Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Tak Kasat Mata


__ADS_3

"Lilian..." panggil Dokter Adnan dengan senyum ramahnya.


Lili merasa ada keanehan yang terjadi di sini. Pasalnya kemarin Dokter Adnan pergi meninggalkannya dalam keadaan kesal dan marah. Namun saat ini dia malah tersenyum ramah kepadanya. Lili melirik sekilas kearah Aldo yang menampakkan wajah datarnya itu.


"Ya, dok. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lili dengan canggung.


"Oh tidak ada. Saya hanya ingin mengajak anda masuk ruangan bersama" ucap Dokter Adnan.


"Ha..."


Lili merasa agak bingung dan linglung dengan ajakan dari Dokter Adnan itu. Bahkan Lili berpikir kalau orang di hadapannya ini mempunyai kepribadian ganda. Bahkan dia juga tidak menyapa Aldo yang notabene adalah atasannya.


"Iya, ayo kita masuk ke ruangan bersama. Ada breefing lanjutan tentang pasien yang terlibat kecelakaan semalam" ucap Dokter Adnan menjelaskan.


"Istri saya tidak perlu masuk bersamaan dengan anda. Anda pikir istri saya mau masuk hutan jadi harus bersama-sama" ucap Aldo tiba-tiba.


Mendengar ada suara laki-laki yang berbicara membuat Aldo mengalihkan pandangannya. Raut wajah dokter itu sedikit panik karena melihat Aldo di samping Lili. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya yang tak melihat kehadiran Aldo.


"Eh... Pak Aldo. Sejak kapan ada di sini?" tanya Dokter Adnan yang seketika langsung menormalkan ekspresinya.


"Sejak anda berusaha mengajak istri saya masuk ruangan bersama" ucap Aldo dengan tatapan tajamnya mengarah ke Dokter Adnan.


Dokter Adnan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar ucapan Aldo itu. Pasalnya ia merasa terintimidasi dengan tatapan dan wajah dari Aldo itu. Ia dengan beraninya malah mengajak istrinya masuk bersama di ruangan dokter. Salahnya dia juga yang malah tak melihat kehadiran dari Aldo di situ.


"Maaf, pak. Saya tidak bermaksud apa-apa pada istri anda. Saya hanya mengajaknya masuk bersamaan karena memang kita tujuannya sama. Saya juga tak melihat bapak ada di sini tadinya" ucap Dokter Adnan memberi alasan.


"Saya bukan makhluk tak kasat mata yang tidak terlihat. Padahal saya sebesar ini dan ada di samping Lilian. Situ buta atau gimana?" ucap Aldo dengan ucapan pedasnya.


Dokter Adnan hanya diam saja mendengar kalimat pedas yang dilontarkan oleh Aldo itu. Pasalnya ini memang salah dirinya yang malah berbuat ulah. Aldo sepertinya juga mengetahui kalau dirinya mempunyai ketertarikan khusus kepada Lili.


"Saya peringatkan kepada anda, Dokter Adnan. Jangan bertingkah menggoda perempuan-perempuan di rumah sakit ini. Kalau anda ingin jodoh, minta sama Tuhan. Jika anda sampai terlihat menggoda mereka terutama istri saya, karir anda akan saya pastikan tamat dari rumah sakit ini" lanjutnya dengan memberikan ancaman pada Dokter Adnan.


Dokter Adnan terkejut dengan ancaman itu. Sepertinya rumor dirinya yang sering ramah dan mendekati pegawai di rumah sakit ini sudah menyebar. Padahal mereka juga senang-senang saja saat didekati oleh Dokter Adnan itu, namun ternyata malah salah kaprah pemikirannya itu.


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi masuk duluan ke ruangan" ucap Dokter Adnan yang memilih pasrah saja dengan keputusan pemilik rumah sakit ini.


Melihat Dokter Adnan pergi, Lili langsung menggenggam erat tangan Aldo. Bahkan Kei juga mencebikkan bibirnya kesal karena mamanya ada yang mendekatinya. Kei pun langsung meminta gendong pada sang papa hingga Aldo menggendongnya segera.


"Mama, inat ya. Janan mau didetati cama cowok lain. Mama punana papa dan Kei" ucap Kei memperingati mamanya itu.

__ADS_1


"Siap, bos" ucap Lili dengan tegasnya.


Lili segera mencium pipi Kei yang berada dalam gendongan suaminya itu. Ia sangat bahagia mendapatkan perhatian dan sikap posesif dari dua laki-laki yang ada di sini. Aldo langsung mengelus lembut pipi istrinya itu.


"Ingat ya, jangan mau kalau di dekatin cowok-cowok itu. Apalagi sampai ngajak masuk barengan, itu modus. Mending langsung kamu tinggal pergi saja" ucap Aldo memberi pesan.


Lili menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan pada Aldo dan Kei. Lili segera masuk dalam ruangan, sedangkan Aldo dan Kei pulang ke mansion. Tanpa ketiganya sadari, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka dengan kedua tangan yang mengepal erat.


***


"Li, itu dokter Adnan kok kaya ngelihatin kamu kaya gitu sih?" bisik Mega dengan sedikit melirik kearah Dokter Adnan.


"Nggak tahu. Udah nggak usah dilihatin, tatapannya itu seram banget. Mending kita dengarin saja arahan dari dokter senior" ucap Lili yang langsung meminta temannya agar menghiraukan Dokter Adnan itu.


Dari jarak yang sedikit jauh dari Lili dan Mega, Dokter Adnan terus memperhatikan kedua gadis itu. Ah lebih tepatnya memperhatikan Lili. Lili sedikit takut dengan tatapan penuh obsesi yang dilayangkan oleh Dokter Adnan itu. Sepertinya dia harus waspada jika Dokter Adnan itu mulai mendekatinya.


"Kalian paham?" seru dokter senior setelah memberikan pengarahan.


"Paham, dok" seru semuanya menjawab.


"Kalau sudah paham, kembali pada tugas kalian masing-masing. Untuk Lilian dan Mega, kalian bantu periksa kondisi pasien korban kecelakaan semalam. Laporkan pada dokter khusus rawat inap" ucap dokter senior itu.


"Baik, dok" jawab Lili dan Mega dengan tegasnya.


"Kita ke ruangan melati dulu ya, sus" ucap Mega.


"Baik, Mbak Mega" ucap perawat bernama Dela itu dengan senyum ramahnya.


Mereka segera saja memeriksa satu per satu korban kecelakaan semalam. Mereka hanya diperbolehkan melakukan tindakan atas persetujuan dokter senior. Sehingga untuk memberi obat dan lainnya, itu memang sudah atas persetujuan dokter senior.


"Akhirnya selesai juga" ucap Mega menghela nafasnya lelah.


Setelah lebih dari satu jam mengelilingi area ruang rawat inap korban kecelakaan, mereka selesai juga memeriksa semuanya. Setelah selesai, Mega yang akan mengantar ke dokter ruang rawat inap untuk menyerahkan laporan. Sedangkan Lili kini memilih duduk bersama dengan perawat lainnya.


"Ini belum seberapa, Mbak Mega. Dulu pernah rumah sakit ini penuh pasien sampai nggak dapat kamar. Bahkan sampai di lorong-lorong rumah sakit penuh brankar" ucap Dela memberitahu.


"Sampai kami para medis kuwalahan untuk memeriksa dan nggak bisa istirahat leluasa. Pokoknya itu sangat mengerikan sekali bagi para kami awak medis" lanjutnya.


Lili dan Mega mengetahui peristiwa itu. Apalagi itu sampai masuk berita-berita di TV. Semua rumah sakit penuh dan kekurangan ruangan. Bahkan bagi para medis yang ingin istirahat saja sangat susah. Itulah yang membuat para awak medis harus menjaga kesehatannya selama kejadian itu terjadi.

__ADS_1


"Pengorbanan yang luar biasa. Makanya kita nggak boleh yang meremehkan kesehatan. Sebisa mungkin, kita harus sehat agar semua pasien juga tertangani dengan baik" ucap Lili.


"Benar, mbak. Jangan juga sampai sakit putus cinta, itu juga sangat mempengaruhi" seloroh Dela membuat mereka yang ada di sana terkekeh pelan.


"Lebih sakit cinta bertepuk tangan sih dibandingkan putus" ucap Mega.


Hahaha...


"Ada-ada saja kalian ini. Memang benar sih, kalau cinta bertepuk sebelah tangan kan belum pernah yang namanya merasakan berduaan gitu ya" ucap Lili menggelengkan kepalanya.


"Lah situ mah nggak pernah ngrasain cinta bertepuk tangan kan, Li? Habis putus, eh dilamar sama duda kaya. Apa nggak rejeki nomplok itu?" ucap Mega sambil tertawa.


"Itu mah namanya hilang satu tumbuh satu yang serius" ucap Lili sambil terkekeh pelan.


Mereka malah tertawa dan saling melemparkan candaan untuk sekedar mengurangi stress. Apalagi jika malam, pasti akan mengantuk sehingga butuh waktu seperti ini.


"Mbak Lili sudah dilamar? Kirain masih jomblo" ucap Dela yang langsung penasaran.


"Bukan dilamar lagi, Del. Dia itu sudah menikah. Baru semingguan yang lalu sama duda kaya. Si pemilik rumah sakit ini" ucap Mega.


Sontak saja para perawat itu terkejut. Mereka tentunya tidak diundang dalam acara pernikahan itu. Mungkin hanya petinggi rumah sakit saja yang hadir. Bahkan mereka tak tahu foto pernikahan dari pemilik rumah sakit ini.


"Yang benar? Waduh... Kita ngobrol gini nggak sopan dong. Apalagi ini sama istrinya Pak Aldo" ucap Dela dengan sedikit panik.


"Kalian tenang saja. Status saya di sini bukan istri Pak Aldo, tapi calon dokter yang lagi praktik. Biasa ajalah" ucap Lili memberitahu.


Lili sebenarnya kesal dengan Mega yang menyebarkan berita tentang dirinya yang istri dari Aldo. Padahal hanya dokter-dokter saja yang tahu dari mulut ember Mega ini. Namun sekarang malah para perawat juga ikut tahu mengenai hal ini.


"Tapi benar Mbak Lili istrinya Pak Aldo yang mukanya seram itu? Kalau marah, pasti akan langsung pecat pegawai" ucap Naomi, salah satu perawat di sana.


"Iya. Dia kalau marah memang menyeramkan" ucap Lili yang kalau membayangkan wajah Aldo yang marah itu sudah merasa ngeri sendiri.


Lili langsung menunjukkan layar ponselnya mengenai dia yang memang menikah dengan Aldo. Bahkan di sana ada juga Kei yang tengah digendong oleh Aldo sambil tersenyum.


"Sempurna... Keluarga good looking semua" ucap Dela sambil geleng-geleng kepala.


"Padahal itu aku cantiknya karena make up. Lihat nih kalau nggak make up, buluk kan?" ucap Lili sambil terkekeh pelan.


"Wajah cantik kaya Mbak Lili gini aja dia bilangnya buluk, gimana kita coba?" ucap Naomi sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Mereka terus saja berbincang seru hingga larut malam. Sepertinya malam ini mereka sedikit senggang waktunya karena tak ada pasien gawat darurat yang perlu ditangani. Mega dan Dela yang memang cerewet itu terus saja melemparkan candaan yang membuat mereka tertawa.


"Ehemm... Boleh saya bergabung di sini?" tanya seseorang yang baru saja datang.


__ADS_2