
Lili berjalan bersama Kei menuju taman di dekat kampus. Mama Nei sudah pulang ke rumah karena kondisinya sedang tak enak badan. Lili sudah menghubungi Aldo kalau dia dan Kei memutuskan untuk datang ke sebuah taman. Rencananya, setelah dari taman nanti akan sekalian mengunjungi Panti Asuhan.
"Kei tanen cama Cela. Cama. Kak Adeng juga" ucap Kei.
"Iya, tapi tunggu papa dulu ya kita ke Panti Asuhannya. Ini kalau jalan dari sini, capek lho" ucap Lili mencoba memberi pengertian.
"Papa macih lama keldana. Ayo tita peldi caja beldua. Olang watu itu Kei bica tuh ndak ngelaca capek watu dalan tati" ucap Kei yang mengingat saat dirinya kabur dengan jalan kaki waktu itu.
Lili langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu Lili tak mau beresiko terjadi sesuatu yang membahayakan keduanya. Perasaannya tidak enak sedari tadi sehingga harus menekan keinginannya. Ia juga ingin segera pergi ke sana, hanya saja tidak untuk sekarang.
"Pokoknya kita main berdua dulu di sini. Mama nggak mau kalau ada orang jahat lagi yang menghadang kita. Pasti Kei ingat kan kalau waktu itu kamu dihadang sama preman? Mama ini nggak jago beladiri lho. Bisanya cuma teriak aja" ucap Lili mencoba memberi pengertian.
Akhirnya dengan pasrah Kei menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau tak bisa pergi berdua saja dengan Lili. Padahal ia ingin menghabiskan waktunya berdua saja dengan Lili, tanpa ada papanya itu.
"Hei anak kecil..." panggil seseorang yang ada di belakang Lili dan Kei.
Sontak saja keduanya yang tengah sibuk bermain bersama pun langsung mengalihkan pandangannya. Lili langsung berdiri kemudian menyembunyikan Kei di belakangnya. Sebisa mungkin Lili harus melindung Kei dari beberapa preman ini.
"Mau ngapain kalian ke sini? Pergi atau saya teriak" seru Lili sambil menatap was-was area sekitarnya.
"Kasih kami anak itu dulu. Kami akan melepaskanmu jika anak itu diberikan pada kami" seru salah satu preman berambut botak.
"Tidak akan. Saya tidak akan memberikan anak saya pada kalian. Pergi..." ucap Lili yang mengusir tiga orang preman itu.
Lili melirik kearah Kei yang ketakutan sambil memeluk sebelah kakinya dengan erat. Sedangkan Lili terus mencoba mencari celah agar bisa kabur. Apalagi dirinya kini bersama Kei yang membuatnya tak bisa bergerak bebas.
Ia melihat kearah sekitar taman yang lumayan sepi. Apalagi ini siang hari, pasti mereka juga sedang banyak memiliki aktifitas. Segera saja Lili memundurkan langkahnya sambil memegang tangan Kei.
"Ayolah. Kau akan selamat jika memberikan anak ini oada kami" ucap preman itu yang memang mengincar Kei.
"Tidak. Saya tidak akan pernah membiarkan kalian membawa anakku. Lawan dulu saya" seru Lili.
__ADS_1
"Wah... Berani juga nih cewek. Kayanya kita perlu tumbangkan dulu nih cewek buat ambil tuh anak kecil" ucap salah satu preman memberi komando pada teman-temannya.
"Tolong.... Tolong... Tolong..." teriak Lili.
"Toyong... Toyong..." teriak Kei yang mengikuti teriakan Lili.
Bukannya takut, justru ketiga preman itu hanya bisa terkekeh pelan. Pasalnya di sana memang benar-benar sepi. Bahkan jarang ada pengendara yang lewat area taman itu. Mereka kini benar-benar dalam posisi berbahaya.
"Teriaklah sekencangnya. Saya yakin kalau takkan ada yang mendengar permintaan tolong kalian" ucap preman itu sambil tertawa.
Lili sedikit panik dan takut kalau terjadi sesuatu dengan Kei. Kalau hanya dirinya, mungkin ia bisa langsung melawan. Namun Kei, ia tak bisa meninggalkan jauh anaknya itu. Apalagi yang dihadapi kini ada tiga laki-laki berbadan besar.
"Masa lawan satu cewek saja harus keroyokan. Pada takut kalah ya" ucap Lili mencoba memberanikan diri untuk melawan.
"Sialan... Malah nantangin kita. Sini biar aku saja yang maju. Kalian rebut saja tuh anak kecilnya. Aku yang akan lawan tuh cewek lemah" ucap preman itu mengomando rekannya.
Lili yang mendengar itu ketar-ketir. Sepertinya ia salah strategi dalam memancing preman-preman itu. Kei bahkan sudah menangis karena ketakutan. Ia tak mau jauh dari mamanya, apalagi paham kalau dirinya menjadi sasaran para preman itu.
"Ayo Kei..." ucap Lili tanpa suara dan hanya menggerakkan mulutnya saja.
"Please... Lari Kei" teriak Lili tiba-tiba.
Kei yang tahu kalau dia akan membahayakan mamanya pun akhirnya langsung berlari pergi. Kei harus bisa mendapatkan bantuan dari orang-orang agar bisa menyelamatkan Lili. Melihat Kei sudah kabur, segera saja Lili menghadang preman itu yang ingin mengejar anaknya.
"Hadapi saya dulu" seru Lili yang langsung menyerang para preman itu.
Beruntung Lili pernah belajar beladiri walaupun hanya sebentar saja. Setidaknya ini bisa melindungi dirinya agar tak terlalu terluka saat melawan para preman itu. Nantinya jika sudah melihat Kei aman, ia akan kabur karena tak mungkin menghadapi ketiganya terus-terusan.
Ciattt...
Bugh...
__ADS_1
Dugh...
Brugh...
"Sialan... Main pukul saja" seru preman itu yang kena tendangan kaki Lili tepat pada hidungnya.
Dugh...
Awwww...
"Rasakan ini" seru preman itu.
Arrrgghhh...
Saat Lili lengah, salah satu preman langsung saja menusuk perut Lili menggunakan pisau. Lili langsung memekik kesakitan dan ambruk. Sedangkan para preman itu langsung memilih kabur dibandingkan nanti ditangkap polisi. Apalagi melihat penampilan Lili yang sepertinya adalah anak orang kaya.
"Tolong..." ucap Lili dengan lirih.
Tak berapa lama, Kei datang bersama Aldo, Fina, dan teman-temannya. Kei berada di dalam gendongan salah satu teman Fina berlari menuju taman. Mereka semua terkejut melihat Lili yang sudah terbaring di atas rumput dengan pisau yang menancap pada perutnya.
"Lili..." seru Aldo dan Fina juga teman-temannya bersamaan.
Mereka segera saja mengerumuni Lili yang masih setengah sadar. Fina mengambil tisue dari tasnya kemudian mencabut pisau itu. Hal itu membuat darah langsung mengalir deras dari sana. Fina juga mengambil kaos gantinya dan melilitkannya pada area yang ada di perut Lili.
"Kita bawa ke rumah sakit" ajak Aldo yang sedari tadi diam dan shock.
Apalagi tadi saat Kei datang ke kampus sambil menangis. Beruntung saat itu bertemu teman-teman Fina dan langsung dibantu mencari Aldo. Kalau tidak cepat, pasti Lili sekarang sudah tak tahu bagaimana keadaannya.
Aldo langsung menggendong Lili ala bridalstyle yang kemudian diikuti yang lainnya. Fina langsung memasuki mobil Aldo yang baru saja dikendarai oleh salah satu temannya. Fina mengambil alih kemudi kemudian melajukannya dengan sangat kencang saat semua sudah masuk dalam mobil.
"Tetap hati-hati. Di sini ada banyak nyawa yang bergantung pada caramu menyetir" peringat Aldo.
__ADS_1
"Siap, pak" seru Fina yang kemudian kembali fokus dengan kemudinya.