
"Ayo, maju! Kenapa malah diam saja?"
Dengan gerak malas Rana bangkit dari duduknya. Entah apa yang akan ia isi. Angka-angka itu ... apa maksudnya? Ia tak paham.
"Semangat, Ra! Elo pasti bisa!" teriak seorang cowok dari tempat duduk bagian belakang.
Semua orang langsung menoleh. Dio justru hanya nyengir tanpa dosa.
"Doi! Sedang apa kamu?" Pak Hendra menatap Dio tajam.
"Lagi belajar cheers, Pak. Saya mau pensiun main basket. Tinggi badan saya juga kurang, Pak, kalau mau jadi atlet internasional."
"Sudah! Saya tidak suruh kamu curhat di sini. Ayo, maju! Kerjakan soal nomer dua!"
Mulut Dio spontan terbuka lebar. Sepertinya, pak Hendra suka sekali mempermalukannya. Mana bisa ia mengerjakan soal begituan. Dari dulu kan ... begitu.
"Loh, Pak? Kan, spidolnya dipakai Rana," elaknya pintar-pintar mencari alasan.
"Bapak bawa spidol dua. Kamu tidak perlu khawatir," ucap pak Hendra menimpali. Sudut bibirnya terangkat sebelah. Dasar Dio! Dari dulu sama sekali tak ada perubahan.
"Hehehe, Bapak emang guru paling perhatian deh. Sedia payung sebelum hujan. Sedia pilus garuda sebelum makan. Sedia spidol sebelum ngajar," kelakar Dio tak ada takut-takutnya. Padahal, pak Hendra terkenal sebagai guru paling kiler di SMA Tunas Bangsa.
"Dio! Kenapa diam saja di situ? Ayo maju, kerjakan soal nomer dua! Malah ngelawak tidak jelas."
"Hehehe, iya deh, Pak. Demi Bapak, apapun akan saya lakukan," kelakar Dio kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan maju ke depan. Tenang ... kan, ada si Rana.
Vira memutar bola matanya jengah. Dasar si gentong! Malah bercanda seenaknya saja. Tidak tahu apa, candaannya itu garing seperti nasi kering.
"Yo, ini gimana ngerjainnya?" tanya Rana dengan suara lirih. Jemarinya yang telah memegang spidol geming di papan tulis. Tak tahu harus menulis apa.
"Loh? Ya mana gue tau, Ra. Orang gue malah mau nanya ke elo kok," jawab Dio dengan suara yang lirih pula.
"Ya mana gue tau. Orang gue lagi streeming film di otak gue."
"Lah, gue juga lagi kompetisi masak tadi."
"Ah, elo. Terus gimana nih?"
"Udah, kerjain aja. Salah ya gak papa."
"Diooo ... masalahnya gue tuh, gak ngertiii ...," rengek Rana sampai terlupa untuk melirihkan suaranya.
Suara tawa langsung memenuhi seisi kelas. Dasar Rana! Bisa-bisanya bertingkah seperti itu di depan pak Hendra.
__ADS_1
"Diam, semuanya! Kalau ada yang tertawa lagi, berarti siap menggantikan mereka," gertak pak Hendra memperingatkan.
Semuanya langsung hening. Siapa juga yang mau menggantikan mereka?
"Hhh,,, dasar Rana." Tiba-tiba Nada bersuara. Tak terlalu keras sebenarnya, tapi terdengar cukup jelas di telinga seluruh penghuni kelas. Benar-benar memancing untuk ditunjuk sebagai pengganti Rana.
Seluruh mata langsung tertuju padanya. Ahh ... dasar Rana. Kalau bukan karena teman kecilnya ini, malas sekali ia melakukan bebodohan seperti ini.
Pak Hendra menyipitkan matanya menatap Nada, kemudian beralih pada Rana yang meringis memperlihatkan deretan gigi rapinya pada temannya itu, lengkap dengan kilau bahagia di matanya. Dasar anak-anak!
"Nada, ayo maju! Gantikan Rana," titah pak Hendra diam-diam mengabulkan permintaan kedua sahabat itu.
"Baik, Pak," sambut Nada langsung bangkit dari duduknya dan maju ke depan.
"Rana, silahkan duduk! Lain kali Bapak harap kamu tidak lagi melakukan kesalahan ini."
"Siap, Pak!" jawab Rana sigap, lengkap dengan gaya hormat ala-ala pak Budi, si penjaga rumahnya.
Sebelum duduk di tempat duduknya, Rana menyempatkan diri melihat keadaan Dio, teman gembulnya. Menatap memelas padanya dengan bibir bawah yang agak dimajukan. Membuat ia tak tega melihatnya.
Diam-diam ia melirik Vira. Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. Tanpa rasa bersalah, ia mulai menggelitik pinggang temannya itu.
Vira sontak tertawa. Seburuk apapun keadaan mood-nya, kalau sudah dibeginikan, ia mana bisa menahan tawa?
"Vira, ayo maju! Gantikan Dio mengerjakan soal," titah pak Hendra benar-benar mengabulkan semua rencana murid-muridnya ini.
Vira memberengutkan bibirnya. Tahu sudah ia dengan maksud Rana yang tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini.
"Hehehe, Vir, gue tau lo tuh temen gue paling baik," bisik Rana kemudian menampilkan prengesannya.
Vira hanya menanggapi dengan senyum terpaksa, kemudian menuruti perintah pak Hendra. Untung ia masih bisa diandalkan kalau soal beginian. Peringkatnya masih terhitung selalu bagus kok.
...💕...
Jam istirahat_Tongkrongan Arka
"Bro, Dio tadi hampir aja dihukum sama pak Hendra lagi, " cerita seorang cowok diantara gerombolan cowok-cowok itu. "Untung aja ada neng Vira," ucapnya lagi melirik Dio ganjal.
Yang dilirik malah menyikut cowok itu malas. Dasar Aris, hanya kejadian seperti itu saja sudah heboh sekali. Laki-laki kok, tukang ghosip.
"Waah, lo naksir beneran ama si Mpok Ghosip, Yo?" Arsya langsung ikut antusias.
"Eh, ngawur lo. Mana ada gue naksir sama dia," ucap Dio. Bergidik sendiri mendengar julukan yang disebut oleh Arsya untuk Vira.
__ADS_1
"Tapi lo harus ati-ati, Yo. Kalau yang ini gue akuin bener-bener lihai mainin cowok." Arsya langsung saja bongkar kartu. Habisnya ia tak tega kalau teman bobroknya ini jadi salah satu korban kegabutannya Vira.
Arka membiarkan candaan-candaan itu berlalu lalang begitu saja. Pandangannya tertuju pada Pak Uus yang terlihat gegabah entah sedang berbincang dengan siapa.
"Mau ke mana lo, Ka?" tanya Arsya spontan saat melihat Arka berdiri dari duduknya.
Arka geming tak menjawab. Pandangannya menyipit menatap pintu gerbang yang seperti sedang di dorang oleh segerombolan pemuda.
"Arka! Ar, Arka!" panggil seorang cowok berlari terengah-engah pada gerombolan Arka.
Dengan pembawaan seserius itu, cowok itu langsung menjadi pusat perhatian gerombolan Arka, cowok-cowok yang sedang nongkrong di parkiran, dan para penghuni kantin.
"Kenapa lo?" tanya Arka mengernyitkan dahi.
"Anu, Ka ...," jawab cowok itu kemudian ngos-ngosan lagi "... anak-anak SMK sebelah ... nyariin elo."
...💕...
Roof Top SMA Tunas Bangsa
"Gue putus, Gaes," ucap Rana langsung pada intinya. Pandangannya tertunduk ke bawah mengingat kejadian di mana hubungannya dengan Daniel benar-benar berakhir.
"Ha? Putus? Apanya, Ra? Sandal lo putus? Beli lagi sana!" timpal Vira santai, sembari sibuk memperbaiki riasan wajahnya.
"Vir!" Rena langsung menyikut Vira. Kalau Rana sudah meminta berbicara seserius ini, pasti benar-benar telah terjadi sesuatu.
"Gue sama Daniel putus," ucap Rana memperjelas. Menegakkan kepalanya membalas tatapan sahabat-sahabatnya. Satu tetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Ra, are you fine?"
Vira, Rena, dan Nada langsung saja merengkuh bahu Rana.
"Enggaaak! Hiks ... hiks ... hiks .... Gue gak baik-baik aja," tangis Rana histeris.
"Kok bisa sih, Ra?" Vira benar-benar tak menyangka.
"Hiks ... hiks ... Daniel selingkuuh ...."
"Haa? Kok bisa? Sama siapa?"
"Geaaa ... hiks ... hiks ... hiks ...." Rana semakin histeris.
"What?!"
__ADS_1