
Mama Nei dan Papa Tito menatap Aldo dengan tatapan selidiknya. Bahkan sedari Aldo turun dari tangga hingga bergabung di ruang makan, gerak-geriknya tak luput dari pandangan kedua orang itu. Aldo yang melihat tatapan aneh yang dilayangkan padanya itu langsung memeriksa penampilannya dari atas ke bawah.
"Perasaan penampilanku rapi-rapi aja dan wangi deh. Kok mama dan papa ngelihatinnya gitu amat ya" gumam Aldo pelan.
Aldo benar-benar merasa heran dengan apa yang dilakukan kedua orangtuanya itu. Bahkan Kei terlihat begitu acuh kepadanya padahal biasanya menempel padanya kalau semalaman tak tidur bersamanya. Suasana di ruang makan itu benar-benar berubah menjadi canggung dan sepi.
Mereka pun akhirnya sarapan tanpa mengucapkan apapun. Bahkan Aldo juga tak menyapa kedua orangtuanya yang mungkin saja sedang dalam keadaan mood yang tak baik. Suasana di meja makan itu benar-benar hening dan hanya terdengar suara sendok juga piring beradu saja.
"Aldo, tunggu" ucap Papa Tito dengan nada tegasnya setelah melihat Aldo berdiri dari kursi di ruang makan.
Sepertinya Aldo merasa terburu-buru karena adanya jam mengajar di kampusnya ini. Namun Papa Tito acuh saja dengan jadwal mengajar anaknya itu. Papa Tito mencegah anaknya untuk pergi dari ruang makan untuk bisa mengetahui apa yang terjadi.
Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah saat tak bisa lagi protes dengan apa yang akan dilakukan papanya itu. Pasalnya Aldo melihat tatapan mata papanya yang seakan tak ingin mendapatkan bantahan apapun. Aldo pun kembali duduk di kursinya kemudian menatap papanya seakan meminta penjelasan.
"Ada apa, pa? Aldo ada jadwal mengajar di kampus pagi ini. Jadi Aldo tak ingin basa-basi atau membahas hal yang tidak penting" ucap Aldo sambil menatap kearah papanya.
"Cemalam papa antal Ante Lili campe mana? Papa ndak tulunin Ante Lili di dalanan, tan?" tanya Kei yang langsung menodong papanya dengan sebuah pertanyaan.
Kei benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Kei selalu berpikiran bahwa papanya itu menurunkan Lili di pinggir jalan. Kei tahu itu karena papanya sama sekali tak suka dengan kehadiran Lili. Terlebih saat bertemu dengan Lili selalu saja mengucapkan kalimat ketus.
Sontak saja Aldo terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Kei. Aldo menatap kearah kedua orangtuanya yang mengedikkan bahunya acuh. Tentu saja kedua orangtuanya takkan membelanya apabila sampai apa yang dilakukan itu ketahuan oleh Kei.
"Sampai rumahnya" jawab Aldo dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Ohong. Kei ndak cuka talo papa ohongin atu. Dipikil Kei ndak tahu talo papa ndak cuka cama Ante Lili. Buwat antal caja temalin cudah plotes lho" ucap Kei yang tak percaya dengan jawaban papanya.
"Kalau tak percaya, ya sudah. Lagian nggak rugi juga buat papa" ucap Aldo dengan acuh.
Aldo berusaha untuk tidak menampilkan kegugupannya itu dengan mengalihkan pandangannya. Tentu saja itu untuk menyembunyikan kebohongannya. Apalagi Kei itu memang sangat jeli dengan orang yang berbohong.
Kedua orangtua Aldo malah kini ikut-ikutan Kei yang menatapnya penuh selidik. Tentu saja Kei takkan membiarkan Aldo untuk membohongi dirinya itu. Aldo pun yang semakin terpojokkan langsung berdiri kemudian berlalu pergi dari ruang makan.
"Wawas caha talo campe papa tulunin Ante Lili di pinggil dalan. Kei ndak atan mamapin papa" seru Kei setelah melihat Aldo pergi tanpa mengucapkan satu kalimatpun.
"Sudah, Kei. Jangan marah-marah, papamu itu nggak mau jawab karena sedang malas ngomong. Dia lagi sariawan" ucap Papa Tito.
Papa Tito sengaja melemparkan candaan kearah cucunya itu agar Kei bisa segera mengalihkan pikirannya. Papa Tito tahu kalau Aldo itu berbohong sehingga memilih untuk kabur. Papa Tito kecewa karena anaknya bisa melakukan hal itu kepada seorang perempuan.
"Ah... Opa nih cukana membela yang belcalah. Ayo oma, tita peldi ke tampus. Kei ingin tetemu cama Ante Lili" ucap Kei mengajak Mama Nei pergi.
Papa Tito pun memilih pamit pergi ke kantornya setelah memastikan istri dan cucunya masuk je kamar untuk bersiap. Mama Nei dan Kei langsung berganti pakaian untuk pergi ke kampus, tempat Lili berkuliah. Keduanya akan diantar oleh sopir keluarga yang sudah bersiap di depan mansion.
***
"Mana Ante Lili, tita cudah teliling tampus lama lho ini api tok ndak temu cih" kesal Kei.
Kei rasanya sudah sangat lelah karena berkeliling untuk mencari keberadaan Lili di kampus itu. Sudah hampir satu jam lamanya mereka berkeliling namun tak menemukan Lili. Kei sudah begitu frustasi mencarinya, bahkan kini Mama Nei juga langsung duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Apa hari ini Lili nggak ke kampus? Bukannya Lili itu tinggal skripsi saja ya? Pasti dia akan jarang ke kampus" ucap Mama Nei sambil memikirkan beberapa hal.
"Talo ndak ke tampus, telus napain tita di cini?" kesal Kei.
Sepertinya Kei sudah sangat tidak sabaran untuk bertemu dengan Lili. Mama Nei pun bingung karena kemarin tak sempat meminta nomor ponsel dari Lili. Akhirnya Mama Nei mengajak Kei untuk ke ruangan Aldo. Pasti anaknya itu tahu mengenai jadwal bimbingan skripsi dari Lili.
"Ayo kita ke ruangan papamu. Siapa tahu Lili ada di sana dan kamu bisa menemuinya" ucap Mama Nei yang langsung menggendong cucunya.
Setelah berjalan menuju ruangan Aldo, mereka sampai juga di sana. Keduanya segera masuk dan terlihatlah Aldo sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa tugas mahasiswanya. Aldo yang mendengar pintu ruangannya terbuka pun langsung saja menatap pelakunya.
Aldo begitu terkejut karena melihat mamanya dan sang anak berada di kampus. Keduanya bahkan kini memasuki ruangan Aldo dan duduk di kursi depan laki-laki itu. Aldo masih terkejut dengan kehadiran mereka sehingga memilih untuk diam saja.
"Papa, mana papa cembunyitan Ante Lili? Tok Kei cudah cali di celuluh tampus ni api ndak temu uga" seru Kei yang langsung menodong Aldo dengan pertanyaan keberadaan Lili.
"Papa nggak tahu, Kei. Lagian papa ini bukan hanya dosennya Tante Lilimu itu di kampus ini" ucap Aldo dengan acuh.
Hari ini memang ada jadwal Lili untuk konsultasi skripsinya. Namun sampai saat ini, Lili sama sekali belum datang. Aldo pun tak peduli akan hal itu, walaupun dalam hatinya bertanya-tanya tentang keberadaan Lili.
Aldo sedikit takut kalau semalam itu Lili tidak bisa pulang ke rumah atau bahkan terjadi sesuatu dengan gadis itu. Apalagi saat mendengar Kei dan mamanya mencari Lili di sekeliling kampus namun tak menemukannya.
"Ish... Ayo antal Kei ke lumahna. Papa pati tahu tan lumahna Ante Lili? Cemalam tan antal ke cana" ucap Kei dengan memberi perintah.
Sontak saja Aldo langsung memelototkan matanya. Sungguh Aldo tak menyangka kalau anaknya itu sungguh pintar dalam mencari ide atau rencana. Aldo terdiam dan mencoba berpikir cepat karena ia tidak mengetahui dimana alamat rumah Lili.
__ADS_1
Semalam saja, sebelum sampai di rumahnya Lili sudah ia biarkan gadis itu pulang sendirian. Kalau sampai sekarang ia bilang tak tahu pada Kei dan mamanya, sudah pasti kebohongannya akan terbongkar. Mereka pasti akan mengomelinya dan marah besar padanya.
"Emm..."