
Arka menundukkan kepalanya sejenak, melihat manik mata gadis itu. Tapi kemudian ....
"Ngga, aku duluan, ya!" Arka berbalik badan, pergi. Tak mengindahkan permintaan Rana tanpa pikir panjang.
"Arka!" panggil Rana, melangkahkan kakinya hendak menyusul cowok itu.
"Arka!" panggilnya sekali lagi, berhenti dari langkahnya, lunglai. Rasanya sakit sekali. Ia hanya meminta penjelasan, tidak lebih. Tapi Arka seolah tak sudi melihat wajahnya.
"Ya udahlah .... orang Arka juga udah jelas kan, milih siapa."
Kepala Rana menunduk sejenak, kemudian berbalik pada cewek dibelakangnya itu. "Gue cuman pengen ngomong, nggak lebih."
Ingga tertawa kecil. "Yakin, cuma ngomong? Atau ... lo mau mohon-mohon supaya Arka balik lagi ke elo?" Cewek itu melangkah mendekat pada Rana.
Rana diam. Menatap cewek itu tanpa perlawanan.
"Jangan mimpi. Lagian, lo liat muka dia yang lebam-lebam kayak gitu?" Ingga menyedekapkan kedua tangan di depan dada, mengarahkan pandangan pada punggung Arka yang sudah jauh di sana.
Rana menoleh ke belakang. Mengikuti arah pandangan Ingga. Gadis itu menghela napas.
__ADS_1
"Lo tau, dia bisa gitu gara-gara siapa? Ya ... siapa lagi kalau bukan gara-gara lo."
Rana melihat ke Ingga lagi. Masih dengan bibirnya yang terkunci rapat.
"Jadi, jauhi Arka sekarang juga," tegas Ingga, menatap Rana penuh tekanan.
"Nggak," jawab Rana akhirnya bersuara juga. "Nggak, sebelum Arka bener-bener bilang ke gue kalo dia lebih milih lo."
"Kurang jelas apa lagi?" tantang Ingga.
"Lo yakin, dia lebih milih lo? Emangnya ... kalian udah pacaran?" Rana menatap Ingga menantang. Ah, kalau begini, ia jadi ingat Alea. Kenapa dunia begitu cepat berbalik?
Ingga membisu, kemudian memalingkan wajahnya.
"Arka itu penuh teka-teki, dan gue masih belum nyerah buat nyari jawaban teka-teki itu," ucapnya, pelan namun jelas dan menusuk. Lalu melanjutkan langkahnya.
Ingga diam sejenak. Namun kemudian... "Ra," panggilnya. Rana hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh lagi.
"Arka bisa deket sama lo itu karena nggak ada gue. Lo harus tau tempat lo. Lo itu cuma pelampiasan!"
__ADS_1
Rana melangkahkan kakinya kembali. Rasanya sakit, tapi ia memilih menganggap ia tidak mendengarnya sama sekali. Memasuki kelas, cewek itu segera memberesi bukunya dan menenteng tasnya. Berjalan menuju kursi kosong di bagian belakang, mencoba mengacuhkan tatapan semua orang padanya.
Vira sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. Menilik tempat Rana. Gadis itu sudah duduk anteng di samping Dio. Menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya.
"Ra..." Setelah semua sudah fokus dengan dirinya masing-masing, Dio mengganti arah duduknya menghadap Rana.
"Lo gak papa, kan?"
Rana menoleh pada Dio. Tersenyum tipis. "Gue harus jawab apa, Yo? Mau gue bilang nggak papa, tapi kok rasanya sakit, ya." Gadis itu kemudian tertawa getir.
"Jangan down gitu, Ra. Gue juga heran sama Arka, cewek modelan Ingga dipertahanin." Bersamaan dengan ucapan Dio itu, seorang cewek masuk ke dalam kelas. Tanpa mengindahkan tatapan semua orang, melangkah menuju tempat duduk yang sebelumnya adalah milik Rana.
Rana menghela napas. "Yo, bantuin gue, ya?" ucapnya kemudian.
Dio menoleh pada Rana lagi. "Bantuin apa?"
"Gue pengen ngomong sama Arka.
Dio mengernyit. Bukan ia tak mau, tapi ia tidak membayangkan jika ucapan Arka pada mereka, akan diucapkan juga oleh cowok itu pada Rana. "Ngomong apa lagi, Ra? Saran gue, sekarang lo fokus aja sama diri lo. Obati sakit hati lo."
__ADS_1
"Gue butuh penjelasan, Yo. Gak mungkin gue bisa ngelanjutin langkah gue, kalau gue belum bisa lepas dari masalalu gue."
"Oke, gue coba."