
"Kamu udah makan, kan?" tanya mami menyentuh pundak Rana khawatir.
"Mi, Rana ... minta maaf," ucap Rana pada akhirnya, tertunduk tak berani menatap wajah ibunya.
"Rana ..." Puspa tiba-tiba memeluk anaknya itu. Mengelus punggungnya perlahan, "... Mami juga minta maaf udah marah ke Rana. Harusnya Mami tanya dulu versi kejadiannya dari kamu."
Rana membalas pelukan maminya. "Mami udah gak marah lagi kan, ke Rana?" tanyanya tersenyum bahagia.
Puspa mengakhiri pelukannya. "Enggak. Mami gak bisa marah lama-lama ke kamu. Emm ... tapi, di sekolah kamu baik-baik aja, kan?" tanya ibu dua anak itu.
Rana memaksakan senyum. "Baik kok, Mi. Temen Rana kan banyak. Mereka juga pasti ngerti lah, keadaannya gimana," ucapnya.
"Ya udah. Sini tas kamu, biar Mami bawain," ucap Puspa kemudian melepas tas Rana dari punggung anak itu.
"Oh ya, sebagai permintaan maaf, Mama punya kejutan buat kamu," ujar Puspa ketika keduanya sedang menaiki tangga menuju kamar Rana.
"Oh ya? Kejutan apa emangnya?!" tanya Rana antusias.
"Ada deh pokoknya. Kamu liat aja nanti. Semoga kamu suka."
Kreek ....
"Nah, taraaa ... ini dia!" seru Puspa membuka pintu kamar anak gadisnya.
Rana menutup mulutnya tak menyangka, melangkahkan kaki memasuki kamarnya yang telah di cat ulang berwarna putih polos. Kemudian mengamati deretan cat bermacam warna yang disediakan di kamarnya.
"Mami bingung mau ngasih kejutan apa. Mami pikir ... kamu mungkin suka gambar atau melukis dan semacamnya. Jadi Mami ngasih kejutan gini."
"Kok Mami tau?" tanya Rana tak menyangka ternyata maminya mengetahui hobi tersembunyinya itu.
Puspa tersenyum, kemudian melangkahkan kaki menuju meja belajar Rana. Diambilnya sebuah buku cetak pelajaran dengan judul "Matematika" dari atas sana.
"Dari sini," ujar Puspa menunjukkan setiap lembar buku tersebut yang penuh dengan gambar dan warna. Bahkan gambar tokoh-tokoh matematika pun, sudah tak rupa bentuknya.
"Hehehe," prenges Rana menggaruk tengkuknya.
"Dhira mana, Mi?" tanya Rana mengalihkan. Ternyata kebiasaannya selama ini ketahuan juga. Keliatannya asik dengan buku, tapi bukannya belajar malah sibuk menggambar.
"Tara," ucap seorang gadis cilik dengan senyum kakunya. Berdiri di tengah pintu kamar membawa perlengkapan kuas cat bermacam ukuran dan modal.
...💕...
Rena memarkirkan mobilnya mulus di garasi rumahnya, kemudian menaikkan kacamatanya ke atas kepala. Diamatinya sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di sebelah mobilnya. Tumben, batinnya dengan mata menyipit, kemudian turun dari mobil menenteng semua belanjaan dari hasil shoping sore ini.
__ADS_1
Kreek... pintu dibuka oleh cewek itu, kemudian dilemparkannya semua belanjaannya ke sofa. Ia lalu melangkah hendak menuju kamarnya yang terletak di lantai tiga.
Rena menghela napas, memperjelas kedua Indra pendengarannya. Langkahnya terhenti sebelum melangkah menaiki tangga memasuki area lantai dua.
Cewek itu kemudian membuang napas kasar. Melangkah tegas menuju tempat asal suara yang membuat dadanya kian terasa sesak saja.
Tok tok tok! Kasar sekali Rena mengetuk pintu kamar itu.
"Ya, sebentar!" ucap seorang pria dari dalam.
1, 2, 3, 4, 5 detik Rena masih menunggu dengan sesak yang memburu. Mendengar tawa kedua insan yang berada di ruang itu.
6, 7, 8, 9, 10 ....
Krek!! Dibukanya pintu itu tak tanggung-tanggung.
"Rena?" ucap pak Wijaya terperangah melihat anaknya.
Dengan langkah panjang, Rena berjalan ke arah ranjang dimana ayahnya sedang merangkul mesra seorang wanita.
"Gak tau malu ya lo?!" hardik Rena menarik paksa seorang wanita muda dari atas ranjang ayahnya.
"Aw," rintih wanita itu berusaha melepas cengkraman Rena.
Rena yang sudah bertanduk, menghempaskan tangan wanita itu kasar.
Prak! Tak tanggung-tanggung, cewek itu bahkan langsung menampar pipi si wanita melampiaskan semua amarahnya.
"Lo gak tau apa, Papa gue udah punya keluarga hah?! Dasar ******!!" hardik Rena menunjuk-nunjuk penuh penghinaan.
Sedang wanita itu tak berkata apa-apa. Menyentuh pipinya yang terasa amat perih.
"Rena! Jaga sikap kamu!" Wijaya ikut tersalut emosi.
Rena mengatupkan bibir rapat. Ditatapnya pria bejat yang nyatanya adalah ayah kandungnya itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Yang, kamu pulang aja. Nanti ku hubungi," ucap Wijaya tanpa sungkan menyentuh bahu si wanita muda selingkuhannya.
Rena memalingkan wajah, menahan segala sesak di dadanya.
Selingkuhan itu, tanpa kata langsung mengambil tasnya kemudian berlalu meninggalkan kamar itu dengan langkah bersegera.
Tinggal berdua saja di dalam ruangan. Sepasang ayah dan anak itu saling menatap penuh amarah.
__ADS_1
Prak!!
Sebuah tamparan keras tak tanggung-tanggung melayang di pipi Rena, disusul suara kacamata yang langsung terpental keras jatuh ke lantai.
"Kurang ajar sekali kamu! Berani-berinya kamu mengganggu privasi Papa!" hardik Wijaya tak kalah emosi dengan Rena tadi.
"Privasi Papa bilang?" tanya Rena nyalang, dengan tangan menyentuh pipi yang menjadi korban kekerasan dari ayahnya.
"Papa sadar gak sih? Privasi yang Papa bilang itu adalah privasi yang merenggut kebahagiaan aku selama ini!"
"Rena! Kebahagiaan apa yang kamu maksud? Kamu tuh seharusnya bersyukur!" Wijaya menunjuk-nunjuk anak gadisnya geram. " Kurang apa kamu selama ini? Rumah mewah, mobil mewah, Papa juga selalu transfer uang jajan kamu! Kamu harusnya sadar diri! Kalau bukan karena kerja keras Papa, kamu gak akan bisa hidup seenak ini."
Mendengar ungkapan itu, Rena langsung melempar kunci mobilnya ke ranjang dengan kasar.
"Pa," ucapnya getir, "... andai aku bisa milih terlahir dari keluarga yang seperti apa. Aku bakal milih terlahir dari kedua orang tua yang apa adanya tapi hidup bahagia dari pada terlahir dari keluarga Mama dan Papa yang rusak selamanya!" hardik Rena kemudian berlari pergi tak kuat menahan semua rasa sakit yang semakin menyiksanya.
"Rena!" panggil Wijaya penuh amarah, tapi kemudian terduduk di ranjang dengan tangan mengepal menahan emosi.
...💕...
Tongkrongan itu cukup ramai seperti biasanya. Padahal mayoritas penunggunya sedang dalam masa penyembuhan dari luka-luka cedera akibat tawuran di hari lalu. Tapi begitulah mereka. Melewati malam tanpa nongkrong bersama kawan-kawan bagaikan ambulans tanpa uiui, begitu kata Kibo si puitis.
Dio, Arsya, bahkan Arka juga tak absen. Hadir di tongkrongan tanpa nama ini. Menikmati kopi bersama, didampingi sepuntung rokok sebagai pengobat nyeri.
"Gue tadi abis ketemu Daniel," aku Arsya langsung menyita perhatian seluruh penghuni tongkrongan.
"Serius lo, Sya? Lo gak diapa-apain kan, sama Bangsat itu?" tanya Bendon yang duduk di sebelah cowok itu.
"Ya enggak lah. Orang kita sejenis."
"Gila ya lo!" Bendon auto nyolot.
"Lah, terus lo ngapain ketemu sama dia?" Kibo menengahi.
"Silaturahmi," jawab Arsya tiba-tiba menampilkan prengesannya.
"Ellah! Gue kira kenapa," ucap Dio, sangking gemasnya hingga mencubit kedua pipi Arsya.
"Eh, Yo! Sakit tau!" Arsya berusaha lepas dari cubitan Dio.
"Yaah ... lemah lo, Sya. Nyubit pipi doang gue. Belum nyubit yang lain," kata Dio ambigu, sembari melepas cubitan gemasnya. Arsya hanya menanggapi dengan memanyunkan bibir singkat.
"Ka, lo fine aja kan?" tanya Arsya agak ragu, pada Arka yang duduk tak jauh di depannya.
__ADS_1
"Fine kenapa?"