
Pagi ini, saat cowok itu membuka matanya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Matahari begitu terik masuk dari celah-celah tirai kamarnya. Silau.
Ia meregangkan otot-ototnya, kemudian melirik ponsel yang menjadi sebab utama ia membuka matanya pagi hari ini. Seolah bangun di hari yang sama, dilihatnya banyak sekali telpon tak terjawab tertera pada benda pipih itu. Dari Ingga, dari teman-temannya.
Arka menghela napas. Seandainya ia tidak memblokir kontak Rana, masih sudikah cewek itu menghubunginya?
Arka menghembuskan napasnya kasar, untuk kesekian kali. Pertanyaan apa itu? Kenapa mendadak ia jadi bodoh sekali?
Dengan gerakan malas, ia bangkit dari posisinya. Dan benar saja, pergerakannya disambut oleh deringan nyaring dari ponselnya. Telpon dari Ingga.
"Halo! Ka, kamu sekolah, kan? Ini aku on the way ke rumah kamu. Naik mobil aku aja," rentet Ingga di ujung sana.
Arka memalingkan wajahnya. Kenapa baru sekarang ia menyadari kalau Ingga cerewet sekali. "Aku naik motor aja ...."
"Eh? No no no! Kamu lupa, motor kamu masih diperbaiki di bengkel? Pokoknya, kamu buruan siap-siap aja .... see you." Lantas, cewek itu memutuskan sambungan telefon mereka. Dan Arka hanya bisa menaruh kembali ponselnya, malas.
Dari tempatnya, ia menoleh pada pantulan dirinya di cermin. Lebam biru masih menghiasi wajah itu. Sudut bibirnya masih terluka, dan matanya tak memancarkan setitik puna
warna kebahagiaan. Entah bagaimana ia menghadapi hari ini, tapi ia tak bisa terus-menerus menghindari.
...💕...
Roofcar mobil sport itu terbuka. Angin pagi menerpa wajah Rana, menerbangkan anak rambutnya kemana-mana, tapi ia tak menanggapinya. Pandangannya terfokus pada pemandangan jalanan dan hiruk-pikuk nya.
__ADS_1
Harus banget diblokir, ya? gumam gadis itu, mengenggam ponselnya dengan kedua tangan. Lemah.
"Nggak papa, Ra. Ada gue di sisi lo," ucap Raja, sembari fokus mengemudi mobilnya.
Rana menoleh sejenak, tersenyum tipis, kemudian mengalihkan wajahnya lagi. Gerbang sekolahnya yang menjulang sudah tampak. Remaja berseragam sepertinya berlalu-lalang, menuju satu arah: SMA Tunas Bangsa.
"Hari ini juga free, kan? Lagi persiapan penerimaan rapor. Lo gak harus di kelas sendirian ... lo bisa hubungi gue." Raja tersenyum pada Rana.
Mobil sport itu masuk ke area pelataran SMA Tunas Bangsa, langsung menuju ke tempat parkir.
Rana turun dari mobil, lalu memotret suasana pagi di sekolah melalui ponselnya. Tersenyum tipis, mengirimnya di grup yang seolah hanya ialah anggotanya.
@ngatiyem
Udah sampe belum?
Happy free day🥳🥳
"Ra," ucap Raja, tapi arah pandangannya bukan pada Rana. Melainkan pada sebuah mobil yang baru menyusul kedatangan mereka. Dikemudikan oleh seorang cewek. Roofcar-nya terbuka lebar, menampilkan Arka yang menumpangkan tangannya pada pintu mobil. Terlihat santai walau dengan wajah babak belurnya.
Rana menurunkan ponselnya. Senyum tipisnya memudar, terpaku pada sepasang remaja di mobil yang baru datang itu. Jelas, dadanya terasa sesak. Tapi, di balik semua itu, hati kecilnya masih menyimpan rasa khawatir. Arka terluka, dan apakah luka itu karena dirinya?
Mobil berhenti dengan mulus. Arka turun dari kendaraan itu, membenarkan tas ranselnya dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku.
__ADS_1
"Ayo, Ngga," ucapnya menoleh pada Ingga, tanpa menyadari kehadiran Raja dan Rana di sana.
Ujung mata Ingga melirik singkat ke arah dua orang itu, kemudian turun dan menggandeng lengan Arka erat.
"Hai, Ja," sapa cewek itu tersenyum miring, menatap lurus pada yang disapanya.
Arka melirik pada Ingga sekilas, kemudian mengikuti arah pandang cewek itu. Dan ... manik mata itu menyekapnya ke lautan paling dalam. Lautan luas bernama rasa bersalah. Manik mata Rana yang penuh luka.
Rana mematung. Rasanya sakit sekali. Ada gumpalan tetesan air mata yang hendak membanjirnya, tapi ia tahu, ini bukan saatnya.
Ka ... kenapa?
Dan pertanyaan itu hanya mencekat tenggorokannya semakin erat.
"Ra," lirih Raja, menggandeng tangan Rana tanpa meminta persetujuan darinya.
Mata elang Arka jelas melihat hal itu. Ada sesuatu yang ia sendiri tak yakin bisa mengendalikannya. Maka, ia mengajak Ingga melanjutkan langkah mereka.
"Ayo, Ngga," ucapnya, memalingkan pandangan dari dua orang di hadapan mereka. Melewati Rana begitu saja, tanpa melirik lagi ke arahnya.
Rana geming. Gumpalan sesak itu akhirnya keluar juga. Air matanya luruh.
"Ja, ... sakit banget."
__ADS_1