The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Demi Arka


__ADS_3

Dalam dekapan Arka, senyum itu akhirnya merekah juga. Luluh seketika. Cukup satu pelukan dan sebuah ucapan maaf yang terdengar syahdu bagi telinganya. Itu benar-benar sudah cukup. Sudah lebih dari cukup untuk meluluhlantahkan kemarahan di hatinya.


Masih dalam keheningan malam, gadis itu membalas pelukan cowok di hadapannya. Merasakan degupan jantung Arka yang bersatu dengan degupan jantungnya. Ini adalah Arka nya, dan sampai kapan pun akan tetap menjadi Arka nya.


"Lo gak marah lagi kan, Ra?" Arka tiba-tiba melepas pelukannya. Menangkup pipi Rana dengan kedua tangannya.


Rana tersenyum menatap mata Arka. Khawatir dan cemas tercetak di sana. Dan ia suka, karena itu artinya Arka benar-benar takut kehilangannya.


"Nggak," ucap cewek itu cepat. Kemudian sesegera mungkin memeluk cowok dihadapannya erat. Mencoba menyembunyikan merah di pipinya yang sudah terlanjur menjalar kemana-mana. Menghirup aroma maskulin yang selalu ia suka.


Mendengar jawaban barusan. Juga senyum yang akhirnya datang. Arka turut tersenyum, memeluk Rana lagi. Menghembuskan napas lega sekali.


Dari tempatnya berdiri bersama Rana, dilihatnya penjaga rumah Rana tersenyum ke arahnya. Ia balas tersenyum. Tapi kemudian, pandangannya tersita oleh sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Rana. Diamatinya mobil itu lekat. Mana mungkin ia tak tahu siapa gerangan pemiliknya. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba merasuk membakar setiap sendi-sendinya. Tapi, yang terucap dari bibirnya justru ....


"Ra, gue mau nurutin permintaan lo."

__ADS_1


"Beneran?!" pekik Rana langsung melepaskan pelukannya demi memastikan kesungguhan Arka.


"Iya," jawab Arka memberi kepastian. "Gue bakal coba, tapi gue tetep butuh bantuan lo," ucapnya lagi.


"Yey!" seru Rana girang. Sangat senang karena itu artinya ia tak mengecewakan harapan tante Sarah.


"Tapi, gue punya permintaan." Arka mengatakannya seolah itu adalah permintaan paling penting dalam hidupnya.


"Hm?" Rana menghentikan kegirangannya. "Permintaan? Permintaan apa?"


"Tolong jauhin Raja," tegas Arka menatap mata Rana dalam.


"Ke ...."


"Jangan tanya kenapa," potong Arka. "Gue paham ini gak semudah itu. Tapi tolong, demi gue," mohon Arka lagi.

__ADS_1


Rana masih diam. Tapi kemudian, ia mengukir senyum untuk Arka. Lalu mengangguk mencoba mengerti perasaan cowok itu. Kalo Arka sudah sampai seperti ini, kenapa sebelumnya ia resah sekali memikirkan sebuah ikatan yang lebih pasti bernama pacaran? Diprioritaskan. Dilindungi dan dicemburui. Harusnya itu sudah cukup, bukan?


...💕...


Bahkan, jika dadanya dibelah dan hatinya diiris-iris, mungkin rasanya tak akan sesakit ini. Tak sesakit, saat ia melihat Rana semesra itu dengan cowok lain begini. Rasanya ia ingin segera menghilang ditelan bumi, atau melayang ke angkasa hingga tak pernah kembali. Hingga tak akan lagi merasakan cemburu yang membakar hati.


Sampai kapan? Sampai kapan ia harus menutupi perasaan ini? Kenapa harus Arka?


Raja menghembuskan napasnya panjang. Berusaha menetralkan perasaannya sendiri.


Dengan langkah tak seyakin biasanya, cowok itu bergerak menuju sofa dan mendaratkan diri di atasnya. Mempersiapkan wajah tanpa perihnya demi menyambut kedatangan Rana.


Kreek....


Pintu terbuka. Menampilkan sosok Rana yang terlihat tak seperti biasanya, tanpa disadari oleh Raja.

__ADS_1


"Siapa, Ra?" tanya Raja segera setelahnya. Tersenyum lebar padanya. Memperlihatkan sikap antusias seperti biasanya.


"Em ... Ja, kayaknya gue butuh istirahat, deh."


__ADS_2