukan apa yang sudah menjadi hasratnya.


Vira memejamkan matanya, menetralkan degup jantung yang kian tak terkendali. Sedikit banyak ia tetap kikuk. Walaupun ia sering Dijuluki sebagai Player Sejati, tapi jujur saja bibirnya belum pernah merasakan hal yang akan ia lakukan ini. Tapi bodoamat lah, kalau frist kiss-nya ternyata adalah keberuntungan milik Reza. Ia sudah benar-benar lelah dengan keadaan hatinya yang ngenes terus tak ada habisnya.


Dag dig dug dog!


"Vira!"

__ADS_1


Kedua remaja itu langsung terjingkat, menjauhkan wajah mereka masing-masing. Padahal hampir sedikit lagi, gerutu Reza dalam hati.


"Kak Zein?!" seru Vira lebih terkejut lagi, mendapati wajah Kak Zein yang terpampang jelas di balik jendela mobil.


__ADS_2