The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hubungan Tanpa Status


__ADS_3

"Iih, Arkaa!! Rana tetep gak bisaa ... kepala Rana jadi pusing, Arkaa!!" rengek Rana putus asa sekali. Ekspresinya sudah seperti anak bayi yang sedang meminta asi.


"Ranaa ...." Arka yang tentu saja sangat sayang pada Rana, tak ragu meraih kepala Rana dan mendekapnya.


"Kamu pasti bisa kok, Ra. Kemarin-kemarin aja kamu udah mulai bisa jawab soal yang aku kasih," ucap coba itu mengelus kepala Rana.


"Arkaa ... itu kan kemarin. Yang ini beda lagi. Lebih susah, tauu ..," keluh Rana masih dalam posisinya.


"Tetep semangat ya, Ra. Kan, aku ada si samping kamu terus."


Di dapur, Bi Ijah yang sedang merapikan ruangan itu hanya bisa membatin, ini sebenernya acara belajar bareng atau pacaran, sih?


Dredd... dredd... dreddd....


Arka yang masih berusaha memberi ketenangan pada Rana kontan melepas dekapannya kala merasakan ponsel yang terselip di saku celananya bergetar. Ia kemudian mengambil benda itu dan mengecek siapa yang menghubunginya kali ini.


Rana yang duduk di samping Arka hanya bisa melirik layar ponsel itu dari tempatnya. Sebuah nomor tak dikenal tanpa nama. Rana hendak bertanya siapa gerangan orang itu tapi Arka tiba-tiba sudah berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


"Sorry ya, Ra. Aku angkat telpon dulu," ucap cowok itu kemudian melangkah menjauh dari cewek yang sejak tadi bersamanya.


Rana yang ditunggu begitu saja hanya bisa menatap sedih punggung Arka yang semakin menjauh. Kini, ia dan Arka sudah terpisahkan oleh kolam rumah Arka yang entah seluas apa.


Hanya untuk mengangkat telpon saja, kenapa Arka sampai pergi menjauh darinya sejauh ini? Padahal, biasanya cowok itu akan tetap duduk di sampingnya walau sedang berbicara lewat telpon dengan temannya.


Apa jangan-jangan, orang itu....


"Loh, Ra? Mana Arka?" tanya Sarah tiba-tiba sudah menghampiri Rana dengan sepiring cemilan di tangannya. Wanita itu kemudian duduk di samping Rana.


Sarah sedikit terkejut. Tiba-tiba saja gadis yang diketahuinya sebagai gadis yang selalu ceria itu memeluknya erat. Seperti sedang ingin meluapkan segala keluh kesah.


"Kenapa, Ra? Ada apa? Cerita sama Tante." Wanita dengan status mama tiri Arka itu mengelus punggung Rana penuh empati.


Rana yang ditanyai seperti itu, bibirnya sungguh berat walau untuk mengucapkan sepatah kata. Di dalam pelukan Tante Sarah ia hanya bisa membisu. Ia malu mengungkapkan kecemburuannya. Ia sungguh malu. Memangnya, ia ini siapanya Arka? Memangnya, kapan Arka resmi menembaknya sebagai pacar?


Masih mendekap Rana dengan penuh kasih sayang, Sarah mengamati Arka yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Seperti Rana, hati wanita itu juga menerka-nerka; Siapa gerangan orang yang sedang bertelfonan dengan Arka sampai cowok itu rela meninggalkan Rana sendiri?

__ADS_1


"Rana pengen pulang, Tante," pinta Rana setelah kebisuan yang cukup lama. Ia masih belum melepaskan pelukannya. Ia hanya tak mau Tante Sarah menangkap kesedihan dari matanya.


"Ya udah, Abis ini Arka anter kamu pulang, ya?" Sebagai wanita, Sarah tentu paham betul apa yang kini tengah dirasakan oleh Rana.


"Rana dianter supir aja ya, Tan," ucap Rana lagi. Dalam fikirannya saat ini, ia hanya bisa mencerca Arka yang sebelum berangkat tadi mengatakan bahwa Alea tentu tak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan dirinya. Kalau benar begitu, lalu apa yang sedang dilakukan Arka saat ini? Bukankah ini adalah tanda yang sangat jelas, bahwa Arka juga terpikat dengan kecantikan Alea?


"Loh, kok gitu? Itu Arka udah jalan ke sini. Kan, tadi Arka yang bawa Rana ke sini. Masa iya, Rana dianter sama supir?" bujuk Tante Sarah. Ujung mata wanita itu memelototi Arka tajam.


"Rana kenapa, Ma?" tanya Arka dengan suara beratnya. Ia sedikit terkejut melihat keadaan Rana yang ... ia sendiri bingung cewek itu sedang mengantuk dan ingin tidur atau bagaimana. Ditambah lagi dengan plototan tajam mamanya. Ah,,, kenapa lagi ini?


Rana yang tersebab mendengar pertanyaan itu dari bibir Arka, mau tak mau melepaskan pelukannya dari Tante Sarah. Lagi-lagi ia malu. Malu ketahuan kalau sedang cemburu. Ah, sial! Kenapa ia jadi pemalu begini?


"Ra ..." Arka yang merasa ada hal yang tidak beres, kini sudah berada di depan Rana. Menyentuh pundak cewek itu dengan telapak tangan kanannya. Sorot matanya seolah sedang bertanya, kamu gak papa kan, Ra?


Rana menunduk. Tak mau balas memandang Arka. Ia sudah benar-benar tak tahan dengan hubungan tanpa status ini. Dengan Arka yang tak kunjung menembaknya, ia jelas tak punya hak sama sekali untuk melarang cowok itu dekat dengan siapa saja.


"Aku pengen pulang," ucap Rana pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2