
"Raja, jadi lo lebih belain dia dari pada gue yang sekelas sama lo? Naksir juga lo, ya?" tuduh Marsha tajam.
"Urusin aja urusan lo. Dan jangan lupa juga, kalau punya mulut dijaga. Ayo, Ra," ucap Raja kemudian berlalu membawa Rana bersamanya, pergi dari kerumunan cewek yang hobi sekali membully adik kelas.
"Lo gak papa kan, Ra?" tanya Raja sembari melepaskan rangkulannya, walau sebenarnya ia tak rela.
"Gak papa, I'm strong girl. Lo gak balik ke kelas?" tanya Rana, berusaha melupakan kejadian barusan.
"Gue anter dulu lo ke kelas. Lagian, bentar lagi apel."
"Ooh, iya," ujar Rana singkat.
"Ra, kalau ada yang macem-macem sama lo lagi, lo bilang ya, sama gue," ucap Raja setelah keduanya berhenti di depan kelas Rana.
"Hhh,,, maksudnya lo mau jadi malaikat pelindung gue? Gak apa lah, Ja, temen-temen gue aja udah cukup kok, buat jadi wonder woman gue. Tadi itu kebetulan aja, soalnya gue lagi jalan sendiri."
"Iya sih, tapi ...."
"Udah ya, Ja, gue ke kelas dulu. Pasti udah ditungguin temen-temen gue."
" Oke, deh."
"Daah!" Rana kemudian masuk ke kelas, bersikap biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
...💕...
Pak Kusma membenahkan kaca matanya, berdiri tegas menatap ratusan murid yang tengah berbaris di pelataran SMA Tunas Bangsa.
"Saya berharap kejadian kemarin tidak terulang lagi. Seharusnya, kita menjalin hubungan yang baik dengan SMK Karya Nusantara, bukannya malah terlibat tawuran begini."
Rana menundukkan kepalanya dalam. Bagaimana pun juga ia adalah sebab utamanya.
"Andra, bapak harap kamu bisa mengurus masalah ini. Tentang bagaimana caranya, Bapak serahkan saja semuanya pada kalian pengurus OSIS," ujar pak Kusma pada Andra, ketua OSIS SMA Tunas Bangsa.
"Baiklah, sekian saja pidato Bapak pagi ini. Bapak harap kalian hari ini bisa belajar dengan maksimal tanpa ada kendala sedikit pun," ucap pak Kusma mengakhiri pidatonya.
"Ra, lo gak papa, kan?" tanya Vira menyenggol tangan Rana.
"Ha? Kenapa?" tanya Rana sedikit tersentak.
"Gue perhatiin dari tadi lo diem aja, Ra. Padahal biasanya lo kan yang paling gak bisa diem, apalagi kalo pak Kusma lagi ceramah panjang lebar," ucap Vira. Semua orang sudah bubar dari barisan, tinggal keempat sahabat itu saja.
"Eh, Ra? Pipi lo kenapa? Kok merah gini?" Rena menyentuh pipi kiri Rana.
__ADS_1
"Ha? Masak sih?" Rana ikut menyentuh pipinya. " Vir, kaca dong."
Vira langsung mengeluarkan sebuah bedak dari kantong ajaibnya.
Rana memperhatikan wajahnya dari pantulan cermin, kemudian menepuk-nepuk pipinya pelan dengan saput bedak.
"Jujur, Ra! Lo kenapa? Siapa yang berani macem-macem sama elo?" Rena langsung mengintrogasi.
Rana tertawa kecil. "Apaan sih, Rey?" kekeh Rana sembari memberikan bedak yang dipegangnya pada Vira. "Orang gue tuh cuma gak cocok skincare. Soalnya kemaren abis coba-coba," elak Rana.
"Yang bener?" Vira tak yakin.
"Kamu gak bohong kan, Ra?" Nada turut tak percaya.
"Iya ... siapa juga yang berani macem-macem sama gue? Gak tau apa, gue titisannya Nyi Roro Kidul."
"Ih, dasar!" satu pukulan kecil hinggap di kepala Rana pelan, disusul suara tawa keempat cewek itu.
...💕...
Kelas 11 IPA 1
Suasana yang semula ramai, seketika beralih senyap ketika seorang wanita memasuki kelas itu diiringi suara hak sepatu berdetak yang semakin membuat suasana menegangkan.
"Hari ini ulangan harian. Bela, ayo kumpulkan buku semua teman-teman kamu ke meja Ibu," ucap bu Irma, guru mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas Rana Dkk.
"Vir, kok tiba-tiba udah ujian sih?" ucapnya lirih pada Vira di sampingnya.
"Ulangan, Ngatiyem."
"Iya, maksudnya itu. Gue lupa. Lo udah belajar?"
"Ya udah lah, gini-gini ingatan gue tajem."
"Rey, lo udah belajar?" Usai berbisik-bisik pada Vira, ia kemudian beralih pada Rena.
"Udah," jawab Rena singkat, sembari menyerahkan buku catatannya pada Bela, tak lupa dengan tatapan tak suka.
"Lo, Nad?" Ia kemudian beralih lagi pada Nada.
Nada yang tiba-tiba disebut, langsung menoleh ke cewek itu.
"Ah, lu mah gak usah ditanya kalo soal itu. Pasti udah hapal mati," ucap Rana lemas.
__ADS_1
"Udah lah, Ra, gak papa, bahasa kan main logika. Gak belajar pasti tetep bisa kok," ucap Nada keep calm.
Rana memukul jidatnya pelan. Harusnya ia tak berkonsultasi pada Nada mengenai hal ini. Sudah pasti kemampuan otak mereka berbeda. Cuma main logika? Lah, itu masalahnya. Paham saja tidak bagaimana ia bisa menjawabnya?
"Sekarang Ibu mau kalian berpindah tempat mengikuti instruksi dari Ibu."
Rana mengetuk jidatnya lagi. Cobaan apa lagi ini?
Peralihan tempat duduk pun berlangsung, mereka yang sebelumnya duduk berdekatan menjadi jauh tak beraturan.
Ujian berlangsung, Rana memijat pelipisnya bingung. Disebelahnya, Bella tak ada hentinya mengukir jawaban di atas kertas miliknya.
"Apa pesan tersirat yang dapat kita ambil dari cerita di atas? Lah, mana gue tau. Kalo ngirim pesan tuh makanya chat aja. Gak usah kode-kodean segala. Kan repot gue pahamnya," gerutu Rana tak tahu harus menjawab apa.
"Apa judul yang tepat untuk cerita di atas? Ya elah, repot amat. Gak usah dikasih judul aja kenapa? Lagian aneh-aneh, nulis cerita gak ada judulnya," gerutunya lagi. Pandangannya kemudian tertuju pada Nada yang tiba-tiba sudah berjalan ke depan hendak mengumpul kertas jawabannya, disusul Bela yang tak mau kalah saing, kemudian Rena dan Vira yang memang tipe orang yang malas sekali menikmati suasana ujian. Cepat dikerjakan, cepat pula keluar kelas.
Rana semakin memijat pelipisnya. Bisa-bisa ia nanti akan tertinggal sendiri. Ah, bu Irma keliatan judes banget.
Di luar kelas, Rena, Vira, dan Nada sedang berdiskusi.
"Gue mau belajar di perpus," Nada memutuskan.
"Oke, kalau gitu biar gue yang ke kantin. Entar gue bawain kalian makanan," ucap Vira semangat.
"Oke, berarti gue yang nungguin Rana di sini," ucap Rena kemudian duduk di kursi yang terletak tepat di depan kelasnya.
"Oke, bye!" ucap Nada kemudian berlalu.
"Daah, Rey!" diikuti Vira dengan suara cemprengnya.
"Yaa," balas Rena kemudian asik bermain dengan ponselnya.
...💕...
Perpustakaan
Nada berjalan perlahan menyisiri ruang perpustakaan sembari mengamati jejeran buku yang berjajar di lemari.
"Eh!" pekiknya terkejut hampir menabrak punggung seorang cowok di hadapannya.
"Sorry, sorry," ucapnya lagi. "Eh, Arsya?"
"Hai, Nad!" ucap Arsya meringis pada cewek itu.
__ADS_1
Nada menyipitkan matanya. Tumben-tumbenan bocah ini ada di sini. Pasti dalam hitungan detik Arsya akan berulah lagi.
"Hai," balas Nada singkat, kemudian fokus lagi mengamati jajaran buku. Berbalik arah hendak menjauh dari Arsya.