
Kreek.... pintu rumah itu terbuka, disusul dengan munculnya seorang cowok dengan wajah lebam-lebam dan seragam sekolah yang masih lengkap.
"Arka? Kamu dari mana aja?" Sarah yang semendari tadi setia menunggu kepulangan anak tirinya itu di ruang tamu langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Arka penuh rasa khawatir, mendapati cowok itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Sial!" rutuk Arka lirih. Kenapa juga perempuan ini masih belum tidur di jam segini? Padahal alasan ia pulang larut malam begini adalah demi menghindari cerocosan panjang tante Sarah yang menyebalkan.
"Ka, kamu habis ngapain? Kok bisa lebam-lebam gini?" tanya Sarah menyentuh pundak cowok itu.
Arka yang malas menanggapi, sekaligus tak dalam keadaan hati yang sedang baik, tak basa-basi langsung mengenyahkan tangan itu dari bahunya begitu saja.
Sarah hanya menghela napas lirih sembari meremas tangannya. Masih berusaha untuk tak terluka.
"Mas! Maas! Arka pulang, Mas!" teriak Sarah pada mas Rangga yang sedang berada di ruangan kerjanya. "Sini, Ka." Tak sontak menyerah, wanita itu menarik tangan Arka pelan untuk didudukkannya di kursi sofa ruang itu.
Arka yang ditarik menurut saja, walau dengan wajah berpaling malas sekali meladeni istri muda ayahnya ini.
"Aduuh! Luka kamu banyak banget, sampe biru-biru gitu. Pasti sakit banget, ya? Udah dibawa ke rumah sakit belum? Kamu kok baru pulang sih, jam segini? Mama sama papa dari tadi nungguin kamu. Kalau gak cepet dibawa ke rumah sakit gimana? Entar bisa infeksi lho." Sarah mulai berceloteh panjang lebar seperti biasanya.
Mendengar semua rentetan kebawelan tante Sarah barusan, Arka memutar bola mata jengah. "Udah lah, Tan. Ngantuk gue," ucap Arka dingin kemudian berdiri dari duduknya.
"Arka!" Rangga dengan suara tegasnya menghampiri keduanya dan duduk di salah satu sofa, berhadapan dengan anaknya.
"Duduk!" titah pria itu dingin. Jelas sudah, dari mana sikap Arka diwariskan.
Arka yang tak pernah melawan perintah ayahnya, lantas duduk dengan patuhnya.
"Habis tawuran lagi. Kamu sekolah, sebenarnya untuk pintar, atau hanya untuk sok-sokan?!" gertak Rangga dengan suara mulai meninggi. Anak laki-laki satu-satunya, jika sudah brutal begini kalau tidak dikerasi, mau jadi apa?
Arka diam. Tak ada pembelaan diri apalagi bantahan.
"Sekarang, berdiri! Ayo ke sini!" titah Rangga lagi.
Arka berdiri sembari merutuki diri dalam hati. Sistem pembelajaran ayahnya yang tiada ampun ternyata masih berlaku juga, setelah sekian lama ia tak merasakan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Sebelum Papa menghukum kamu, Papa memberi kesempatan untuk kamu membela diri," ucap Rangga berdiri menghampiri anaknya dengan langkah tegas.
Sarah yang tak tahu apa yang akan terjadi hanya bisa diam saja. Kenapa keadaan jadi sedingin ini? Kenapa mas Rangga seperti bukan mas Rangga yang ia kenal?
"Gak ada, Pa. Arka siap dihukum," ucap Arka menguatkan pertahanan tubuh. Bersiap menerima segala serangan yang mungkin akan diberi oleh ayahnya.
Bruak!
Tak perlu tunggu lama, sebuah tendangan tanpa ampun mendarat di kaki cowok itu hingga membuatnya tertatih mempertahankan posisi berdirinya.
"Mas!" teriak Sarah menutupi mulutnya terkejut.
"Argh," gerang Arka menahan rasa sakit.
"Jangan nangis! Seorang laki-laki sejati akan selalu bertanggung jawab dalam setiap kesalahannya," ucap Rangga tanpa rasa kasihan.
Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata Sarah. Benarkah pria ini adalah suaminya?
Bruak!
Bruak!
"Udah, Mas! Kasihan Arka, dia masih anak-anak," ucap Sarah memohon.
"Kalau tidak diajari sejak dini, bisa-bisa dia tambah menjadi." Rangga kukuh pada pendiriannya. Hendak melakukan penyerangan lagi.
"Udah, Mas! Udah!" teriak Sarah menahan tubuh suaminya, sedang Arka hanya bisa meringis menahan rasa sakit tanpa bersuara.
Rangga kemudian menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Ini adalah kali terakhir. Kalau ini terjadi lagi, Papa tidak akan segan-segan," ucap Rangga kemudian berlalu meninggalkan Arka dan Sarah begitu saja.
"Ka, sini Mama bantu," ucap Sarah hendak membantu Arka bangkit berdiri.
"Gak usah!" ucap Arka menatap dingin pada wanita di hadapannya. "Gue bisa sendiri," lanjutnya kemudian bangkit dengan tenaganya yang tersisa.
__ADS_1
"Oh ya, satu lagi, lo itu bukan ibu gue, jadi stop sok baik sama gue karena gue gak butuh semua kebaikan lo," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Sarah dengan segala sakit di hatinya.
...💕...
Kamar Rana
Gadis itu tak kunjung terlelap di jam selarut ini. Setelah jalan-jalan tadi Raja mengantarnya dan kemudian mengobrol banyak dengan ayahnya, sedang ia langsung berlalu ke atas saja. Malas sekali melihat om Cipto yang anehnya bisa berubah-ubah sikap sedemikian rupa.
Dengan posisi masih berbaring di ranjangnya, Rana mengambil sebuah foto yang ia selipkan di bawah buku-buku di atas meja belajarnya. Mengamati foto itu cukup lama. Foto dua orang cowok dengan seragam SMA Tunas Bangsa. Arka dan Raja. Tersenyum lebar ke arah kamera, walau dengan wajah lebam-lebam tak keruan, kurang lebih seperti keadaan Arka saat ini.
Jadi, Arka dan Raja dulu cukup dekat? Tapi kenapa keduanya sekarang seperti saling tak kenal? Tak ada tegur sapa saat Raja pertama kali datang ke sekolah. Arka yang tiba-tiba menyempatkan diri bersama anggotanya menyambangi kantin bu Ratih, dan Raja yang tak banyak bicara setelah kedatangan Arka. Seperti ada gelagat yang tak beres di sini.
...💕...
Dengan posisi membelakangi suaminya yang sudah terlelap, wanita itu terisak menahan tangis. Kesakitan Arka adalah kesakitannya juga, tapi mengapa anak itu malah sama sekali tak menganggapnya sebagai Ibu? Ditakdirkan tak bisa memiliki keturunan, apakah takdirnya memang seperih ini?
Tiba-tiba mas Rangga memeluknya dari belakang, membuatnya agak terkejut. Sarah mengusap air matanya, tapi tidak berucap apa-apa.
"Aku ngelakuin ini semua demi kebaikan Arka juga. Supaya dia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Supaya dia bisa menjadi orang yang bertanggung jawab," ucap Rangga lirih.
"Tapi Mas nggak perlu sekeras itu," ucap Sarah mulai bersuara. Masih dengan posisi yang sama.
"Kalau tidak dikerasi, maka dia akan semakin menjadi tanpa ada yang ditakuti."
"Tapi, Mas, kekerasan bukan cara mendidik anak yang benar. Kita harus ngajari Arka tentang kasih sayang."
Heningnya sejenak. Rangga tak kunjung memberi tanggapan.
"Diajari tentang kasih sayang, peduli apa dia tentang hal semacam itu? Aku tau, kalau Arka gak bersikap baik sama kamu. Tapi aku gak tau caranya." Jemari Rangga perlahan mengusap air mata Sarah.
"Mas tau?" tanya Sarah memastikan, setelah mengubah posisinya menghadap pada mas Rangga.
"Iya. Maafkan Arka untuk semua itu."
__ADS_1
"Aku udah maafin Arka ... sekarang aku ngerti kenapa dia bersikap gitu sama aku. Di umur sepuluh tahun ditinggal oleh seorang ibu ..." Sarah kemudian menyentuh pipi Rangga, "... memiliki seorang ayah yang sibuk bekerja dan mendidik dengan cara kekerasan, wajar saja kalau Arka tak punya belas kasih dan rasa kasih sayang."
"Dek? Kamu lagi nyalahin aku?" tanya Rangga tanpa meninggikan suaranya.