
Arka melangkahkan kaki mengikuti cewek yang membawanya keluar dari restoran. Saat sudah sampai di luar, kepalanya sedikit mendongak memastikan keberadaan Rana di lantai dua sana. Gadis itu masih ada. Senyumnya masih belum luntur juga.
Arka kemudian mengalihkan perhatiannya. Ia menggeleng samar. Dijatuhkannya setangkai mawar yang ia bawa tanpa kata. Lalu melangkah lagi mengikuti Ingga yang sudah mendahuluinya duduk di kursi taman restoran ini. Sebuah kursi panjang yang diatasnya dinaungi oleh pohon rindang yang indah, dan sedikit jauh dari keramaian restoran.
"Duduk, Ka," ucap Ingga, meminta Arka duduk di sebelahnya.
Arka menurut tanpa kata. Ia bagaikan manusia yang hampa dan tak bisa bersuara. Dalam dirinya, sedang ada kegelisahan sebab membuat seorang gadis menunggu di sana lebih lama.
"Aku tadi ada acara ulang tahun keponakan, makanya bisa ke restoran ini. Gak nyangka juga bisa ketemu kamu di sini."
Arka masih diam.
__ADS_1
"Hari Jum'at kemarin aku mendarat di Jakarta. Ka ...." Ingga menolehkan wajahnya pada cowok di sebelahnya. Matanya menatap cowok itu dalam. ".... Aku kangen kamu."
Arka menoleh pada Ingga. Sejenak, ia terpaku. Tapi kemudian ia memalingkan wajahnya kembali. Ia menginginkan ungkapan itu sejak dulu. Namun, entah mengapa, sekarang rasanya sudah tak sama.
"Selama lebih dari setahun ini, apa aja yang lo alami? Apa aja yang elo dan Erlano hadapi?" tanya cowok itu, menatap lurus dengan tatapan kosongnya.
...💕...
"Nggak, Ra. Arka pasti dateng, kok ...," ucap cewek itu, berusaha tersenyum, walau ia sedang sendiri di ruangan lantai dua itu.
Bersamaan dengan monolognya itu, seorang perempuan berpakaian seragam pelayanan menghampirinya dengan sopan.
__ADS_1
"Maaf, Mbak, restoran sebentar lagi akan tutup. Jadi, kami harap Mbak bisa mengerti dan segera keluar dari restoran ini," ucap pelayan itu dengan posisi menundukkan kepalanya, tak mau terkesan tak sopan dengan apa yang diucapkannya.
Rana menunduk, kemudian mengecek ponselnya. Gadis itu mencoba menghubungi Arka. Namun, cowok itu justru sama sekali tak mengangkat telfonnya.
"Maaf, boleh saya di sini sebentar lagi?" tanya Rana, ada nada memohon dalam ucapannya, juga manik mata yang mengiba.
Dan setelahnya, pelayan itu pun pergi dengan syarat setelah beberapa saat lagi Rana akan menuruti permintaan mereka. Keluar dari restoran karena tempat itu akan segera ditutup sebab malam sudah begitu larut.
"Arka ... ayo dong, angkat. Jangan bikin aku khawatir ...," ucap gadis itu dengan mata memerah. Kecewa juga resah yang menghawatirkan. Ia takut terjadi sesuatu dengan Arka di jalan. Sebab tak mungkin ... Arka membuatnya menunggu selama ini tanpa alasan.
Ia kemudian berdiri, menatap langit malam yang semakin murung dari balik tirai jendela. Tapi kemudian, saat ia menundukkan kepalanya, bola matanya seketika dibuat berbinar oleh sebuah motor yang terparkir di sana. Ternyata, Arka sudah berada di restoran ini.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Rana dengan langkah kecilnya segera menuruni anak tangga. Tak lupa pula ia membawa tas miliknya. Di mana Arka? Jangan-jangan ... cowok itu sedang berencana akan memberinya kejutan yang lebih indah. Senyum Rana merekah sempurna.