
Mobil berhenti mulus diparkiran SMA Tunas Bangsa, keempat cewek itu langsung menghela napas lega lantaran dapat dipastikan mereka lolos dari keterlambatan. Untung saja, Rena jago kalau soal kebut-mengebut dengan kendaraan roda empatnya ini.
Tak butuh waktu lama keempat cewek itu segera turun dari mobil. Seperti biasa, seluruh mata langsung tertuju pada mereka. Satu, si anak walikota kaya raya. Dua, si anak terpintar di sekolah. Tiga, si cewek yang terkenal dibincangkan cowok-cowok di sekolahan. Dan ke empat, si pendatang baru yang tiba-tiba menjadi Idola di SMA Tunas Bangsa. Barbie titisan dari surga, katanya.
Mereka kemudian berjalan beriringan. Vira tak lupa mengembangkan senyumnya ramah. Untung saja ia sudah memperbaiki make up-nya barusan, jadi sudah terlihat lebih baik. Mungkin nanti akan diperbaiki lagi kalau ada jam kosong. Rena tadi terlalu ngebut, jadi ia agak kesusahan memoles wajah.
Rana tersenyum riang memperlihatkan sederet giginya yang berjajar rapi sembari melambaikan tangan menyapa semua orang. Wah! Ia jadi seperti artis kalau begini.
Pandangannya kemudian tertuju pada Arka dan rekan-rekannya. Pagi-pagi sudah nongkrong di tempat biasanya. Teman-teman cowok itu tersenyum ramah padanya. Dio sampai ikut melambai-lambaikan tangan segala.
Rana balas melambaikan tangan. Dilihatnya Arka sedang melihat entah ke mana, intinya bukan ke arahnya. Dasar cowok jutek! umpatnya dalam hati.
"Paagi, Arkaaa!" sapanya riang, tak lupa dengan lambaian tangan tinggi.
Mendengar Rana menyapa Arka, teman-teman cewek itu langsung ikut berhenti. Jangan-jangan dugaan mereka benar. Antara Arka dan Rana, memang ada apa-apanya.
Disapa seperti itu, Arka menatap Rana malas. Cewek ini benar-benar, suka sekali mencari mati. "Mana jeket gue?" tanyanya pada akhirnya mengeluarkan sepatah kata.
Mendengar Arka bertanya seperti itu, membuat semua orang langsung menatap Arka dan Rana secara bergantian. Baru pertama masuk sudah membuat gosib baru.
"Hehehe, belum kering atuh, Arkaaa ..." Rana merenges tanpa dosa, kemudian berlalu begitu saja seolah tak ada apa-apa.
Rena, Vira, dan Nada heran dan bertanya-tanya, tapi kemudian tetap mengikuti langkah riang cewek itu.
"Dasar cewek aneh!" umpat Arka kemudian memalingkan wajah malas.
"Ka, lu ada apa sama Rana?" tanya Dio langsung menginterogasi.
__ADS_1
"Emang keliatannya ada apa?" respon Arka acuh tak acuh.
"Ra, lo ada apa sama Arka?" tanya Vira dengan jiwa kepo yang meronta-ronta. Bagaimana bisa, seorang ratu ghosip seperti dirinya melewatkan bibit ghosip sepanas ini?
"Emm ... nanti jam istirahat gue mau nyeritain sesuatu sama kalian. Tentang gue sama Daniel," ucap Rana tak seperti biasanya. Terdengar serius tanpa bercanda.
...💕...
Tongkrongan itu sudah ramai tak terkira. Bagaimana tidak? Saat ini ketua gank mereka sedang dilanda bencana. Kesalahpahaman yang berujung pada kata putus dari sebelah pihak.
"Udah coba ke rumahnya?" tanya Regy setelah Daniel menceritakan seluruh kejadiannya lengkap dengan seluk-beluknya juga.
Daniel mengacak-acak rambutnya frustasi. "Udah. Bokapnya gak ngebolehin gue ketemu. Dia jarang keluar rumah," jawab Daniel lemas.
"Udah coba telfon?" Reza angkat bicara.
"HP-nya kan, ancur. Kayaknya udah ganti nomer dia," jawab Daniel lagi.
Yang lain mengangguk-angguk setuju saja, sedang Daniel malah menatap Reza jengah. Ide buruk macam apa ini? Benar-benar memalukan.
"Oke!" Regy tiba-tiba menjentikkan telunjuknya. Membuat semua tatapan langsung tertuju padanya.
"Kita langsung ke SMA Tunas Bangsa aja buat ketemu sama Rana. Kalau bisa, kita juga harus kasih pelajaran sama Arka. Siapa suruh dia pake ikut campur segala?"
Daniel tersenyum puas. Benar juga kata Regy, di SMA Tunas Bangsa, dia bisa menjelaskan semuanya pada Rana. Juga sekalian menunjukkan pada si Arka itu, siapa dia yang sebenarnya.
"Good idea," ucap Daniel menyetujui usul Regy.
__ADS_1
"Siip! Gua ikut!" Reza berteriak girang. Lumayan, siapa tahu ia juga bisa bertemu dengan gebetan barunya, Vira.
Semua mata langsung tertuju padanya. Bisa-bisanya berteriak girang di tengah musibah yang tengah melanda ketua ganknya.
"Yang ikut jangan banyak-banyak. Kita ke sana orang sepuluh aja. Gue gak mau Rana salah paham lagi. Gue cuma mau jelasin semuanya sama Rana, bukan mau bentrok sama anak SMA Tunas Bangsa," ucap Daniel memutuskan. Intinya, ini adalah salah satu usahanya untuk mendapatkan kembali Rananya.
...💕...
Kelas 11 IPA 1
Tek... tek... tek..., jemari Rana bermain dengan pulpennya. Dimasukkan, kemudian dikeluarkan. Dimasukkan, dikeluarkan. Dimasukkan lagi, kemudian dikeluarkan lagi, begitu seterusnya. Entah apa yang sedang ia fikirkan. Otaknya seperti melayang ke mana-mana. Padahal, sekarang sedang pelajaran fisika. Seharusnya Rana tahu ia harus fokus. Berusaha fokus saja ia belum tentu paham, apalagi kalau tak fokus sama sekali. Bisa jadi otaknya sama sekali tak terisi.
Di samping Rana, Vira sedang memfokuskan fikirannya. Berusaha tak peduli bahwa saat ini hatinya sedang meneriakkan nama seseorang. Seseorang yang sangat ia benci, namun mungkin juga sangat ia cintai.
Rena malas mendengarkan. Sesekali memperhatikan, sesekali menghayal ke mana-mana. Kalau Nada, ia seperti biasanya. Selalu memperhatikan dan selalu mudah memahami materi. Kalau pun belum paham, ia langsung menanyakannya, bahkan sering juga malah berdiskusi dengan guru mata pelajarannya.
Di ujung sana ada Dio. Sedang sibuk mengatur menu makanannya untuk jam istirahat hari ini. Menurutnya, ia tak perlu terlalu lebay mendengarkan dan memahami materi ini. Toh, materi ini sudah ia dapatkan tahun lalu. Tak apalah kalau tinggal kelas lagi. Wajah imutnya masih cocok untuk berbaur dengan wajah-wajah adik kelasnya lagi.
"Rana!" Suara pak Hendra menggelegar, memecah fokus murid-muridnya. Menyipitkan mata menatap pendatang baru di kelas ini.
Hening, tak ada respon dari si pemilik nama yang di panggil. Hanya terdengar suara tek ... tek ... tek ..., pulpen yang dimainkan.
Vira langsung menyenggol tangan Rana. Merinding sekali mendengar pak Hendra memanggil nama temannya satu ini.
"Ha? A-apa, Vir?" tanya Vira tergagap, menoleh pada teman di sebelahnya.
Vira menepuk jidatnya pelan. Dasar Rana! Sudah diberi tahu guru fisika galaknya minta ampun, bisa-bisanya temannya itu malah seenaknya melamun. Huh ... ceroboh sekali.
__ADS_1
"Rana! Ayo kerjakan soal nomer satu," titah pak Hendra dengan wajah datar menakutkannya. Siapa suruh macam-macam saat jam pelajarannya.
Mata Rana langsung membulat. Sial! Ia disuruh mengerjakan soal di papan tulis. Bagaimana cara mengerjakannya? Mendengarkan saja tidak. Bagaimana ia bisa paham? Dari tadi suara pak Hendra seperti suara sekelompok lebah yang hendak pindah rumah. Tak jelas dan tak ada hentinya.