The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Indahnya Dunia Perghostingan


__ADS_3

Senyum Vira langsung saja memudar ditelan oleh malam. Dadanya serasa dihantam oleh berton-ton batu nan tajam. Untuk inikah Kak Zein mengajaknya kesini? Untuk memberitahunya bahwa harapannya sedari dulu hanyalah sia-sia belaka?


"Ini dia seseorang itu, Vir." Zein berdiri dari duduknya, kemudian menyentuh pundak pacarnya. "Kiya, kenalin ini Vira, tetangga aku yang udah aku anggep kayak adik aku sendiri. Dan Vira, kenalin ini Kiya, pacar Kak Zein," jelas Zein tanpa ada semburat rasa bersalah pada warna wajahnya.


Kiya tersenyum, menyodorkan tangannya pada cewek yang dimaksud Zein sebagai adiknya, sedang Vira yang terlampau kesakitan, harus berusaha memaksakan senyumnya. Cewek itu berdiri dari duduknya, kemudian menyambut uluran tangan cewek yang berada dihadapannya.


"Syavira Syifanya," ujarnya, dengan senyum termanis dibalik luka terpahit.


"Zhakiya Zeenadya."


Setelah berkenalan, ketiga remaja itu pun kembali duduk di meja yang sama. Vira mengumpat dalam hati, kenapa ia harus kepedean begini? Andai saja ia tak berharap macam-macam sebelumnya, pasti rasanya tak akan sesakit ini.


"Yang, kamu udah pesen belum?" tanya Kiya pada Zein yang langsung dijawab dengan anggukan oleh cowok itu. "Kamu, Vir, udah?" tanyanya lagi pada cewek yang sebenarnya sangat tak ia senangi.


"Udah, Kak," jawab Vira tak lupa dengan senyuman dustanya. "Emm ... Kak Zein, Kak Kiya, Vira izin ke toilet bentar, ya," ujar Vira seraya berdiri dari duduknya. Benar-benar tak tahan untuk terus memasang tampang baik-baik saja-nya.


"Kenapa, Vir? Perut kamu sakit? Jangan-jangan mag kamu kambuh." Zein yang tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, bersegera bangkit dari duduknya.


"Eh, enggak kok, Kak. Vira udah sarapan tadi. Vira cuma mau benerin dandanan Vira dulu," karang Vira kemudian tersenyum lebar.


"Owh, gitu," ucap Zein kemudian kembali ke tempat duduknya.


Vira yang mendapat izin, kemudian melempar senyum pada cewek yang duduk di sebelah Kak Zein, lalu melangkahkan kaki menuju toilet sebagai tempat menenangkan diri.


Di toilet, cewek itu menatap dirinya di cermin, kemudian terisak menahan rasa sakit. Rasanya baru saja dunia seolah berpihak padanya. Tapi nyatanya harapan itu adalah kesalahan semata. Halusinasinya tak akan terkabul sampai kapan pun tiba.


Ya, Kak Zein bahkan mengakuinya. Bahwa ia hanya menganggapnya sebagai seorang adik saja. Tak lebih dan tak kurang.


Dirinya lah yang terlampau bodoh. Harusnya ia tak menaruh rasa pada cowok itu. Sudah jelas-jelas umur mereka tak sepadan. Sudah jelas-jelas dalam pandangan Kak Zein ia masih kekanak-kanakan. Lalu mengapa ia masih berharap? Padahal ia sudah tahu, bahwa harapannya lah yang menjadi sebab luka terdalamnya selama ini.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu. Vira sudah menghabiskan tisu di toilet itu. Kemudian, ia keluar dan melihat pantulan dirinya di cermin yang terletak di wastafel toilet bagian luar. Dikembangkannya senyumnya penuh dusta, lalu dikeluarkannya peralatan ajaib miliknya dari tas mini yang ia bawa.


Beberapa menit berlalu. Cewek itu kemudian menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Fighting, Vir! Lo pasti bisa! Di dunia perghostingan, gak ada yang namanya cewek lemah," ujarnya menyemangati diri sendiri.


Baru saja ia hendak melangkah, tapi kemudian ponselnya berdering. Pertanda ada seseorang yang menelfon.


"Reza?" ucapnya lirih, kemudian tak ragu mengangkat terfon itu. Ia bahkan tak sungkan menekan mode loudspeaker seperti kebiasaannya saat bertelfonan dengan cowok.


"Halo Vir!" sapa Reza di ujung sana.


"Hai, Za!" balas Vira, seraya mengubur segala rasa sakit hatinya dalam-dalam agar tak tiba-tiba muncul di permukaan.


"Dari kemarin aku chat gak dibales, telfon gak diangkat. Kamu lagi sibuk, ya?"


"Eh, emm ... sorry, kemarin aku abis hangout bareng temen-temen aku," jawab Vira terdengar riang saja. Pandangannya kemudian teralih pada seorang wanita yang baru saja memasuki area toilet. Dilemparkannya senyum manis pada wanita itu.


"Owh, gitu. Ya udah, gak papa. Kamu sekarang lagi dimana?"


Jauh disana, Reza tersenyum kegirangan, kemudian berdeham pelan. "Emm ... hari ini kamu gak ke salon? Padahal, aku pengen banget nemenin kamu ke salon," ujarnya tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Emm ...," Vira melemparkan senyum sungkan pada wanita yang sedang bercermin di sampingnya. "Entar deh, aku kabarin lagi."


"Owh, gitu."


"Daah, Yang! See you."


"See you to, Yang."


Tuut..., sambungan telepon mati.

__ADS_1


"Eh, Kak Kiya? Maap Vira di toiletnya lama," ucap gadis itu pada cewek disampingnya.


"Gak papa. Kirain kamu kemana, jadi Kakak cek ke toilet deh. Eh, ternyata kamu lagi telfonan sama pacar kamu," ujar Kiya tersenyum pada Vira. "Maaf ya, kayaknya Kak Kiya ganggu deh," ujarnya lagi.


"Eh, enggak kok, Kak. Duuuh ... Vira jadi malu deh," ucap Vira memperlihatkan prengesannya. Prengesan buatan tepatnya.


"Gak papa lah. Lagian kamu udah besar kok. Wajar, kalau emang punya pacar. Oh ya, emm ... kalau emang pacar kamu mau ngajak jalan, gak papa, ini kan hari minggu."


"Beneran? Gak papa, Kak?" tanya Vira berpura-pura antusias.


"Iya, gak papa," jawab Kiya memanggut-manggutkan kepalanya.


"Ya udah deh kalo gitu. Vira chat pacar Vira dulu ya, Kak," ucap Vira kemudian mengetikkan pesan kepada cowok yang ia sebut-sebut sebagai pacarnya. "Makasih ya, Kak," ucapnya lagi, setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Iya. Emm ... Vir."


"Ya, Kak?" jawab Vira menoleh pada Kiya.


"Sebelumnya ... Kak Kiya tuh paling cemburu kalau Zein, pacar Kakak, sering nyebut-nyebut nama kamu pas kita lagi ngobrol ...."


Vira memasang telinga menyimak ucapan Kiya.


"Kakak cemburu. Rasanya dalam hidup Zein, yang paling penting tuh, cuma kamu. Kemarin aja, setelah Zein baikan sama kamu, dia ceritain juga semuanya ke Kakak. Makanya Kakak minta dia buat kenalin kamu ke Kakak."


Vira masih menyimak walau dengan hati yang meronta-ronta ingin pergi.


"Dan setelah Kakak ketemu sama kamu, ternyata prasangka Kakak salah. Dalam hati Zein, posisi kita tetep beda. Hhh,,, lagian kamu juga udah punya pacar, kan? Jadi buat apa Kakak cemburu-cemburu lagi?" ungkapnya kemudian merasa lega.


"Hhh,,, iya, Kak. Dalam hati Kak Zein, posisi kita tetep beda," ucap Vira mengulangi perkataan wanita di hadapannya. "Dan lagian, Vira juga udah punya pacar. Jadi, Kak Kiya gak perlu khawatir lagi," dusta Vira dengan senyum mengembangnya. Senyum yang ia usahakan mati-matian untuk tetap mengembang.

__ADS_1


Keduanya saling melempar senyum, tapi kemudian dering ponsel Vira mengalihkan perhatian mereka.


"Emm ... ya udah ya, Kak, Vira pamit. Nanti kalo Kak Zein tanya, bilang aja Vira lagi jalan sama pacar Vira," ucapnya setelah setelah mengakhiri telpon dari Reza.


__ADS_2