The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Balas Dendam Seorang Pria


__ADS_3

Dengan mobilnya, Zein membelah angin malam melaju secepat. Dirinya benar-benar dibuat khawatir dengan kenyataan Vira yang belum juga kembali ke rumah di jam selarut ini. Kalau saja benar-benar terjadi sesuatu pada Vira, maka ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Ayolah, Vir, Aagkat! Angkat!" desak Zein dengan sebuah ponsel yang tengah menghubungi Vira pada tangan kirinya. Tapi hasilnya tetaplah nihil.


"Huh!" keluh cowok itu seraya membanting kasar ponselnya pada tempat duduk di sebelahnya. Entah sudah berapa kali ia menelpon, tapi tak kunjung mendapat jawaban.


Dredd ... dredd ....


Diliriknya ponsel itu lagi. Tapi ternyata bukan telpon dari gadis yang semendari tadi ia tunggu-tunggu tanggapannya.


"Halo?" Diangkatnya telpon itu kemudian diapitnya menggunakan bahunya. Ia tahu ini sangat berbahaya, tapi ia ingin menemukan Vira sesegera mungkin.


"Dokter! Ada pasien darurat. Tolong segera ke sini!" desak seseorang di ujung sana.


"Apa?! Gak ada dokter yang lain?"


"Gak ada, Dok. Tolong, barusan pasien mengalami kecelakaan."


"Oke." Sambungan telepon dimatikan.


Zein memutar balik mobilnya melesat melawan arah dari tujuan sebelumnya. Tidak ada pilihan lagi. Ia memang menghawatirkan Vira, tapi tanggung jawabnya sudah menanti. Bahkan ia sendiri pun tak tahu kebenarannya, Vira sedang dalam bahaya atau tidak.


"Halo!" sapanya setelah menelpon seseorang lagi. "Bisa minta tolong ...."


...💕...


Setelah merasa Vira sudah benar-benar terlelap dengan tidurnya, Reza membopong gadis itu ke salah satu kemar pada bangunan bar itu. Dibukanya pintu kamar itu dan ditidurkannya Vira di atas ranjangnya.


"Kerja bagus, Za," ucap seorang laki-laki dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya. Matanya menyipit memandangi tubuh Vira yang tergeletak sedang berada di bawah alam sadarnya.


"Sesuai kesepakatan," ucap Reza setelah menghampiri cowok yang berdiri di ambang pintu itu.


"Sesuai kesepakatan," ucap cowok itu mengulangi perkataan Reza, seraya menyodorkan sebuah amplop tebal ke arah cowok itu.


"Gua juga udah ngebokingin elo di sebelah. Dan mobilnya ... buat lo aja."

__ADS_1


"Gue suka cara lo." Reza menerima amplop itu dengan senyuman penuh kepuasan. "Kalau begitu gue cabut," ucapnya kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" Laki-laki itu memalingkan wajah pada Reza yang baru saja melewati dirinya yang berdiri di ambang pintu.


"Berapa lama obatnya bereaksi?" tanyanya setelah Reza menghentikan langkah dan menoleh padanya.


"Nggak lama. Sekitar satu jam, sesuai permintaan lo," jawab Reza sebelum kemudian benar-benar berlalu pergi.


"Oke."


Cowok itu meregangkan otot-otot lehernya memandangi Vira lagi.


"Seneng rasanya bisa ketemu lo lagi, Vir," ucapnya kemudian menutup pintu, menguncinya, dan membuang kuncinya ke tong sampah.


Dilangkahkan kakinya mendekati cewek yang masih terlelap itu. Ia mendudukkan dirinya di ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya tepat di atas perut Vira.


"Oke, Vir, gua kasih kesempatan lo buat tidur dulu. Nikmatin mimpi indah lo sebelum gue berhasil ngehancurin hidup lo. Lagipula apa asyiknya, main-main sama orang tidur?" Diraihnya tangan Vira dan mengecupnya lama. "Iya kan, Yang?"


...💕...


Sesampainya pada ruang yang ia tuju, segera saja ia membuka pintu itu. Di dalam, sesuai dugaannya, sudah ada Dr. Rizik yang memang bertugas malam ini. Hanya saja, mungkin dokter itu memang memerlukan bantuannya.


"Maaf, Dr. Zein, saya merasa ragu untuk memulai oprasi ini," jelas dokter berkaca mata itu membenarkan dugaan Zein.


Zein mendengus samar, kemudian dengan gesit mengganti jaket levis-nya dengan baju operasi berwarna hijau.


Lampu operasi dinyalakan. Di depannya, terlihat jelas seorang pemuda dengan keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja. Bau darah segar menguar, menciptakan keadaan yang semakin menegangkan.


"Terjadi pendarahan parah pada kepala."


...💕...


40 menit sudah berlalu. Laki-laki itu lantas bangkit dari posisinya dan melepaskan setelan jasnya. Diliriknya wajah cewek yang terpejam di sampingnya. Sebentar lagi ... sebentar lagi ia akan merebut kembali harga dirinya. Harga diri yang sempat diinjak-injak oleh cewek bergaun merah ini.


Sembari melepas satu persatu kancing kemejanya cowok itu berkata, "Dulu lo hobi banget nolak cowok, dan setelah ini, bahkan sampe lo mohon-mohon pun, gak akan ada cowok yang sudi nerima elo."

__ADS_1


Lelaki itu kemudian berdiri dan berjalan menuju sebuah kamera yang sudah ia siapkan sedari awal.


"Bukan salah gue, kalau lo kehilangan harga diri lo. Lo sendiri yang mulai," ucapnya seraya mengoperasikan kameranya untuk mulai merekam.


Dilepasnya kemeja yang melekat pada tubuhnya secara sempurna. Ia kemudian berjalan lagi menuju ke tempat Vira, duduk di tepi ranjangnya. Lelaki itu melepaskan sepasang sepatunya dan memandangi tubuh Vira penuh kehendak.


...💕...


Operasi telah usai. Dengan kedua tangannya, Zein bertumpu pada brankar pasien di hadapannya. Napasnya sedikit menderu, masih berusaha menghilangkan ketegangan yang mengguncang. Pasien berhasil diselamatkan walau mungkin akan ada sedikit masalah pada kinerja otaknya. Sekarang, pemuda itu masih dalam keadaan koma.


"Dr. Zein, terimakasih telah membantu," Dr. Rizik berucap di sela-sela degup jantungnya yang sedari tadi rasanya berpacu lebih cepat dari pada biasanya.


Zein mengangguk mengiyakan. "Keluarga pasien ada?" tanyanya selanjutnya.


"Sedang menunggu di luar. Biar saya yang menjelaskan keadaannya."


Usai mendengar penuturan Dr. Rizik, Zein segera mengubah penampilannya kembali. Tanpa berpamitan terlebih dahulu, dokter muda itu melangkah keluar ruangan operasi. Mengabaikan tatapan keluarga pasien yang penuh tanya dan berlari dengan langkah panjangnya. Pikirannya benar-benar tak bisa diajak bekerja sama. Fokusnya terpecah menjadi dua. Firasatnya mengatakan bahwa Vira sedang dalam bahaya.


Memasuki mobil dan melajukan kendaraan beroda empat itu segera. Tangan kirinya kemudian meraih ponselnya dan memeriksa sebut pesan yang beberapa menit lalu diterimanya.


Our Blue's Bar, Jln. Kuningan No. 27.


Usai membacanya, mobil itu melesat laju tanpa ragu.


...💕...


Vira mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan sebuah napas yang menderu mengenai permukaan kulit pada wajahnya. Matanya lantas segera terbuka merasa seseorang tengah menahan rahangnya. Dan alangkah terkejutnya ia begitu mendapati wajah tak asing berjarak 5 Cm. tepat dari wajahnya. Aldi?


Prak!!


"Pergi dari gue! Dasar bangsat!" Didorongnya cowok itu sekuat tenaga dan nyatanya berhasil. Kemudian, ia segera bangkit dan turun dari ranjang. Menatap nyalang cowok itu dengan jantung yang seketika berpacu lebih cepat lantaran ketakutan.


"Hahaha,,," Aldi tertawa lepas bak seorang raksasa mendapatkan mangsanya.


Vira langsung berlari menuju pintu. Berusaha membuka pintu itu, tapi hasilnya nihil. Dan walau sudah mencobanya berulang kali, gadis itu belum menyerah juga. Ia tentu sangat takut, walau ada sedikit harapan karena menyadari semua itu belum terjadi. Bajunya masih utuh dan pinggang Aldi masih dibelit ikat pinggang secara sempurna walaupun cowok itu sudah bertelanjang dada.

__ADS_1


"Lo mau ke mana, Vir? Gak ada gunanya lo berusaha, sebaiknya lo nurutin aja kemauan gue." Aldi berdiri dari duduknya dan selangkah demi selangkah mendekati Vira.


__ADS_2