
Taman bermain itu tampak ceria. Penuh tawa dan suka. Di antara banyaknya orang di sana, Rana duduk di tepi kolam dengan kaki yang terendam. Dingin dan menyejukkan. Tertular senyum ceria yang tercetak di bibir Dhira.
Di sisi lain, sepasang kekasih juga memasuki area taman bermain diikuti seorang perempuan berpenampilan pengasuh bayi di belakang mereka. Arka masih membawa Erlan di gendongannya, melempar pandangan ke segala arah, mencari tempat untuk duduk dan mengajak bermain Erlan.
"Ka, aku langsung ganti baju aja, ya," ucap Ingga seraya menyodorkan tasnya dengan enteng, seolah tak melihat cowok itu sedang sibuk menggandeng bayi berumur kisaran delapan bulan itu.
Arka menoleh pada Ingga sekilas. "Hm," singkatnya kemudian menerima tas itu dengan lempeng saja. Malas berdebat. Ingga lebih keras kepala dari pada segalanya.
Kemudian, Ingga pun berlalu dengan langkah riangnya.
"Gak bakal lama, kok, Ka," ucapnya sebelum benar-benar pergi.
"Ayo, Mbak, kita jalan-jalan dulu aja," ucap Arka kemudian melanjutkan langkahnya, sembari mengajak Erlan berbicara, walau bocah itu hanya bisa menanggapi dengan ocehan tak jelasnya.
Duduk di tepi kolam saja tanpa ikut menenggelamkan diri di air membuat cewek itu lama-lama bosan juga. Pandangannya ia lempar ke mana-mana. Bukan mencari di mana keberadaan Raja, ia hanya mengamati orang-orang yang berseliweran. Tapi, tiba-tiba manik matanya terhenti pada punggung seorang cowok.
Rana menyipitkan matanya. Entah apa yang ia pikirkan, tapi ia benar-benar tak bisa mengalihkan perhatiannya dari cowok itu. Di samping cowok itu, berdiri seorang wanita dengan seragam khas baby sister. Sekilas, walau tak terlalu jelas, cowok itu sedang membawa seorang bocah di pelukannya.
"Kak Rana!" Dhira cemberut. Bagaimana tidak? Sudah berkali-kali ia memanggil kakak perempuannya itu, tapi tak kunjung mendapat respon.
Rana semakin menyipitkan matanya. Sedikit lagi. Sedikit lagi ia dapat melihat cowok itu. Sedikit lagi cowok itu akan menolehkan wajahnya.
"Kak Rana!" geram Dhira menggoyang lutut kakaknya kasar.
"E-eh? Kenapa, Dhira?!" Seolah lupa diri, tiba-tiba Rana mengeraskan suaranya, dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian dalam sejenak. Tapi kemudian ia sadar, menutup mulutnya dan memasang ekspresi mohon harap maklum pada orang-orang di sekitar mereka.
"Kenapa, Dhira...?" Sekarang ia justru berbisik. Mencoba mengabaikan suruhan hatinya yang membuat ia ingin terus menolehkan kepalanya ke arah sana, cowok dengan jaket jins itu.
Ah, tidak, ia tidak mungkin sedang berharap dipertemukan dengan Arka.
"Bantuin Dhira naik, Kak. Dhira mau beli minuman dulu," ucap Dhira mencoba tersenyum semanis mungkin, agar kakaknya mau memenuhi permintaannya.
Rana mendengus malas. "Naik sendiri bisa, Dhira ...," jawabnya, tersenyum memaksa.
"Ayolah, Kak ..." bujuk Dhira memasang wajah memelas.
__ADS_1
Akhirnya, karena Rana juga sebenarnya sudah bosan di tepian, ia pun berdiri dari duduknya, memakai alas kakinya.
"Ya udah, cepetan. Naik," ucapnya seraya menyodorkan tangan kanannya.
Dhira tersenyum semakin lebar. Menggapai tangan Rana dengan tangan basahnya. Bersiap menjadikan tangan yang nyaris sama kecilnya itu sebagai tumpuan.
"Satu, dua, ..."
"Arka!!"
Rana terperanjat. Spontan menolehkan kepalanya. Barusan, jelas sekali, itu suara Ingga. Tapi alih-alih mendapati cewek itu, netranya justru bertemu pandang dengan cowok itu. Cowok yang mati-matian ia coba lupakan. Dan parahnya, benar, cowok itu bersama seorang bayi. Yang artinya ....
"Tiga!!" seru Dhira semangat.
Byurr!!
Bukannya keluar dari kolam, gadis kecil itu justru membawa kakaknya masuk juga ke dalam kolam. Basah tak tersisa.
Rana tahu seluruh tubuhnya sudah basah oleh air, tapi yang ia lakukan justru bertahan di dalamnya, menyembunyikan wajahnya. Wajahnya yang pucat pias. Marah, kecewa, dan cemburu. Air kolam menyamarkan tetesan lukanya.
Arka terus melongokkan kepalanya. Mencari keberadaan Rana. Ia yakin tak salah lihat. Di sebelahnya, Ingga sudah mengoceh panjang lebar mengatur ini itu. Ia perlu berbicara dengan Rana.
Rana melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju ruang ganti, atau setidaknya tempat yang lebih sepi, di mana ia tidak akan bertemu lagi dengan cowok itu. Cowok yang membuatnya berada pada titik kecewa terendah. Dan tak cukup sampai di situ cowok itu bahkan ....
"Ra!"
Rana merasakan tangannya dicekal oleh seseorang. Pundaknya tersentak, tapi ia bahkan tak sanggup menolehkan kepalanya. Dadanya bergemuruh hebat, tapi lebih dari semua itu, sebuah kenyataan membuatnya marah.
Dalam satu gerakan, Rana membalikkan tubuhnya, menarik tangannya kasar dari cekalan cowok itu.
"Mau apa lagi?" Wajahnya yang biasanya tersenyum manis pada cowok itu kini merah padam. Marah dan kecewa.
"Jangan sama Raja," ucap Arka seolah ucapan itu begitu penting baginya, hingga pantas diucapkan oleh bibirnya.
Rana mengernyit. Heran. "What?"
__ADS_1
"Okey," Arka menghela napas, mencoba menjelaskan. "... Gue tau gue udah gak berhak ngelarang-ngelarang lo, tapi pleas... jangan Raja. Gue ...."
"Ralat. Bukan udah gak berhak, tapi emang gak pernah berhak," potong Rana, memalingkan wajahnya.
"Raa ...," Arka memohon. "... Lo udah janji sama gue. Lo boleh pacaran sama siapa aja, tapi pleas ... jangan Raja."
Rana mendengus kasar. "Lo juga udah janji sama gue, Ka!" Kali ini suaranya mulai meninggi, "... Lo udah janji gak bakal ninggalin gue!"
"Tapi gue punya alasan, Ra. Gak mungkin gue ninggal ...."
"Alasan apa? Ngehamilin anak orang?" Seolah bom yang hendak meledak, pertanyaan itu benar-benar tak tertahankan dari bibirnya. Walau setelah itu perasaannya lebih berkecamuk.
Arka geming. Alih-alih menjawab, ia justru menatap mata cewek di hadapannya dalam, mencari setitik kepercayaan.
"Gue gak bisa jelasin itu, Ra. Tapi satu hal yang harus lo tau, gue sayang sama lo. Please ... jauhin Raja."
"Jawab dulu, Arka!" sentak Rana, menatap cowok di hadapannya penuh tuntutan.
Arka menghela napas. Menundukkan kepalanya. "Sorry, Ra, gue gak bisa."
Rana mencengkram buku-buku jemarinya. Menggigit bibir bawahnya sebagai pertahanan terakhir.
"Kalau gitu jangan harap gue bakal jauhin Raja." Rana berbalik, melangkahkan kakinya tegas, walau air matanya tak bisa berbohong; mengalir tanpa bisa dicegah.
"Rana!"
Dan tiba-tiba cowok itu sudah berada di depannya lagi. Buru-buru ia menghapus tetesan demi tetesan itu dengan kedua tangannya.
Arka segera melepaskan jaket jinsnya, memasangkan pada punggung Rana. " Gue gak mau cowok lain ngeliat lo kayak gini. Pake aja, gak usah dibalikin, gue tau lo gak mau ketemu gue lagi," ucap Arka dengan kedua tangan masih di pundak Rana.
Untuk sesaat, Rana terdiam, menatap netra cowok itu seperti yang biasa ia lakukan. Dirinya seolah dalam ketidaksadaran yang abadi, jatuh cinta lagi dan lagi.
"Ra?"
Suara itu langsung membuat Rana menjauh dari Arka, begitu pula Arka yang tak punya pilihan lagi selain menarik tangannya dari pundak Rana.
__ADS_1
Tak jauh dari mereka, Raja berdiri tegak, menatap mereka berdua. Kecewa, dan sakit yang teramat.
"Raja?" lirih Rana, merapatkan jaket, dan bingung harus berbuat apa.