Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Lesu


__ADS_3

"Napa cih Ante Lili campe ndak mau temuin Kei? Ini cemua gala-gala papa yang nakitin Ante Lili" seru Kei sambil menatap kesal kearah papanya yang berjalan di belakang dia dan omanya.


Kei memang sudah berhenti menangis setelah omanya itu memberi pengertian kepadanya. Namun nafasnya masih sedikit tersendat-sendat akibat menangis terlalu kencang. Bahkan air matanya sampai masuk dalam mulutnya.


Kini ketiganya masih berada di area rumah sakit. Sedari tadi Kei menatap sinis kearah papanya itu karena berpikir kalau Lili membencinya akibat ulah Aldo. Aldo masih terdiam dan menatap lurus ke depan, tanpa mempedulikan Kei yang terus menyudutkannya.


Tanpa Kei dan Mama Nei ketahui, kedua tangan Aldo sedari tadi mengepal dengan eratnya di dalam saku celana kerjanya. Aldo berusaha menahan emosinya karena merasa disudutkan terus menerus oleh anaknya. Padahal anaknya itu belum tahu apa-apa tentang urusan orang dewasa yang terjadi diantara dia dan Lili.


"Sudah, Kei. Jangan menyudutkan papamu terus. Kita kan belum tahu kejadiannya seperti apa. Dosa lho kalau menuduh orang sembarangan. Lagian itu masalah orang dewasa, jadi Kei tidak perlu ikut campur. Biarkan mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri" ucap Mama Nei dengan lembut.


"Iya, oma" ucap Kei dengan lesu.


Kei pun langsung menyerukkan kepalanya pada leher sang oma. Ucapan Mama Nei dapat dimengerti oleh Kei walaupun hanya sekilas. Yang pasti, Kei menangkap kalau dia tidak boleh menyalahkan papanya terus menerus. Tak lupa kalau ia juga masihlah anak kecil.


Ketiganya sudah berada di tempat parkir mobil. Aldo segera saja membuka pintu mobilnya kemudian menyuruh mamanya agar segera masuk. Ternyata Kei sudah tertidur dalam gendongan Mama Nei. Aldo melihat sekilas wajah polos anaknya yang membuat ia tak tega kalau memarahi Kei itu.


Aldo segera saja duduk di balik kursi kemudinya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mama Nei sedari tadi diam dengan pikirannya yang berkelana mengenai permasalahan anaknya dan Lili.


"Sebenarnya semalam apa yang terjadi, Al? Jujurlah, mama merasa ada yang kamu sembunyikan" ucap Mama Nei tiba-tiba.


Aldo sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Mama Nei itu. Mama Nei terus mengusap lembut punggung cucunya itu agar terus terlelap dalam tidurnya. Aldo melirik sekilas kearah mamanya kemudian menghela nafasnya kasar.


"Sepertinya di sini memang Aldo yang salah, ma. Aldo yang emosi karena disuruh mengantarkan Lili pulang itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan tanpa menunggu Lili menggunakan sabuk pengamannya dulu" ucap Aldo yang akhirnya mengakui semua kesalahannya.


Mama Nei yang mendengar pengakuan dari anaknya itu tentu terkejut. Bahkan kini Mama Nei langsung memelototkan matanya. Mama Nei tak menyangka kalau anaknya akan setega itu dengan Lili yang notabene adalah seorang perempuan.


"Itu kan bahaya, Al" kesal Mama Nei yang tak habis pikir dengan tindakan anaknya itu.

__ADS_1


"Habisnya Aldo kesal karena disuruh antar dia pulang. Seharusnya kan sedari sore dia sudah pulang sendiri" ucap Aldo yang tak ingin disalahkan sepenuhnya.


Tentu saja Mama Nei ingin sekali memukul kepala anaknya itu agar otaknya sedikit benar. Alasan Aldo itu sungguh tak masuk akal baginya. Kalaupun memang bersikukuh tak mau mengantar, biar sopir atau Papa Tito saja.


"Jangan-jangan Lili mengingat kejadian masa lalu karena ulahmu itu" pekik Mama Nei yang langsung menatap anaknya kesal.


Ia yakin kalau sakitnya Lili itu karena ulah dari anaknya yang mengebut dalam berkendara. Tentu saja kemungkinan besar Lili akan mengingat kejadian yang sama pada masa lalunya itu. Aldo pun terdiam dan mencerna apa yang diucapkan oleh mamanya itu.


"Sudahlah, ma. Aldo tak mau memikirkan hal itu. Yang pasti Lili sakit itu karena demam" ucap Aldo yang seakan lepas tangan begitu saja.


"Kamu harus minta maaf sama Lili, Al. Jangan jadi laki-laki pengecut" kesal Mama Nei.


Aldo tak lagi menanggapi ucapan mamanya itu. Ia terus saja fokus dengan kemudi dan jalanan di depannya. Sedangkan Mama Nei yang melihat kelakuan Andre itu benar-benar dibuatnya kesal setengah mati. Beruntung Kei tak mendengar tentang pembicaraan antara Aldo dan dirinya itu.


Sudah pasti Kei akan bertambah marah kepada Aldo yang ternyata membuat Lili dalam keadaan bahaya. Kei pastinya tak terima kalau sampai Lili sakit seperti ini karena ulah papanya sendiri. Kei sudah sangat menyayangi Lili seperti ibu kandungnya sendiri.


***


Bahkan Mama Ningrum mengetahui kalau anaknya itu sebenarnya hanya pura-pura tidur saja. Sedari tadi bola matanya terus saja bergerak liar, yang menandakan kalau Lili hanya memejamkan mata dan tidak tidur sama sekali.


"Mama tahu lho kalau kamu tidak tidur" lanjutnya sambil mengelus lengan tangan anaknya itu.


"Bisa tolong tinggalkan Lili sendiri? Lili hanya ingin sendiri" ucap Lili tanpa membuka matanya.


Mama Ningrum hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ternyata anaknya itu belum bisa terbuka kepadanya atas semua masalahnya. Mama Ningrum berdiri kemudian menatap anaknya sekilas.


"Kalau kamu ada masalah, ceritalah sama mama dan papa. Kami akan selalu berusaha untuk berada di sampingmu dan membantumu menyelesaikan semua masalahmu" ucap Mama Ningrum yang kemudian pergi berlalu keluar ruang rawat inap Lili.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa membantuku menyelesaikan masalahku ini? Padahal kalian adalah orang yang paling utama sebagai dalang masalahku ini" gumam Lili yang langsung membuka matanya setelah mendengar suara pintu tertutup.


Lili menatap pintu ruang rawat inapnya dengan lesu. Walaupun mulutnya bisa berucap kalau dia telah memaafkan kedua orangtuanya, namun hatinya masih belum menerima. Bahkan ingatannya mengenai kejadian masa lalu itu masih selalu menghantuinya.


Luka yang diterimanya begitu besar hingga sulit mengikhlaskan dan melupakannya. Ternyata melupakan memang sangatlah sulit, apalagi suatu hal yang begitu menyakitkan.


"Maafkan tante, Kei. Bukan maksud tante untuk menjauhimu atau membencimu. Tapi untuk saat ini, hal inilah yang terbaik. Kita bisa menjalani kehidupan masing-masing tanpa harus saling berjumpa. Tak lupa kalau tante sekarang tidak ingin lagi mengingat kamu dan keluargamu dalam hidup aku" ucap Lili dengan pikiran yang menerawang pada wajah Kei.


Ingin sekali Lili memeluk dan mengusap air mata yang jatuh pada kedua pipi Kei. Bahkan ia juga tak tega kalau sampai Kei menangis seperti tadi. Namun hatinya sungguh sakit karena perlakuan Aldo padanya hingga berimbas ia tak mau lagi mengenal mereka.


***


Kei masuk ruang makan dengan wajah lesunya. Hal ini membuat Papa Tito yang tak tahu apa-apa itu kebingungan. Seharusnya Kei tersenyum dan bahagia karena tadi sudah bertemu dengan Lili. Namun pada kenyataannya, cucunya itu masih cemberut dan tampak lesu seperti ini.


"Kamu kenapa, Kei? Bukannya tadi sudah bertemu dengan Tante Lili. Harusnya senang dong" ucap Papa Tito yang kemudian memangku cucunya itu.


"Ante Lili ndak cuka talo Kei ekat-ekat cama dia. Ini cemua gala-gala papa huaaaa" seru Kei yang langsung menangis kembali dalam pelukan opanya.


Mama Nei yang baru saja datang ke ruang makan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak lagi terkejut dengan apa yang akan terjadi. Ia memang belum menjelaskan atau menceritakan tentang kejadian ini kepada suaminya itu.


"Memangnya papa kenapa? Apa salah papa? Coba sini ceritakan semuanya sama opa" ucap Papa Tito dengan lembut.


"Api anti papana dijewel ya, opa? Coalna papa tan dahat. Papa naitin mobil tencang-tencang telus Ante Lili tatut dan cakit cekalang" ucap Kei dengan suara tak jelasnya.


Tentu saja ucapan Kei itu membuat Mama Nei terkejut. Ia langsung berpikir kalau cucunya itu mendengar pembicaraannya dengan Aldo sewaktu dalam mobil. Sedangkan Papa Tito masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa tadi Kei mendengar apa yang diucapkan papa di dalam mobil?" tanya Mama Nei penasaran tanpa mempedulikan Papa Tito yang kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2