Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kehilangan


__ADS_3

"Arlin... Jangan tinggalkan aku dan Kei" teriak seorang laki-laki yang baru saja kehilangan istrinya.


Seorang laki-laki itu adalah Aldo yang kini berteriak histeris saat mendengar kabar bahwa istrinya dinyatakan meninggal dunia. Beberapa saat yang lalu, Arlin mengalami kejang-kejang kemudian dinyatakan meninggal. Dokter mendiagnosis adanya beberapa masalah yang ada dalam tubuh Arlin. Terlebih Arlin baru saja mengalami kecelakaan kemudian terkena musibah lagi. Hal ini yang membuat kondisinya memburuk.


"Mohon maaf, tuan dan nyonya. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun takdir berkata lain. Nyonya Arlin dinyatakan meninggal tepat pada pukul setengah satu siang" ucap dokter itu dengan tatapan bersalahnya.


Bahkan Kei yang juga ada di ruangan Arlin itu juga sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mama Nei. Papa Tito yang mendengar penjelasan dari dokter juga tak kalah shocknya. Bahkan sedari tadi, ia hanya bisa menatap jenazah Arlin yang masih terbaring diatas brankarnya. Beberapa alat medis masih terpasang pada tubuhnya karena Aldo tak mengijinkan siapapun mendekati tubuh Arlin.


"Mohon maaf, tuan. Tapi jenazah Nyonya Arlin harus segera disucikan dan dimakamkan. Tidak baik membiarkan terlalu lama jenazah seseorang, apalagi keluarganya sudah berkumpul semua" ucap perawat itu memberi pengertian.


"Tahu apa kau? Pergi" sentak Aldo tidak terima.


Hingga akhirnya, tak ada satu orang pun perawat yang berani untuk mendekat karena takut dimarahi oleh Aldo. Mereka membiarkan Aldo dan keluarganya untuk menghabiskan waktu dengan jenazah Arlin. Mereka tak bisa melawan karena keluarga adalah pemberi keputusan yang berkuasa.


"Mama pelgi inggalin Kei. Mama ndak cayang Kei" seru Kei sambil menangis sesenggukan.


Bugh... Bugh...


"Sialan... Bangun Arlin" seru Aldo sambil memukul tembok ruangan Arlin.


Bahkan setelahnya Aldo langsung saja mendekati tubuh Arlin kemudian memegang kedua bahunya. Aldo langsung menggoyangkan tubuh Arlin, berharap kalau istrinya itu terbangun. Namun sekuat apapun Aldo berusaha, Arlin takkan bangun. Papa Tito langsung saja mendekat kearah anaknya yang semakin tak sadar diri kalau sudah menyakiti raga Arlin.


"Ikhlaskan Arlin. Jangan sampai tangisan dan ketidakikhlasan kita membuatnya berat disana" ucap Papa Tito menahan tangisnya.

__ADS_1


Papa Tito juga langsung memeluk anaknya kemudian mengelus bahunya dengan pelan. Aldo juga langsung memeluk papanya itu dengan erat, seakan ia butuh sekali penguat dalam menghadapi hal ini. Kini jiwa Arlin sudah pergi dengan tenang setelah mengetahui hubungannya dengan suami dan anaknya membaik.


Kini hanya tinggal ada raganya yang sudah tak bernyawa, yang sebentar lagi juga akan dikubur dalam tanah.Hanya ada beberapa memory dan foto yang bisa mereka jadikan pengingat juga mengenang bagaimana sosok Arlin itu ada dalam kehidupan mereka.


***


Pemakaman sudah berlangsung beberapa menit yang lalu, semua kerabat dan teman yang mengenal Arlin telah meninggalkan area makam. Tinggallah disana hanya ada Aldo yang berdiri menatap kearah gundukan tanah basah yang ditaburi mawar itu. Dibalik kacamata hitamnya, ia menyembunyikan air matanya yang belum kering.


Papa Tito memutuskan untuk membawa pergi Mama Nei yang tadi sempat pingsan karena merasa sangat kehilangan Arlin. Bahkan Kei juga menangis histeris hingga harus dibawa pergi oleh salah satu maid yang ada di mansionnya.


"Kenapa? Kenapa kamu tinggalin kami? Disaat kita ingin memperbaiki semuanya dan membentuk keluarga bahagia. Dasar pembohong, kamu hanya ingin menerbangkan kami dalam kebahagiaan yang sesaat lalu menjatuhkannya" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.


"Kamu berhasil. Berhasil menjatuhkanku sedalam-dalamnya hingga aku tak tahu bagaimana caranya bangkit" lanjutnya.


"Kenapa? Jawab" sentaknya yang kemudian badannya meluruh dan terjatuh diatas tanah.


Dugh... Dugh...


Aldo terus memukul gundukan tanah basah itu karena ingin mendapatkan jawaban dari Arlin yang meninggalkannya. Tak ada jawaban apapun dari tanah ataupun pohon yang berada disana. Semuanya telah mati dan pergi, meninggalkan beribu kesedihan bagi yang ditinggalkan.


Setelah meluapkan semua yang ada dalam dadanya, Aldo segera bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi. Tak ada kata pamit yang terucap karena ia masih menganggap kehilangan Arlin ini adalah sebuah mimpi semata.


***

__ADS_1


"Oma, Opa... Mama mana?" seru Kei yang matanya sudah memerah dan sembab karena terlalu banyak menangis hari ini.


Tentunya setelah berhasil kabur dari maid yang membawanya, Kei segera saja berlari mencari keberadaan oma dan opanya. Hal ini karena Kei ingin tahu dimana keberadaan sang mama yang tidak ada sisinya seharian ini. Padahal semua orang sudah kembali ke mansion, namun mamanya belum kunjung menemuinya.


Melihat adanya sang oma dan opa yang berada di ruang keluarga dengan saling berpelukan, membuat Kei langsung saja menanyakan mamanya. Bahkan Kei langsung masuk dalam pelukan keduanya membuat Mama Nei memeluknya juga dengan erat.


"Nak, mamamu sudah berada di surga. Kei cukup do'akan dia ya" ucap Papa Tito yang memang sudah tidak bisa menjelaskan apapun.


"Sulga itu mana? Ayo tita cucul, opa. Halus naik obil atau wawat? Buluan ayo, tebulu anti mama dauh" seru Kei dengan antusias.


Keduanya sudah tak bisa lagi menjawab apapun mengenai pertanyaan Kei. Mereka menangis dalam diam sambil memeluk Kei hingga bocah kecil itu menyadari jika yang dimaksud oleh keduanya itu adalah sang mama telah meninggal. Yang ia tahu, meninggal itu berarti takkan bisa berjumpa lagi dengan sang mama.


"Huaaaa.... Ndak ungkin. Mama macih ada dicini" ucapnya sambil menangis histeris.


Mama Nei menangis tertahan karena melihat cucunya sekacau ini. Tak menyangka, diusianya yang masih kecil harus sudah kehilangan mamanya. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan anak dan cucunya mendatang setelah kehilangan Arlin.


"Sttt... Banyakin berdo'a ya, nak. Mama sudah nggak sakit lagi dan bahagia diatas sana" ucap Mama Nei dengan suara seraknya.


Setelah cukup lama menenangkan Kei, akhirnya bocah kecil itu tertidur dalam pelukan keduanya. Tanpa mereka sadari, Aldo berjalan masuk dalam mansion dengan langkah lunglainya. Laki-laki itu juga tak menyadari akan adanya anak dan orangtuanya yang duduk di ruang keluarga. Hingga mamanya menegur dia, membuatnya langsung menoleh sekilas.


"Aldo, pikirkan juga Kei. Kei masih butuh perhatianmu" seru Mama Nei yang melihat anaknya sudah tak punyai gairah hidup.


Aldo tak menggubris, bahkan hanya menatap sekilas kemudian masuk dalam kamarnya. Hal ini membuat Mama Nei sedikit kecewa. Bukan hanya dia yang sedih ditinggalkan Arlin, namun mereka dan Kei juga.

__ADS_1


"Sabar, ma. Berikan waktu pada Aldo untuk menerima semua kenyataan ini" ucap Papa Tito membuat Mama Nei hanya bisa menganggukkan kepalanya.


__ADS_2