
Tiba-tiba sebuah balok kayu besar menghantam tepat mengenai punggung pria di hadapan Rana itu.
"Argh ...."
"Arka," gumam Rana.
"Wahh ... kayaknya ada yang mau jadi pahlawan kesiangan nih," ucap pria itu setelah membalikkan badan dan mendapati seorang cowok berdiri sendiri dengan tatapan menantang yang tajam.
"Kalian semua, habisi dia!" komando sang Ketua mengisyaratkan telunjuknya pada Arka.
Satu komando saja, seketika gedung tua nan kumuh itu menjadi saksi bisu atas perkelahian yang terjadi di dalamnya. Suara pukulan demi pukulan menggema, disempurnakan pula dengan suara erangan kesakitan yang bersahutan.
Rana hanya bisa menutup mata rapat. Bukan lagi takut ia akan diapa-apakan, sebab Arka sudah ada di sini. Ia hanya takut terjadi sesuatu pada cowok itu. Arka sendiri, sedangkan pria-pria bejat ini berkelompok dan tampak menyeramkan sekali.
"Ra, ayo, Ra! Kita pergi dari tempat ini."
Dengan rasa ragu, perlahan ia membuka matanya. Merasa mengenali suara barusan.
"Daniel?" gumamnya mendapati seorang cowok tengah berusaha melepaskan ikatan-ikatan yang membelenggunya pada kursi yang ia duduki saat ini.
"Ayo, Ra!" Ajaknya lagi, menarik tubuh Rana agar segera berdiri dari duduknya.
"Tapi Arka ...." Dari posisi duduknya saat ini, dilihatnya Arka tengah berusaha mengalahkan pria-pria bertubuh besar itu.
"Udah, ayo aja!" Tak punya waktu lama. Daniel harus segera menarik Rana menjauhi tempat perkelahian. Setidaknya, saat ini keselamatan Rana adalah yang paling utama.
__ADS_1
"Daniel! Rana gak mau pergi dari sini," ucap cewek itu menghentikan langkahnya keras kepala sekali. Untung saja, mereka sudah berada agak jauh dari tempat perkelahian.
"Tapi, Ra, Arka nyuruh gue ...."
"Rana gak mau pergi kalau Arka masih di sini."
...💕...
Pukulan demi pukulan melayang pada tubuh cowok itu. Ia berusaha menghindar dan menangkis serangan-serangan itu sebisa mungkin. Diliriknya tempat dimana Rana diikat sebelumnya. Sudah tidak ada. Daniel sudah menjalankan tugasnya. Jadi, ia tak perlu khawatir lagi. Sekarang ia tinggal membereskan bedebah-bedebah ini.
Arka sedikit menjauh dari orang-orang itu. Dalam posisi siap sedia, ditariknya nafas sebagai persiapan sekaligus untuk mengumpulkan kekuatan. Kalau dari tadi ia hanya menghindar dan menangkis, sekarang adalah gilirannya untuk melakukan serangan.
Satu...
Tiga!
Bugh!
"Argh ...."
Bruak!
Tanpa ampun, segera saja cowok itu menghabisi semuanya. Sejak kecil ia sudah diajarkan dengan kekerasan. Jadi, apa lagi yang ia takutkan?
Di antara para penjahat yang sudah tersungkur di lantai, cowok itu berdiri tegak menyaksikan sisi kebrutalannya sendiri. Sisi kebrutalan yang entah sejak kapan berada dalam dirinya.
__ADS_1
Tak berjarak jauh di sana, Rana dan Daniel masih mengawasi di balik sisi sebuah dinding. Cewek itu tersenyum lega melihat Arka berdiri dengan gagahnya setelah mengalahkan semuanya. Tapi kemudian, senyumnya seketika menghilang. Dilihatnya seseorang di belakang Arka hendak melayangkan sebuah pisau kecil dengan kilat tajam pada ujungnya.
"Arka, awas!" teriaknya nyaring.
Arka yang terkejut mendengar suara Rana yang ternyata masih berada di sana, belum mencerna teriakan barusan. Cowok itu hanya menoleh pada asal suara, tanpa beralih dari posisinya.
Plang!
Sett....
"Argh ..." Arka melirik pada lengannya yang berdarah, dan kemudian menoleh ke belakang mendapati sang Ketua Kelompok berdiri di sana. Untung saja, pisau itu tak benar-benar tepat mengenai sasaran.
"Sekarang, kita satu lawan satu," ucap pria itu seraya memasang posisi.
Arka yang meskipun terluka, mau tidak mau harus menyanggupi tantangan pria itu. Cowok itu kemudian memasang posisi. Dan tak perlu tunggu aba-aba lagi, pertarungan akhirnya terjadi. Daniel yang menyadari Arka membutuhkan bantuannya, segera turun tangan.
Baru dua menit pertarungan, kemudian terdengar suara kericuhan.
Dor!
Dor!
Suara peluru yang dilayangkan tanpa tujuan, seketika sukses menghentikan pertengkaran yang terjadi.
"Angkat tangan! Semuanya angkat tangan!" titah seorang pria berseragam petugas polisi tiba-tiba sudah ada di sana. Dengan tatapan tegas mengacungkan senjata tembaknya.
__ADS_1