The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Khawatir


__ADS_3

"Lo dengerin gue gak sih?!" gertak Arka lagi seraya melepaskan lengan Rana begitu saja. " Lo pikir gak bahaya apa? Dia itu lagi mabuk, Raa.... Untung lo gak diapa-apain." Arka sudah tak tahan menahan kekesalannya semendari tadi.


Rana hanya tersenyum tak banyak menanggapi. Ternyata Arka bisa cerewet juga ya, ucapnya dalam hati.


"Udah, ngomelnya? Sekarang giliran lo yang harus ikut gue," ucap Rana kemudian tanpa basa-basi menarik tangan cowok itu.


Arka mengernyit. Ngomel? Berani sekali cewek ini mengoloknya. Huh, Arka sebal sekali, tapi tetap menurut mengikuti langkah kecil cewek di hadapannya ini.


"Oke, sekarang lo tunggu sini dulu, ya," ucap Rana kemudian berlalu begitu saja memasuki UKS.


Rana agak bergidik melihat penampakan di dalam UKS. Banyak sekali teman-teman Arka yang sedang dibalut lukanya di ruangan ini. Ia jadi turut merasa bersalah akan semua kerusuhan yang telah terjadi hari ini.


"Mal, gue minta kotak P3K juga dong," ucap Rana pada Mala yang sedang sibuk membalut luka seorang cowok di sampingnya.


"Kotak P3K? Eh, masih ada gak ya, Ra. Coba deh, periksa di laci-laci dalem situ."


"Oh, okey," ucap Rana kemudian berjalan menuju laci-laci yang dimaksud oleh Mala.


Dibuka-bukanya laci-laci itu dari yang teratas. Laci pertama, isinya kumpulan bedak dan lipstik. Rana kemudian menoleh pada Mala dan Menggeleng-gelengkan kepala heran. Laci kedua, isinya beberapa bungkus cemilan. Rana geleng-geleng lagi.


"Laci yang ke berapa, Mal?" teriak Rana mengimbangi suasana UKS yang ramai, sembari membuka laci nomor tiga.


"Laci yang paling bawah, Ra!" teriak Mala menjawab.


Rana tak menanggapi jawaban Mala. Matanya terhenti pada sebuah foto yang tergeletak sebatang kara di laci nomor tiga.


Di bawah pepohonan, Arka terduduk sendiri menunggu Rana yang entah sedang apa. Pandangannya menatap lurus pada pintu gerbang di depan sana. Bayangan kejadian barusan masih teringat di kepalanya. Sudah lama sekali tak merasakan rasanya tawuran. Dan anehnya, tawuran kali ini disebabkan oleh seorang cewek yang ... ah, sulit untuk menjelaskannya.


"Ka?"


Mendengar namanya di panggil, Arka langsung menoleh ke arah sumber suara. Cewek itu tersenyum padanya. Senyum yang sama seperti yang ia berikan beberapa waktu lalu.


"Kalau sakit bilang, ya," ucap Rana hendak membuka kotak P3K di tangannya. "Eh, ini gimana sih, bukanya?" Rana kebingungan sendiri membuka kotak P3K itu. Ah, dasar Rana.


Arka menghela napas kemudian meraih kotak P3K itu dan membukanya dengan mudah.


"Hehehe," prenges Rana mengambil kotak itu dari tangan Arka.


"Daniel itu mabuk, lo ini bener-bener gak ada takutnya, ya?" Arka masih tak habis fikir.

__ADS_1


"Udah ... toh buktinya gue gak diapa-apain, kan? Liat nih, diri lo sendiri. Udah kayak buronan polisi," ucap Rana kemudian mulai mengobati luka di tangan Arka.


Arka menghela napas lagi. "Ya tetep, lo harus dengerin omongan gue," ucapnya lirih, memalingkan wajahnya dari Rana.


"Iya deh, iya. Tahan ya, Ka. Ini kayaknya agak sakit deh." ucap Rana kemudian menyentuh pipi Arka dan memalingkan wajah cowok itu kepadanya secara perlahan.


Arka agak tersentak, tapi sama sekali tak melawan.


"Argh," gerang Arka merasa perih di bagian pipi kirinya.


"Tuh, kan. Gini lo masih mau sok-sokan ngelindungin gue," kekeh Rana tapi tetap fokus mengobati luka Arka.


Arka tak menanggapi Rana yang mengoloknya lagi. Dalam diam ia mengamati raut wajah cewek itu.


"Ra, lo ... udah balikan sama Daniel?" tanya Arka masih menatap lurus wajah gadis itu.


Sejenak Rana terhenti dari kegiatannya mengobati cowok itu, mengembangkan senyum, dan kembali fokus dengan lebam-lebam di wajah Arka lagi.


"Taraaa! Udah selesai," seru Rana riang sembari berpose seperti Cerybell di hadapan Arka. Tangannya kemudian sibuk menata kembali kotak P3K di pangkuannya.


"Ra." Arka menahan tangan Rana ketika cewek itu hendak berdiri dari duduknya. "Lo belum jawab pertanyaan gue," ucapnya menagih jawaban.


Dari jauh, Raja meremas erat kemudi mobilnya. Semakin lama diamati semakin membuat hati panas saja.


"Udah lah, kalah selangkah belum tentu lo gak bisa dapetin dia kok," ucap Jordy menepuk pundak temannya itu.


Raja memalingkan wajah dari pemandangan Arka dan Rana, kemudian Melaju kencang seolah sedang melampiaskan segala emosi.


...💕...


"Arka tadi gimana, Ra, keadaannya?" tanya Vira ketika mobil mulai melaju keluar dari pelataran SMA Tunas Bangsa.


"Ya gitu." Rana menggeleng kepala pelan. "Mukanya kayak abis diserang sama pasukan militer tawon. Sama sekali gak terselamatkan," ucap Rana lagi.


"What?! Lo serius, Ra?" respon Vira sembari menutup mulut yang terlanjur menganga.


Rana menghela napas, kemudian mengangguk lemas. Lebam di wajah Arka itu ... pasti rasanya sakit sekali. Terbukti cowok itu sampai menggerang kesakitan ketika ia mengoleskan obat di bibirnya yang berdarah.


"Huh! Sayang banget deh, pasti udah gak seganteng dulu," celoteh Vira semaunya saja.

__ADS_1


"Vira mah, gue jadi ngerasa bersalah nih, Vir. Selalu aja Arka yang bantuin gue dari masalah-masalah gue. Malahan, sekarang semua juga kena imbasnya."


"Eh, sorry-sorry, Ra. Maksud gue bukan gitu. Gue tuh cuma sayang kalau cowok seganteng Arka mukanya kenapa-napa. Kan, gue jadi gak bisa cuci mata," prenges Vira kemudian menunjukkan wajah tanpa rasa bersalahnya.


"Yee ... dasar buaya!" ucap Rana kemudian mengerucutkan bibir mungilnya pura-pura cemberut.


"Yaudah ya, gaes, gue turun duluan," ucap Vira setelah mobil Rena berhenti tepat di hadapan rumahnya.


Ketiga temannya hanya tersenyum, tetapi bukan untuk menanggapinya melainkan tersenyum pada seorang cowok yang tengah berjalan ke arah mereka. Wajah tampannya terlihat segar sekali lengkap dengan senyum menawan yang tak tanggung-tanggung ia kembangkan secara percuma.


Vira yang tak menyadari kedatangan kak Zein langsung saja turun dari mobil.


"Hai, Vir!" sapa Zein setelah tak berjarak jauh dari cewek itu.


Mendengar suara itu Vira langsung tercenung, menoleh sekilas, kemudian langsung memalingkan wajah.


"Dah, girls! Gue masuk dulu, ya!" seru Vira kemudian berlari secepat kilat segera memasuki pelataran rumahnya.


Bruak!


Suara pintu rumah yang ditutup kasar mengejutkan Soraya.


Napas Vira tersenggal-senggal setelah menutup pintu. Kedua tangannya kemudian merasakan debar di dadanya. Ah, sial! Kenapa selalu saja seperti ini? rutuknya dalam hati. Namun sejurus kemudian beralih mengintip kak Zein dari balik jendela rumahnya.


"Huh! Dasar kak Zein! Harus banget ya, senyum semanis itu?" ungkapnya masih sibuk mengawasi seseorang yang barusan ia sebut namanya itu.


"Ekhm, siapa, Vir, yang senyumnya manis banget?" tanya Soraya mengikuti gerak-gerik anaknya.


"Itu loh, kak Zein," jawab Vira tanpa menoleh sedikit pun pada yang mengajaknya bicara.


"Oooh, Kak Zein yaa ...," ucap Soraya kemudian menyentuh pundak Vira pelan.


Vira langsung menoleh. "Mamah?!" teriaknya terjingkat.


"Hehehe, cieee ... yang abis ngintipin kak Zein," olok Soraya gemas sekali mendapati rona merah di pipi anaknya.


"Ih, Mamah nakal deh!" sungut Vira langsung berlari ke kamarnya.


Soraya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku anaknya. Dasar ABG! Tinggal bilang suka, begitu saja kok repot, batinnya terheran-heran.

__ADS_1


__ADS_2