
Selangkah saja memasuki ruangan itu, membuat semua orang langsung memusatkan pandangan ke arahnya.
Ia hanya meringis, kemudian dengan sedikit rasa bersalah berjalan ke arah Arka yang tengah melihat ke arahnya juga. Duduk di sebuah bangku panjang yang telah disediakan di ruang itu.
"Huft ... maaf," ucap cewek itu, berdiri tepat di hadapan Arka.
Tanpa memberi jawaban, Arka justru tersenyum. Kemudian tangan kanannya mengambil alih botol air minum dari tangan Rana, dan tangan kirinya menarik tangan Rana agar cewek itu duduk di sebelahnya.
Rana menurut saja. Rasanya seluruh tenaganya sudah terkuras. Habis dimakan oleh langkah-langkah kecilnya menuju tempat ini tadi.
Masih belum memberi tanggapan apa-apa. Arka justru membuka tutup botol di tangannya.
"Minum dulu, Ra," ucapnya, kemudian menyodorkannya kepada Rana.
"Ciee ... waduh, makin jago aja lo, Ka, ngebuat Ibu Negara makin meleleh," seru Dio di sebelah sana. Sedang di sebelahnya, ada Vira yang justru sibuk dengan kaca dan bedak di tangannya.
__ADS_1
Arka hanya tersenyum, masih menatap Rana. Membuat pipi Rana semakin memanas saja.
"Hhh ... makasih, Ka," ucapnya menerima botol itu dari Arka.
Yah ... padahal kan, tadi niatnya dia membawakannya untuk Arka.
Arka juga sih ....
...💕...
Pertandingan basket akan dimulai. Di tengah lapangan semua pemain telah berkumpul. Termasuk Arka dan Daniel. Kedua cowok itu, juga kedua kubu yang mereka bawa, melakukan sesi jabat tangan sebelum permainan dimulai.
Patokan pengidolaannya bukan mutlak hanya menilai kejagoan para pemain dalam permainan, melainkan lebih condong pada tingkat ketampanan mereka. Begitulah adanya.
Di sebelah sana, ada Rana dan Nada yang duduk bersebelahan. Mencoba mengabaikan, atau lebih tepatnya tidak mencemburui gadis-gadis yang dengan terangnya meneriakkan nama crush mereka.
__ADS_1
Lomba dimulai. Rana yang sebenarnya, jujur, tak terlalu paham dengan cara main olahraga ini hanya bisa manggut-manggut sok mengerti. Kemudian sesekali meneriakkan nama Arka dengan cempreng nya. Memberi semangat pada cowok itu.
Di sebelahnya lagi, Vira dan Dio justru sibuk dengan ponselnya masing-masing. Padahal, tadi cowok gembul itu sibuk sekali menceramahi Arsya agar fokus main. Dan sekarang, ia malah sibuk bermain game online bersama Vira.
Jangan heran, beberapa hari ini mereka memang entah kenapa bisa sangat dekat. Merekat sekali seperti sudah diberi lem korea. Kemana-mana berdua. Berangkat, pulang, ke kantin juga berdua.
Sedang Rena ... entahlah. Belakangan ini cewek itu seperti sedang sibuk sekali. Jarang bareng, jarang ngomong, jarang nongol di grup Whatsapp mereka "Bukan Janda Kembang".
Rana yang tengah mengamati jalannya permainan, walau yang ia tahu hanya angka 2-2 yang terpajang jelas di atas sana, juga Arka dan Daniel yang sejak tadi berkelit memperebutkan bola bersama yang lain, seolah bola memantul itu lebih berharga dari pentol bakso yang dijual bu Ratih, tiba-tiba cewek itu memegangi perutnya. Merasakan nyeri yang seolah sedang menyerang perutnya bertubi-tubi. Cewek itu menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengamati jalannya permainan, tapi rasanya ia sudah tak tahan.
"Nad, gue ke toilet bentar, ya," ucapnya pada akhirnya, berdiri dari duduknya.
"Tapi, Ra ...."
"Gue udah gak tahan, Nad. Perut gue sakit," ucapnya lagi, kemudian berjalan tergesa meninggalkan lapangan beserta hiruk-pikuk nya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju toilet Rana berpapasan dengan Raja. Cowok itu menyunggingkan senyum padanya. Tapi ia hanya menoleh sekilas dan kemudian berjalan tergesa lagi.
"Ra!" panggil Raja tiba-tiba. Mau tidak mau membuat Rana terpaksa menghentikan langkahnya.