
Tok! Tok! Tok!
"Pii...!!" panggil Rana mengetuk pintu rumah papinya tak sabaran. Padahal, jelas-jelas sudah tersedia bel rumah di samping pintu itu. Ah... dasar Rana.
"Piii!!" panggilnya lagi.
Kreek, pintu terbuka menampilkan wajah papinya yang tampak seperti baru saja bangun tidur.
"Huaaah." Darren menguap lebar kemudian menepuk-nepuk mulutnya berulang-ulang sehingga keluar suara lucu yang ia buat-buat.
"Iih ... daras Papi!" Rana menepuk lengan papinya. Lihatlah keadaan papinya saat ini. Hanya memakai celana bokser dan kaus oblong berwarna putih polos. Habis bangun tidur lagi. Pasti hari ini tidak kerja.
"Papi hari ini gak kerja?" tanya Rana menginterogasi.
"Ya enggak lah. Hari ini anak Papi mau dateng jadi Papi libur kerja biar bisa nungguin dia deteng," ujar Darren merangkul pundak Rana kemudian membawanya masuk ke dalam.
"Terus Papi tidur dari pagi sampe sore?" tanya Rana setelah duduk di sofa.
"Hahaha,,, tau aja kamu, Ra. Itu kan hobi Papi. Sama Mami, udah izin mau ke sini?"
"Enggak," jawab Rana kemudian memanyunkan bibir mungilnya.
"Loh, kok gitu?" Darren mengernyit.
"Mami sama Om Cipto habis marah-marahin aku. Pokoknya aku ngambek sama Mami," sungut Rana bersedekap tangan.
"Mampir ke klinik gue!" teriak Raja agar terdengar oleh keempat cewek yang berada di mobil milik Rena. Berjarak cukup dekat dengan mobilnya.
"Siaap!!" seru Vira masih bersemangat. Hari yang menyenangkan. Mereka berjalan-jalan bersama Raja dan teman-temannya yang tak kalah seru. Dan sekarang, mereka akan berkunjung ke klinik milik Dr. Broto ayah Raja. Raja tadi bercerita, tadinya sebelum ia aktif bersekolah ia sempat memegang kendali klinik itu. Cerita itu tentu menarik minatnya. Ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Dokter apa saja yang penting bukan dokter spesialis kelamin. Jadi ia meminta Raja untuk membawa mereka berkunjung ke kliniknya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, kedua mobil itu terparkir mulus di depan sebuah klinik yang cukup besar lengkap dengan taman kecil yang memperindah tampilannya.
"Masuk yuk! Kayaknya lagi sepi deh," ajak Raja setelah mereka semua keluar dari mobil.
"Waah... ini dia tour yang gue suka. Habis ini gue mau tanya-tanya tentang prosedur melayani pasien. Dan gak lama lagi ... kalian bakal nyaksiin temen kalian yang tiba-tiba jadi dokter terkenal. Dr. Syafira Syifanya yang ternama!" ujar Vira berapi-api kemudian langsung saja melangkahkan kaki menuju pintu masuk klinik. Sangking bersemangatnya, ia sampai mendahului langkah si tuan rumah.
Vira berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan "Konsultasikan diri anda disini" pintu itu tak tertutup, tapi juga tak sepenuhnya terbuka.
......................
Di dalam ruangan kerjanya, Zein menimbang-nimbang sembari menatap layar ponselnya masih ragu untuk menekan tombol call.
Sikap Vira yang selalu saja menghindarinya semakin hari semakin membuat ia gelisah. Ia seperti tersiksa, kehilangan adik kecilnya yang selalu ceria. Ia harus segera memperbaiki hubungannya dengan Vira. Meminta maaf karena ia meninggalkannya dalam waktu yang amat lama. Mengatakan padanya bahwa ia rindu pada Vira yang dulu. Vira yang amat dekat dengan dirinya.
Kreek...
Suara pintu yang dibuka spontan saja membuyarkan lamunannya. Ia segera melihat ke arah sumber suara.
"Vira?" ucapnya menyebut nama gadis itu. Baru saja ia hendak menghampiri, gadis itu sudah berlari. Tak mau betul bertatap mata dengannya.
"Vira!" panggil Zein berlari mengejar Vira. Merasa bersalah sekali dengan sikap Vira yang seperti ini.
"Mau ke mana lo, Vir?!" tanya Rena bingung tiba-tiba melihat Vira yang berlari. Tapi Vira sama sekali tak mengacuhkan pertanyaan Rena. Tetap berlari karena ia tak mau menemui orang itu. Cinta pertama yang langsung kandas. Sakit bukan? Apalagi pria itu sudah sangat dekat dengannya.
"Loh, Dokter?" ujar Raja mendapati dokter muda yang bekerja di klinik ayahnya tiba-tiba ikut berlari mengejar Vira.
Semua teman-teman Vira turut memperhatikan adegan yang terjadi. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba berlari?
Jangan-jangan mereka sedang main kejar-kejaran? - Masih jaman ya?
__ADS_1
"Vir!!" panggil Zein, akhirnya berhasil menggapai pergelangan tangan Vira.
"Lepasin!" Vira menyentakkan tangannya berusaha melepaskan diri dari kak Zein. Kalau saja ia punya trik untuk menghilang, tentu trik itu akan langsung ia gunakan di detik-detik seperti ini.
"Vira!" panggil kak Zein lagi, tiba-tiba menarik Vira ke dalam pelukannya.
Vira membulatkan mata. Terkejut sekaligus tersentak. Tetapi tak mampu melakukan perlawanan apa pun.
Zein mengelus pundak Vira. Memeluknya hangat guna melampiaskan segala rindu yang menyiksanya selama ini.
"Vir, jangan hindarin Kak Zein lagi. Kak Zein kangen banget sama kamu yang dulu," ucap Zein terdengar getir.
Vira mengatupkan bibir. Menahan serak di dadanya serta air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Kak Zein memang bodoh! Bukan hanya Kak Zein yang rindu. Ia juga. Bahkan mungkin rasa rindunya lebih besar melampaui rasa rindu kak Zein padanya.
"Kak Zein minta maaf karena gak bisa nurutin kemauan kamu. Minta maaf juga karena gak coba hubungi kamu selama ini," ungkap Zein kemudian melepaskan pelukannya.
"Vira mau kan, maafin Kak Zein?" tanyanya memegang kedua pundak Vira.
Vira mengangkat kepalanya memandang mata kak Zein. Mengangguk-angguk dengan air mata yang kemudian deras sekali membasahi pipinya.
"Kak Zeiin!!" pekiknya serak memeluk Kak Zein lagi. Tangan kanannya kemudian tanpa ampun memukul-mukul dada pria itu. "Harusnya Kak Zein nurutin kata Vira! Pokoknya Vira bakal ngambek lagi kalau Kak Zein berani ninggalin Vira lagi!" amuk Vira kemudian melepas pelukannya.
"Iya-iyaa ... janji," ucap Zein menyodorkan kelingkingnya.
"Janji?" Vira kemudian membalas uluran kelingking Kak Zein.
"Iya," ucap Kak Zein tersenyum, kemudian mengusap air mata di kedua pipi Vira. "Jangan nangis lagi, entar cantiknya hilang loh," ucapnya lagi, kemudian mengacak-acak rambut Vira gemas.
"Gara-gara Kak Zein sih," ujar Vira mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Rena dan Nada hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala menyaksikan adegan barusan. Dasar Vira! Pasti dia gagal move on lagi.