
Kamar Vira
Vira mengerjap-ngerjapkan matanya malas, kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
"Huaaaaah!" Ia menguap, kemudian melirik jam dinding di kamarnya.
"Mampus!" Vira langsung membulatkan matanya, sejurus kemudian segera berjingkat, berdiri dari tidurnya. Gawat! Kenapa ia bisa setelat ini? Buru-buru ia berlari menuju kamar mandi. Males banget kalau sampai kena hukum lagi.
Vira mempercepat durasi waktu dandannya. Bodo amat kalau hasilnya tak maksimal. Nanti juga bisa diperbaiki di kamar mandi sekolah.
Vira terburu-buru menuruni tangga. Pasti Rena sudah dalam perjalanan kemari. Huh ... siapa suruh tadi malam ia telfonan sampai menjelang pagi?
"Mah, Vira pam ...." Vira tak meneruskan ucapannya. Pandangannya terhenti pada seseorang yang tersenyum menatapnya. Duduk di ruang tamu rumahnya.
"Vira, duduk dulu. Kak Zein datang. Ayo ajak ngobrol. Kalian dulu dekat sekali," kata papa Vira sembari menepuk sofa di sampingnya. Sebenarnya ia tak suka ada cowok yang datang ke rumahnya, tapi itu tak berlaku untuk Zein. Sudah ia anggap seperti anak sendiri.
Vira geming. Ia memalingkan pandangannya dari Zein. Gila! Kenapa dadanya terasa sesak sekali? Tidak, ia tak ingin bertemu dengan kak Zein. Menemui kak Zein dan berbincang dengannya, itu artinya sama dengan mengorek luka lama. Cinta pertama yang langsung bertepuk sebelah tangan. Sakit sekali.
"Vira!" Ayah Vira memanggilnya lagi.
Mampus! Bagaimana cara ia menghindari kak Zein?
"Vira mau ... berangkat sekolah, Pah," ujar Vira mencari alasan.
"Iya, Papah tau. Sambil menunggu Rena dan teman-temanmu datang, duduk saja dulu. Kak Zein pasti pengen tanya-tanya kabar kamu. Kan, udah sekitar empat tahun kalian gak ketemu," ucap Dharma masih menahan anaknya.
Vira menimbang-nimbang. Ia tak berani menatap wajah kak Zein. Ia ingin segera berlari menjauh secepat kilat, tak peduli kalau ada yang mengira ia sedang kesurupan, tapi ia tak bisa. Papanya pasti akan sangat marah jika ia berlaku demikian. Lalu, sekarang ia harus bagaimana? Ia belum siap menghadapi bahwa kak Zein tak pernah ingin memilikinya dan keinginannya adalah semu belaka.
Tiiiiit .....
Tiba-tiba suara klakson terdengar nyaring.
"Pah, Mah, Vira pamit!" Vira langsung berteriak nyaring, kemudian berlari keluar. Bodoh amat jika di mata kak Zein ia masih dianggap anak kecil. INTINYA, ia tak ingin bertemu orang itu.
Vira segera masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Nada di kursi penumpang. Ia kemudian menghela napas kasar.
__ADS_1
"Untung aja kalian dateng. Udah yuk, berangkat!" seru Vira seperti sedang memburu waktu.
"Lo kenapa, Vir? Kayak abis ketemu buto ijo aja." Rana tiba-tiba melongokkan kepala melihat keadaan sahabatnya yang sudah ngos-ngosan tak keruan dengan wajah memerah seperti tomat busuk. Menurutnya sih, begitu.
Vira agak kaget. Perasaan, tadi ia tak melihat ada Rana. Tumben-tumbenan bocah ini sudah ada disini. Tapi ia tak acuh. Tangan kanannya kemudian mencari cermin kecil yang ia simpan di dalam tasnya.
"Lebih parah dari buto ijo malahan," ucap Vira sembari mengarahkan cerminnya agar memantulkan wajahnya secara penuh.
"Oowh," ucap Rana polos saja.
Mata Vira membulat menatap pantulan wajahnya sendiri. "Oh my God!" teriaknya histeris. Gila! Kenapa ia terlihat seburuk ini? "Oh no! Ayeliner gue kurang seimbang. Liptint gue gak rata. Bedak gue juga kurang nyatu. Mascara gue belepotan ke mana-mana. Dan sial! Sejak kapan gue punya kantong mata segede gini?!"
Nada menolehkan kepala kepada Vira.
"Iya, kamu kayak bocah SMP yang baru belajar make up," ucap Nada jujur, sembari menggeleng-gelengkan kepala heran. Biasanya Vira paling teliti kalau masalah rias-merias wajah.
"Tuh kaaan!" Vira menutup wajah dengan kedua tangannya. Benar-benar memalukan. "Pasti gue keliatan jelek banget," keluh Vira agak merengek.
"Abis ketemu siapa sih? Pegawai majalah model?" Rena akhirnya angkat bicara.
"Kak Zeiiin!!" Vira merengek. Semua sahabatnya ini tentu tahu, tentang kisah menyedihkan cinta pertama bertepuk sebelah tangannya itu.
"Eh, siapa bilang?" Vira langsung menegakkan kepalanya. "Gue cuma sebel make up gue kurang perfect gara-gara gue bangun telat, " sangkal Vira terdengar yakin sekali.
"Oh, ya udah," timpal Rena.
"Ya udah, yuk! Berangkat!!" Teriak Rana memberi aba-aba nyaring. Siapa suruh dari tadi tak cepat berangkat? Memangnya kena hukum enak apa?
Tak perlu mengulang aba-aba lagi, Rena langsung menyalakan mesin mobil kemudian melaju meninggalkan rumah Vira.
Di dalam ruang tamu, Zein masih menatap pintu masuk rumah Vira, berharap cewek itu kembali lagi dan bersedia menyapanya.
"Maafkan Vira ya, Zein. Dia masih sama seperti dulu. Kekanak-kanakan," ucap Dharma agak tak enak hati.
"Gak papa, Om. Lagi pula emang udah jam segini. Pasti Vira takut terlambat ke sekolah," ucap Zein dengan senyum yang diusahakan mengembang sedemikian rupa. Menutupi rasa kecewa.
__ADS_1
"Ya udah, Om, Tan, saya pulang dulu. Hari ini pertama masuk kerja, jadi harus pagi-pagi berangkatnya." Zein berdiri dari duduknya, kemudian menyalami tangan kedua orang tua Vira yang selama ini sudah baik hati padanya.
"Oh, iya, Zein. Sukses selalu ya, buat kamu. Oh ya, jangan sampai kamu digodain sama suster-suster di rumah sakit tempat kamu kerja. Kalau ada yang berani godain kamu, bilang aja sama Tante," celoteh Soraya akrab sekali.
"Apa sih, Mah. Namanya juga anak muda." Dharma menimpali celotehan istrinya.
"Huh, Papah, gitu kalau Vira sering jalan sama cowok dimarahin habis-habisan," ceplos Soraya seenaknya saja.
Dharma menyenggol tangan istrinya. Kenapa jadi ia yang diserang balik begini? Untung saja tidak ada Vira di sini. Kalau anak itu ada di sini, pasti dia akan semakin punya dalil untuk meneruskan kebiasaan buruknya. Bergonta-ganti cowok.
"Ya udah kalau gitu, Om, Tan, saya pamit dulu," pamit Zein untuk yang kedua kalinya.
"Iya, Zein. Sering-sering ya, main ke sini," ucap Soraya ramah.
Zein balas tersenyum, kemudian melangkah pergi. Di depan rumah Vira, ia terhenti kemudian menghela napas pelan. Kenapa Vira seperti sedang menghindarinya? Apa kesalahan yang pernah ia lakukan pada gadis kecilnya itu? Seingatnya, terakhir kali ia datang ke rumah ini sekitar empat tahun lalu saat hendak berpamitan, Vira tak mau menemuinya dengan alasan ia ngantuk dan ingin tidur.
Benar-benar tak pandai berbohong. Jangan-jangan Vira masih marah gara-gara ia tak menuruti keinginannya untuk sekolah di dalam kota saja. Rasanya seperti dendam kesumat saja.
Dredd... ponselnya kemudian bergetar, mengalihkan fikirannya dari Vira. Setelah memeriksa ponselnya, senyumnya mengembang.
Kiya
Sayang❤❤❤
Nanti pulang kerja kita ketemu, ya.
Kangen banget aku, sama kamu.
LDR-an mulu capek tau...
Untung akunya setia😚😚
Zein membiarkan pesan itu mengalir begitu saja. Membacanya dalam hati sembari tersenyum. Kalau ada yang tanya kenapa hubungannya bisa bertahan selama ini, jawabannya adalah ... karena Kiya tak pernah malu menghubunginya duluan. Secara intens selalu menjaga komunikasi setiap hari. Kalau pun ia sedang sibuk dengan tugas kuliah, Kiya juga selalu bisa mengerti. Selalu mendukung dan tak pernah mengekang atau pun membatasi. Dia juga cewek yang setia. Empat tahun LDR, tak ada kabar burung macam-macam tentangnya.
Kiya
__ADS_1
^^^Ok^^^
Akhirnya, ia mengirim balasan itu pada cewek di seberang sana.