
"Kei, besok larang mama dekat-dekat dengan laki-laki lainlah. Masa iya tadi waktu papa datang ke sekolahmu itu mamamu malah duduk sama laki-laki" adu Aldo pada anaknya.
"Matcudna apa? Kei duga lati-lati, belalti Kei ndak boleh detat-detat mama ditu?" tanya Kei yang kini malah sebal dengan papanya.
Aldo hanya bisa menepuk dahinya pelan karena kepolosan anaknya itu. Sedangkan Lili menahan tawanya melihat wajah frustasi dari Aldo. Apalagi kini Kei malah terlihat marah pada papanya karena tak boleh dekat-dekat dengan Lili.
"Maksudnya laki-laki yang bukan keluarga kita" ucap Aldo menjelaskan.
"Lho... Telus mama ndak boleh ditu detat cama docen di tampusna? Telus becok talo mama dadi doktel, macak pacienna ndak boleh lati-lati" ucap Kei yang terus berceloteh.
Lili membiarkan saja Aldo kepusingan sendiri menjawab ocehan dari Kei. Lili tak menyangka juga kalau kecemburuan dari Aldo itu malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Aldo sendiri sangat pusing dengan anaknya yang begitu cerewet itu.
"Tau ah, kamu mah nggak bisa diajak kerjasama" ucap Aldo dengan kesal.
"Keldacama tu halus dapat uwang, dadi mana duwitna? Ndak ada duwit, ya cudah" ucap Kei dengan santainya sambil menengadahkan kedua tangannya.
Aldo hanya bisa menganga tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Ternyata anaknya sekarang sudah mengerti tentang uang. Bahkan akan diajak kerjasama pun harus menggunakan uang sebagai sogokan.
"Iya, Kei. Biar uangnya bisa kita buat jalan-jalan ke luar negeri berdua" ucap Lili yang langsung menimbrung ucapan Kei.
"Betul cekali" seru Kei sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Lili.
Aldo hanya bisa mendengus kesal melihat kedua orang itu seakan bahagia dengan penderitaannya. Apalagi keduanya benar-benar seperti pasangan ibu dan anak yang siap menjahilinya. Mobil melaju menuju mansion Aldo dan tak berapa lama berhenti.
__ADS_1
Aldo sudah turun dari mobil terlebih dahulu karena kesal dengan anak dan calon istrinya itu. Sedangkan keduanya malah terkikik geli seakan berhasil untuk menjahili Aldo. Keduanya segera turun dari mobil kemudian masuk dalam mansion.
"Mama..." seru Lili memanggil Mama Nei yang sedang ada di ruang keluarga.
"Lili..." serunya juga saat melihat calon menantunya datang ke mansion.
"Nggak ada urusan kuliah? Kok jam segini sudah pulang" tanya Mama Nei setelah memeluk Lili sebentar.
Lili dan Mama Nei langsung duduk di ruang keluarga kemudian berbincang seru. Mereka melupakan Kei yang juga duduk di sana sambil memberengutkan bibirnya karena kesal. Keduanya begitu asyik hingga cuek pada Kei yang masih mengenakan seragamnya.
"Enggak, ma. Semua sudah selesai, tinggal nunggu jadwal sidang saja. Do'ain Lili ya ma, biar semuanya lancar" ucap Lili meminta do'a pada calon mertuanya itu.
"Pasti. Pasti mama do'akan semuanya lancar. Yang penting kamu belajar yang rajin. Nggak usah yang namanya mikir hal lain. Apalagi tentang pernikahan atau siapa yang menguji nanti. Serahkan sama Allah, kalau yang jadi pengujinya itu Aldo kamu langsung lirik tajam saja dia. Biar nggak perlu kasih kamu pertanyaan yang susah" ucap Mama Nei memberikan ide.
Keduanya terkekeh pelan mendengar ide-ide yang seakan digunakan untuk menumbangkan Aldo itu. Papa Tito yang baru saja datang menuju ke ruang keluarga merasa aneh melihat cucunya yang cemberut. Namun saat melihat Lili dan Mama Nei tertawa, ia paham kalau Kei sedang kesal.
"Yang sabar saja, Kei. Namanya juga berurusan dengan perempuan. Kalau udah ketemu ya mereka akan sibuk gosip sendiri. Kita yang laki-laki cuma disuruh jadi pendengar yang baik" ucap Papa Tito pada cucunya.
Mendengar ada yang bicara, sontak saja membuat Mama Nei dan Lili mengalihkan pandangannya. Keduanya dengan kompaknya menepuk dahinya pelan. Mereka sampai lupa akan kehadiran Kei saat sudah berbincang tentang persiapan pernikahan dan kuliah Lili.
"Maafkan kami, Kei. Kami lupa sama kamu. Ayo ganti seragamnya dulu" ajak Lili yang langsung berdiri mendekat kearah Kei.
Kei masih memberengut kesal dan tak menjawab ucapan dari Lili. Lili segera menggendong Kei kemudian menyandarkan kepalanya pada bahunya. Sepertinya bocah kecil itu mengantuk dan kelelahan sehingga begitu sensitif karena dicueki.
__ADS_1
"Udah kaya ibu dan anak ya, pa" ucap Mama Nei saat melihat kedekatan Lili dengan Kei.
"Sedari dulu juga kaya gitu kan. Ini malah kayanya Lili lebih dekat dengan Kei dibandingkan Arlin dulu. Aneh nggak sih kalau bilang sikap Arlin setelah bangun dari komanya itu sangat mirip dengan Lili? Malah kaya keduanya itu adalah orang yang sama" ucap Papa Tito mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
Mama Nei menganggukkan kepalanya mengerti. Tak hanya Papa Tito saja yang merasa kalau Arlin setelah bangun dari komanya itu sangat mirip dengan sifat Lili. Mama Nei hanya menduga kalau Arlin dan Lili yang sahabatan sehingga sikapnya mirip. Namun ini sangat mirip, bahkan cara berjalannya juga.
"Mungkin karena mereka sahabatan jadi sifat Arlin ketularan dari Lili kali, pa. Sudahlah... Arlin sudah tenang di sana. Jangan diungkit-ungkit atau dibandingkan dengan Lili" ucap Mama Nei mencoba mengenyahkan pikirannya.
Papa Tito menganggukkan kepalanya dengan ragu. Walaupun mengangguk, namun ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Setidaknya nanti ia akan mencari tahunya sendiri. Pasalnya ini bukan mirip lagi, tapi sama persis.
***
"Mama, dangan cuekin Kei dong. Kan Kei dadi binung mau napain" ucap Kei yang sudah berani protes.
"Maafin mama ya, Kei. Tadi mama keasyikan ngobrol sama oma, jadi lupa deh kalau ada kamu" ucap Lili cengengesan.
"Lain tali dangan ditu ladi ya, ma" ucap Kei.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula ia tak berniat sama sekali untuk cuek pada Kei. Setelah selesai berganti baju, segera saja Lili mengajak Kei untuk tidut siang. Lili memeluk Kei dengan erat sambil mengusap lembut punggungnya.
"Anak mama yang ganteng. Istirahat yang lelap dan jangan lupa mimpiin mama ya" gumam Lili.
Tak berapa lama, Kei tertidur dengan pulasnya dalam pelukan Lili. Gadis itu sangat bahagia, sudah merasa diinginkan oleh anak sambungnya. Bahkan Kei selalu mengutamakannya dibandingkan Aldo yang notabene ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Bukannya keluar dari kamar Kei, Lili malah ikut tertidur pulas di sana. Sedangkan Aldo sendiri yang sedari tadi mengamati kegiatan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi mereka yang harusnya makan siang dulu, malah terlanjur ketiduran.