
"Maaf, Pak Sandy. Tadi saya sedikit terburu-buru hingga tak melihat jalan. Sekali lagi saya minta maaf" ucap Aldo dengan kebohongannya.
Pasalnya Aldo melakukan kebohongan dengan memberikan alasan yang berbeda. Padahal sudah jelas kalau Aldo tadi sedikit panik akibat melihat Lili yang memergokinya menatap dia. Walaupun sudah minta maaf, namun Aldo seperti menahan kekesalannya.
Ia berusaha menutupi kekesalannya terhadap dirinya sendiri karena ulahnya malah membuat oranglain curiga terhadapnya. Pak Sandy pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian Aldo pergi berlalu tanpa mengucapkan apapun lagi. Bahkan Aldo seperti tak punya muka di hadapan beberapa mahasiswa yang ada di sana karena tingkah konyolnya itu.
"Lain kali hati-hati, pak. Mau jalan lihat lurus ke depan, jangan ke bawah seperti cari duit" seru Pak Sandy sambil terkekeh pelan.
Aldo masih mendengar seruan Pak Sandy itu. Namun ia sama sekali tak menggubrisnya karena malas berdebat. Apalagi kalau membalas pasti hanya akan membuat semua orang di sana curiga terhadapnya.
***
"Kayanya tuh Pak Aldo sampai nabrak Pak Sandy karena fokus ngeliatin kamu deh, Li" ucap Fina tiba-tiba.
Lili yang tadinya masih fokus melihat kearah perginya Aldo langsung mengalihkan pandangannya. Bahkan Lili menatap heran Fina yang langsung mengaitkan dengan dirinya. Walaupun sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama, namun ia tak ingin terlalu percaya diri.
"Ngapain juga Pak Aldo ngeliatin aku sampai nggak fokus kaya gitu. Aku bukan orang penting dan sekenal itu dengan Pak Aldo lho" ucap Lili dengan mengelak.
"Ish... Jangan sok nggak ngerasa. Tadi tuh dia ngeliatin loe, pas loe nengok eh malah dia kaya panik dan salah tingkah gitu. Jadinya gitu deh, buru-buru pergi dan nabrak Pak Sandy" ucap Fina menjelaskan secara gamblang.
Lili yang mendengar ucapan dari Fina pun mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya ia tadi tak melihat sampai sedetail itu. Lili menggelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan ucapan dari Fina. Ia merasa kalau Aldo tak mungkin melihat kearah dirinya.
Apalagi mengingat peristiwa semalam. Aldo selalu menatapnya sinis dan acuh. Mungkin untuk sekedar melihat dirinya pun malas. Apalagi ia merasa kalau sudah terlalu jauh masuk dalam keluarga Aldo. Pantas saja Aldo seperti risih dan tak nyaman dengan kehadirannya.
"Udahlah... Ngapain sih ngomongin Pak Aldo? Toh orangnya dah pergi, mana nggak penting lagi tuh orang" ucap Lili dengan terkekeh pelan.
"Penting banget lho itu dosen, Li. Nasib kelulusanmu itu tergantung dari dosen tampan itu" ucap Fina mencoba menyadarkan Lili akan sesuatu.
__ADS_1
Lili yang diingatkan mengenai skripsinya oleh Fina pun hanya bisa mendengus kesal. Ia sudah pasrah dengan nasib skripsinya. Apalagi setelah kejadian semalam, seperti tak ada harapan. Pasti Aldo akan mencari-cari terus kesalahannya sehingga memperlama masa skripsinya.
"Malas ku bahas tentang skripsi. Mending kita ke mall" ajak Lili.
"Ogah... Nggak punya duitlah gue. Mana bokap gue cuma pengepul rongsokan lagi" ucap Fina dengan merendah.
"Hei... Maksud loe pengepul kardus rongsokan terus dibuat kerajinan yang dikirim ke luar negeri? Dasar loe, sok merendah. Padahal aslinya tajir melintir" kesal Lili.
Fina hanya cengengesan saja mendengar ucapan dari temannya itu. Ternyata Lili sudah mengetahui kalau orangtuanya mempunyai usaha yang bergerak dalam bidang kerajinan tangan. Namun Fina selalu bilang pada semua orang kalau ayahnya hanya seorang pengumpul rongsokan.
Pengumpul rongsokan kardus yang semuanya dibuat kerajinan tangan oleh masyarakat sekitar. Namun hasil kerajinan tangan itu dikirim ke luar negeri. Tentu saja omsetnya bisa ratusan juta setiap bulannya. Lili pun tak sengaja mengetahui tentang fakta itu karena pernah mendengar perbincangan antara Fian dengan temannya.
"Tau aja sih loe. Ayuklah cuss kita belanja" ajak Fina dengan antusias.
"Dih... Mau beli apaan?" tanya Lili saat keduanya mulai beranjak dari duduknya.
Lili pun menganggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya mereka segera pergi dari kampus dengan mengendarai sepeda motor Fina. Lili yang dibonceng dengan menggunakan helm yang dibawa oleh Fina. Beruntung Fina membawa dua helm yang selalu dibawanya kalau ada kepentingan tertentu.
"Jangan kencang-kencang bawa motornya, Fina. Gue belum mau mati" seru Lili sambil memeluk Fina dari belakang.
Ternyata Fina mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya ini baru pertama kalinya Lili diboncengkan sepeda motor oleh Fina ini. Sehingga ia sedikit was-was apalagi pernah melihat Fina yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
"Tenang aja. Kalau yang nyetir gue mah loe bakalan selamat sampai tujuan" seru Fina.
Lili hanya diam saja dan menyembunyikan wajahnya pada punggung Fina. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya saat sepeda motor itu melaju dengan kencangnya. Namun yang menurutnya aneh adalah traumanya yang tak muncul saat berada dalam situasi seperti ini.
"Apa mungkin aku traumanya hanya saat berada di mobil saja ya? Atau karena orang yang membawanya dan membuatku tak merasa aman" gumam Lili sedikit bingung.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan cukup singkat, akhirnya sepeda motor yang dikendarai oleh Fina itu masuk dalam area tempat parkir. Fina memarkirkan sepeda motornya kemudian membuka helmnya. Terlihatlah Fina yang menampilkan senyum sumringahnya sedangkan Lili masih memakai helmnya.
"Sialan... Naik motor kaya mau ngajak ke akhirat. Masih mending ke akhiratnya itu nanti langsung masuk surga. Lha ini belum tentu" kesal Lili setelah melepaskan helmnya dengan kasar.
Bahkan Lili langsung saja menatap sinis kearah Fina. Selama dalam perjalanan tadi, Lili begitu heboh dan cerewet. Apalagi kalau bukan tentang cara Fina mengendari sepeda motornya dengan kencang. Bahkan Lili terus saja memeluk Fina dari belakang karena takut terjatuh.
"Ini masih belum seberapa kali. Besok deh gue ajakin ke sirkuit. Seru tau di sana" ucap Fina dengan santainya malah mengajak Lili untuk pergi ke sirkuit balapan.
"Ogah... Bisa dicincang orangtua gue yang ada kalau ketahuan" ucap Lili yang langsung menolak ajakan itu.
"Lah... Kan kalau ketahuan. Ini nggak bakalan ketahuan kok" ucap Fina dengan santainya.
Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Fina itu. Sungguh Fina itu merupakan teman yang selalu saja suka dengan tantangan. Apalagi kalau tantangannya itu seperti melawan aturan dari orangtua.
***
"Daripada belanja sesuatu nggak jelas, mending kita puas-puasin makan di sini. Setidaknya perut kenyang bikin otak tuh lurus buat mikir" ucap Fina dengan santainya.
Lili menganggukkan kepalanya setuju. Apalagi setelah hampir 15 menit memutari area dalam mall, belum ada barang yang berhasil menarik perhatian keduanya. Mereka yang lelah pun segera memutuskan untuk pergi mencari makanan.
"Beli es krim yok biar otaknya agak dingin ini" ajak Lili yang langsung menarik tangan Fina.
"Beli nasi woyyy... Gue lapar nih. Malah mau nyari es krim" kesal Fina yang tangannya ditarik oleh Lili.
"Nantilah, kita cari es krim dulu" ajak Lili yang menolak usulan dari Fina.
Fina pun hanya pasrah saja mendengar ajakan dan tarikan tangan Lili itu. Bahkan Lili dengan santainya meminta Fina untuk membayar tagihan pembelian es krimnya. Fina yang tahu kalau sahabatnya sedang pusing itu pun langsung membayarnya.
__ADS_1
Setelah sibuk dengan es krim, mereka masuk dalam salah satu restorant. Mereka di sana makan dan ngobrol apapun yang selama ini pernah dilalui. Apalagi kisah Lili di masa lalu yang sempat terjebak dalam hubungan pacaran dan pertemanan toxic. Setelah puas seharian di mall, Fina mengantar Lili pulang ke rumahnya dengan selamat.