
"Udah, yuk. Makan, Ra, nasinya keburu dingin." Cowok itu menarik tangannya dan beralih mengambil sepiring nasi yang semendari tadi bernasib buruk karena mau tak mau harus menjadi obat nyamuk di antara mereka.
"Arkaa...!" Rana merengek. Jelas sekali ia sangat penasaran. Jangan-jangan, sebelum ia menyukai Arka, ternyata cowok itu sudah menyukainya terlebih dahulu. Yah ... kalau tahu begini, ia harusnya tak perlu pake teriak-teriak proklamasi di kantin begitu, ya. Hehehe.
"Iya deh, diceritain. Tapi sambil makan, ya?" ucap Arka sembari menyodorkan sesendok nasi pada Rana.
Rana menghela napas berat. Tapi tentu, mau tak mau ia tetap memaksakan mulut mager-nya untuk terbuka dan mengunyah makanan. Demi jiwa kepo!
"jadi ...."
Sembari menyuap Rana akhirnya cowok itu menceritakan segalanya. Tentang ia yang memang sedari awal sudah terusik dengan kehadiran Rana. Tentang ia yang diam-diam mengagumi sorot mata tulus Rana, juga menyukai senyum manisnya. Dan semua usaha kerasnya demi melawan perasaan itu tak lain hanya karena kebenciannya pada ibu tirinya. Kebencian yang membuatnya memandang buruk semua perempuan berwajah ayu di muka bumi ini.
Dan ... kalian harus tahu juga, ternyata dugaannya selama ini adalah salah. Ternyata, mama tirinya itu bukanlah gadis muda yang rela menikahi duda kaya hanya karena setumpuk harta. Sarah tak semuda yang ia kira. Buktinya, wanita itu seumuran dengan Tante Puspa yang nyatanya sudah memiliki seorang anak yang hanya terpaut satu tahun dengannya. Hanya saja, mungkin karena paras cantiknya lah yang membuat ia tampak lebih muda, juga perawakan mungilnya yang membuatnya selalu tampak pantas menjadi pemeran gadis SMA pada film-film yang dimainkannya.
"Aaa!!" Usai menyelesaikan aktifitas makannya, cewek itu tiba-tiba memeluk Arka. "Rana jadi makin sayang deh, sama Arka," ucapnya menyembunyikan wajah pada dada cowok itu. Mengingatkannya pada kejadian di malam hari dahulu yang cukup menguras habis air matanya.
__ADS_1
Arka terkekeh, kemudian menaruh kembali piring di tangannya dan balas mendekap Rana.
"Aku juga sayang," ucapnya. Tapi, tanpa sepengetahuan Rana, kini raut wajah cowok itu tiba-tiba berubah. Raut wajah tanpa warna yang sulit diartikan.
"Eh, Ka!" Rana mendongakkan kepalanya.
"Hm? Kenapa?" Arka menundukkan kepala. Menampilkan senyum hangatnya lagi.
"Maaf, ya. Gara-gara Rana ... Arka jadi kalah main basketnya," ucap Rana penuh rasa bersalah.
"Iya, soalnya Rana gak nyemangatin Arka tadi," jawab Rana polos sekali.
Arka terkekeh. "Emang siapa yang bilang aku kalah?"
...💕...
__ADS_1
Usai pertandingan persahabatan yang melelahkan, ruangan itu kini dibuat sepi kembali. Di dalam ruang berstatus "Ruang OSIS" itu, seorang cewek yang sama sekali bukan merupakan anggota OSIS duduk sendiri. Ia sedang melepas letih.
Ya, ia memang bukan anggota kepanitiaan sama sekali. Tapi, karena sejak awal sang Ketua OSIS sudah menariknya untuk ikut campur terhadap acara ini, jadi mau tak mau ia juga punya tanggung jawab untuk akhir yang baik bagi acara ini.
"Rey," panggil seorang cowok pada gadis yang tengah menenggelamkan kepalanya di atas meja itu.
"Hm?" Rena mengubah posisinya. Mendapati Andra sudah duduk menatapnya, bertumpu dengan meja.
"Capek, ya?" tanya cowok itu sembari tersenyum, seolah sedang memamerkan kedua lesung pipinya.
Rena menegakkan tubuhnya sempurna sembari menghela napas panjang seolah menjawab, iya.
"Ya udah, yok! Gua anter pulang." Andra berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangannya tepat di hadapan Rena.
Bukannya segera menerima uluran tangan Andra, Rena justru meluangkan waktu sejenak untuk memandang lekat netra cowok berstatus murid teladan itu. Hanya sejenak, sebab tiba-tiba ujung matanya menangkap bayangan seseorang seperti sedang berdiri di depan ruang OSIS. Dan jantungnya mau tak mau dibuat berdetak hebat. Bahkan bayangan cowok itu pun begitu melekat di dalam otaknya. Tak pernah hempas sampai kapan pun.
__ADS_1
2022-10-10_15.00