Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Minta Ganti


__ADS_3

"Thank you, Ante Lili. Baik hati banget sih, sampai traktirin kita makan sampai kenyang. Terus ini baju dan bonekanya juga" seru Fina sambil menunjukkan beberapa paper bag di tangannya.


Lili benar-benar kena batunya. Lili yang tadinya ingin mengusili Fina malah kini mendapatkan karmanya. Kini Lili malah yang harus membayar semua makanan dan belanjaan yang dibeli di mall itu. Tak lupa kalau Fina malah tadi menarik Lili kearah sebuah toko baju dan boneka.


Sedangkan Kei sendiri barang belanjaannya dibawa oleh Lili. Kei membeli beberapa mainan dan makanan. Sungguh Lili dibuat bangkrut oleh keduanya. Walaupun orangtuanya tak pernah melarang dia untuk berbelanja, namun Lili sedikit tak enak kalau membelanjakannya dalam jumlah banyak.


"Awas aja, ntar ku balas. Malah kalau bisa, gue seret loe buat liburan ke luar negeri" ucap Lili dengan sedikit ancaman.


"Santuy... Kalau perginya setelah lulus kuliah mah santai aja gue. Bakalan gue bayarin, kan udah nggak bakalan ditahan sama bokap" ucap Fina yang seakan santai saja.


Ketiganya kini keluar dari mall kemudian berjalan menuju parkiran. Lili dan Kei menuju parkir mobil sedangkan Fina kearah sepeda motornya. Tadi Fina memang memilih untuk naik motor sendiri karena biar bisa sekalian langsung pulang. Sedangkan Lili bersama Kei naik mobil dengan dikemudikan oleh Pak Yono.


"Nanti minta ganti uangnya sama Pak Aldo. Bilang saja kalau anaknya itu banyak belanjanya" bisik Fina memberikan ide pada Lili sebelum pergi menuju tempat parkir sepeda motor.


Lili yang mendengar ide yang diucapkan oleh Fina itu pun matanya langsung berbinar cerah. Aldo uangnya kan banyak sehingga tak apa kalau dia meminta ganti padanya. Sungguh Fina itu paling pintar kalau memberikan ide seperti ini.


"Ayo, Kei. Kamu ke rumah tante dulu ya. Biar papamu yang nanti jemput ke rumah tante" ucap Lili sambil mengelus lembut rambut Kei.


"Iya, ante. Ladian ndak didemput cama papa duga ndak apa-apa. Kei bica ninap di lumahna Ante Lili. Boleh tan, Ante Lili?" tanya Kei dengan tatapan penuh harap kearah Lili.


Lili hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tak mungkin tega saat melihat wajah memelas dari Kei itu. Apalagi Kei langsung bersorak gembira karena mendapatkan persetujuan menginap darinya. Padahal belum tentu juga keinginan bocah cilik itu menjadi kenyataan. Pasalnya Aldo tidak bisa diketahui bagaimana jalan pikirannya.


Keduanya segera memasuki mobil dengan Pak Yono sudah bersiap mengemudikannya. Sedangkan Lili sendiri sudah menghubungi Aldo agar menjemput Kei di rumahnya. Namun sampai saat ini, Aldo belum membuka dan membalas pesannya.


***


"Lho... Kei..." seru Mama Ningrum yang melihat Kei keluar dari mobil milik keluarganya.


Mama Ningrum yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah itu tentu saja langsung menghentikan kegiatannya. Apalagi melihat mobil yang biasa digunakan Lili untuk berangkat ke kampus sudah pulang ke rumah. Namun tang pertama kali keluar dari mobil itu ternyata adalah Kei.

__ADS_1


Sudah beberapa bulan ia tak bertemu dengan Kei. Ada rasa rindu dalam hatinya karena sudah lama tak bertemu. Namun ia juga tak berani kalau harus menemui Kei secara terang-terangan. Bukan tak berani menghadapi Aldo dan keluarganya, hanya tak ingin sakit hati saja dengan ucapan laki-laki itu.


"Nenek antik..." seru Kei dengan langkah antusiasnya mendekat kearah Mama Ningrum.


Mama Ningrum pun langsung melepaskan selang air yang ada di tangannya kemudian melangkahkan kakinya menuju Kei. Mama Ningrum langsung memeluk Kei dan menciumi kening juga pipinya itu. Sungguh Mama Ningrum menyalurkan kerinduannya dengan memeluk erat bocah cilik itu.


"Wah... Cucu nenek yang ganteng ini ternyata datang ke rumah lagi. Tapi nenek belum masak yang spesial buat kamu lho ini. Habisnya nenek nggak tahu kalau kamu mau datang" ucap Mama Ningrum setelah melepaskan pelukannya dari Kei.


"Cemua matanan yang dibuwat nenek cepecial di yidah Kei. Cemua nenak, Kei cuka" ucap Kei yang mencoba menenangkan kegundahan hati Mama Ningrum.


Mama Ningrum begitu terharu dengan ucapan Kei yang terdengar lembut dan menenangkan. Mama Ningrum sempat berpikir kalau sebenarnya Kei ini bukanlah anak kandung dari Aldo. Pasalnya dari tutur katanya saja sangat berbeda. Kei yang lemah lembut dan sopan, sedangkan Aldo terkesan bermulut pedas.


"Sudahi acara kangen-kangenannya. Ayo masuk dan mandi" seru Lili yang jengah dengan keduanya yang malah asyik mengobrol.


Padahal ia sedari tadi sudah menunggu keduanya untuk menyudahi adegan kangen-kangenan itu. Namun mereka berdua malah seakan menikmatinya dan ia diacuhkan. Kei dan Mama Ningrum langsung mengalihkan pandangannya kearah Lili yang tengah cemberut.


"Cieeee... Ada yang cemburu kalau Kei dekat dengan neneknya. Gimana ya kalau misalnya tuh bapaknya Kei dekat dengan cewek lain?" ucap Mama Ningrum yang melayangkan candaan.


Sedangkan Mama Ningrum hanya terkekeh pelan melihat tingkah anaknya itu. Walaupun ia juga tak terlalu setuju apabila anaknya dekat dengan Aldo. Namun kalau untuk sekedar menggodanya saja, itu hanya untuk seru-seruan saja. Apalagi takdir Tuhan tak ada yang tahu, sehingga ia juga tak mau terlalu membenci sesuatu.


"Ayo Kei, kita susul Tante Lili" ajak Mama Ningrum pada Kei.


Kei pun yang tadi memang kebingungan karena perdebatan keduanya memilih diam. Bahkan kini Kei langsung menggandeng tangan Mama Ningrum dan diajak untuk masuk dalam rumah. Kei merasa senang bisa kembali lagi ke rumah ini walaupun hanya sekedar untuk bermain saja.


***


"Wah... Masaknya kok banyak banget, ma?" tanya Papa Dedi yang memang baru saja masuk dalam ruang makan.


Hari sudah beranjak malam dan Papa Dedi telah kembali dari aktifitas bekerjanya. Setelah membersihkan diri, Papa Dedi langsung mencari istrinya yang ternyata berada di ruang makan. Di sana belum ada Lili dan Kei karena keduanya masih bersantai di dalam kamar.

__ADS_1


Papa Dedi sendiri belum tahu kalau ada Kei di rumahnya. Aldo juga belum memberi kabar pada Lili, entah jam berapa laki-laki itu akan menjemput Kei. Pasalnya pesan yang dikirim oleh Lili sama sekali belum dibalas oleh Aldo. Lili berpikir kalau Aldo masih ada urusan penting sehingga belum membuka ponselnya.


"Iya dong. Kan di rumah ada cucu kita, jadi wajib buat masak banyak" ucap Mama Ningrum dengan antusias.


"Cucu? Cucu siapa lagi sih, ma" kesal Papa Dedi pada istrinya yang suka ngehalu itu.


"Alah itu lho... Kei. Cucu kita datang ke sini sama Lili tadi siang. Dia belum balik soalnya di rumahnya itu lagi nggak ada orang" ucap Mama Ningrum.


Sontak saja Papa Dedi langsung menatap kearah Mama Ningrum. Ia seperti tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Papa Dedi sudah malas kalau harus sampai berhadapan dengan keluarga Kei. Terutama harus berhadapan dengan Aldo yang mulutnya sangat pedas itu.


"Mama nggak takut kalau keluarga kita direndahkan gitu aja sama bapaknya Kei itu? Mama nggak kasihan sama papa yang harga dirinya kaya diinjak-injak oleh oranglain?" tanya Papa Dedi pada istrinya.


"Kei nggak bersalah, pa. Ini yang salah bapaknya lho. Kasihan kalau sampai Kei kita jauhin juga. Kei anak yang baik dan manis, sifatnya saja jauh dari bapaknya itu" ucap Mama Ningrum meminta keringanan pada suaminya.


Papa Dedi hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Walaupun ia juga menyayangi Kei, namun harga dirinya seakan diinjak-injak oleh Aldo. Namun ia tak boleh egois dengan mengorbankan hubungannya dengan Kei.


Benar kata istrinya, Kei tidak tahu apa-apa. Sudah sepantasnya kalau Kei tak perlu disangkutpautkan dengan masalah itu. Akhirnya Papa Dedi hanya menganggukkan kepalanya pasrah membuat Mama Ningrum memekik kesenangan.


"Terimakasih, papa" seru Mama Ningrum.


Papa Dedi hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Segera saja Papa Dedi duduk di kursinya kemudian minum kopi yang disediakan oleh istrinya. Keduanya menunggu kehadiran Kei dan Lili yang masih berada di kamarnya.


"Selamat malam semua" seru Lili yang memasuki ruang makan dengan Kei dalam gendongannya.


Kei juga tersenyum melihat Mama Ningrum. Namun saat melihat adanya Papa Dedi, Kei langsung menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Lili. Kei merasa kalau Papa Dedi tak menyukai kedatangan dirinya di rumah ini. Lili pun langsung mengelus lembut punggung Kei.


Sedangkan Mama Ningrum langsung menyenggol kaki suaminya agar tersenyum pada Kei. Ia tak ingin kalau sampai Kei ketakutan karena tatapan sinis dari suaminya itu. Papa Dedi hanya bisa menghela nafasnya karena tatapan tajam dari Mama Nei.


"Ayo kita makan. Kei, nggak usah takut sama kakek. Nanti kalau kakek nakal, kita tendang kakinya sama-sama" ucap Mama Ningrum untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


Lili pun langsung duduk dan mendudukkan Kei di atas pangkuannya. Sedangkan Mama Ningrum langsung mengambilkan suaminya makanan dengan memberi kode agar selalu tersenyum. Mereka melakukan makan malam bersama dengan keadaan penuh hikmat.


__ADS_2