Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Protes Kei


__ADS_3

Kei bahkan kini tengah berada di depan cermin setelah membersihkan diri dibantu dengan sang oma. Omanya sudah keluar dari kamarnya setelah meminta dia untuk duduk sebentar di atas ranjang. Bukannya berdiam diri di atas ranjang, namun Kei malah berdiri di depan cermin yang hanya memperlihatkan wajahnya saja.


"Kei tu ampan lho, tok ante Lili ndak mawu adi mamana atu ya? Apa calah Kei yang ampan ini" ucap Kei sambil menyugar rambutnya ke belakang dengan tangannya.


Kei yang begitu percaya diri itu memikirkan mengenai Lili yang sampai saat ini belum jadi mamanya. Kei berpikir kalau Lili menolak menjadi mamanya, padahal ini karena Aldo yang tak mau berurusan dengan gadis itu. Seharusnya Kei menyalahkan dan mengejar Aldo dibandingkan dengan Lili.


"Ungkin Kei telalu ampan adi nanak. Bica adi anti ante Lili yang malah datuh tinta tama atu dalipada cama papa" lanjutnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kalau Aldo tahu tengah diomongkan oleh Kei, pasti laki-laki dewasa itu akan sedikit mengamuk. Bahkan Kei bisa saja dijuteki oleh Aldo karena bicara sembarangan. Hal ini tentu saja membuat Kei malas untuk menampilkan kepercayaan dirinya di depan papanya itu.


Kei segera keluar dari kamarnya kemudian berjalan kearah kamar sang oma. Sepertinya Mama Nei tengah berganti baju saat Kei memasuki kamar itu. Bahkan kini Kei malah duduk di atas ranjang omanya.


"Lho... Kok malah ke sini?" tanya Mama Nei yang baru saja keluar dari walk in closetnya.


"Bocan Kei di kamal cendilian" ucap Kei dengan santai.


Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan cucunya itu. Mama Nei segera mendekati cucunya kemudian mengangkatnya untuk masuk dalam gendongannya. Mama Nei segera membawa cucunya itu ke ruang makan yang di sana sudah ada Andre dan Papa Tito.


"Woh... Talian matan ndak unggu-unggu Kei bulu" seru Kei dengan sedikit menyindir papa dan opanya yang sudah makan terlebih dahulu.


"Kamu lama, Kei. Keburu pingsan nih papa kalau kelaparan" ucap Aldo sambil terus melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Yebay nih papa" ucap Kei dengan nada sinisnya.


Papa Tito dan Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan keduanya itu. Mama Nei akhirnya duduk yang kemudian menyuapi Kei makanan. Kei pun makan dengan lahapnya karena ia ingin cepat selesai dengan kegiatannya.


"Lho papa dan opa cudah mawu belangkat? Unggu Kei dong. Kei tan belum celecai matan" seru Kei yang melihat kedua laki-laki dewasa itu sudah beranjak dari duduknya.


"Kan kita mau bekerja, Kei. Kamu di rumah saja sama oma" ucap Aldo sambil mengernyitkan dahinya heran dengan tingkah anaknya itu.


"No... Kei mau te tampus cama papa. Kei mau temu cama ante Lili" seru Kei sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Aldo yang mendengar ucapan dari Kei itu sontak saja langsung membulatkan matanya. Ternyata saat pertemuan kemarin antara Kei dan kedua orangtua Aldo dengan Lili itu masih dirahasiakan mereka. Mereka sama sekali tak membahas atau menceritakan semua itu pada Aldo.


"Nggak. Nggak usah lagi ketemu sama dia. Bisa-bisa nanti kamu malah celaka lagi" ucap Aldo yang langsung memberi larangan pada anaknya.


"Apa cih? Natana Kei ndak apa-apa tuh. Nih Kei macih cehat" ucap Kei sambil menunjukkan badannya yang kelihatan sehat itu.


Aldo hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Terlihat sekali kalau dalam pancaran matanya itu ada ketakutan dan kekhawatiran yang begitu besar. Tentu saja takut dan khawatir kalau anaknya akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Pokoknya Kei nggak boleh lagi ketemu sama perempuan itu. Kei di rumah saja" tegas Aldo sambil menatap tajam kearah Kei.


Aldo segera saja pergi berlalu dari ruang makan. Ia pergi meninggalkan anaknya yang ketakutan atas sikapnya itu. Seketika saja Kei teringat kalau dulunya sang papa juga selalu bersikap jutek seperti itu kepadanya. Kei benar-benar tak menyangka kalau kepergian mamanya tetnyata mengembalikan sikap asli papanya.

__ADS_1


Papa Tito melihat kearah Mama Nei yang terlihat sedih. Terlebih Mama Nei begitu terpukul atas sikap Aldo saat ini. Mama Nei yang melihat cucunya kini yang terlihat lebih murung dari biasanya.


"Nanti kita nyusul ke kampus ya buat ketemu Tante Lili. Kei nggak usah dengar kata papa, dia mah lagi sensitif" ucap Mama Nei sambil mengusap lembut rambut cucunya.


Kei hanya terdiam tak menanggapi ucapan dari omanya. Kei bahkan langsung turun dari kursi makannya sendiri kemudian pergi berjalan kearah ruang keluarga. Mama Nei dan Papa Tito hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Bahkan Papa Tito yang akan pergi bekerja pun akhirnya mengurungkan niatnya.


Papa Tito dan Mama Nei memilih untuk menyusul cucunya ke ruang keluarga. Keduanya melihat Kei yang malah menelungkupkan wajahnya pada kursi sofa dengan posisi tengkurap. Bahunya terlihat bergetar yang menandakan kalau Kei sedang menangis.


"Angan ekat-ekat, Kei. Apa cih calahna Kei? Kei cuma ngin puna mama lho tok tayakna culit. Kei uga ingin bagia api ndak cecaat tayak temalin" ucap Kei lirih dengan sedikit isakan yang terdengar.


Tentu saja hal itu membuat Mama Nei dan Papa Tito begitu bersedih. Ternyata cucunya sekarang sudah bisa protes kalau tak sesuai dengan keinginannya. Seharusnya anak sekecil ini mendapatkan bimbingan dari orangtuanya agar tak salah arah. Namun yang terjadi malah orangtuanya kini tak ada di samping bocah kecil itu.


"Kei bisa kok bahagia. Kei hanya harus sabar dan berdo'a sama Tuhan biar hati papa dilunakkan. Tentu ini biar kamu juga mendapatkan mama yang baik dan tak melukai papa juga kamu. Jangan buru-buru ingin punya mama, Kei. Kita harus bisa menilai dulu siapa yang akan jadi ibu sambung kamu" ucap Mama Nei memberi pengertian.


"Tapi atu angen di eluk ceolang mama, oma. Angen alan-alan uga" seru Kei yang kini sudah duduk dengan mata sembabnya.


"Oma ini juga seorang mama lho. Mama yang merangkap jadi oma kamu. Kamu akan merasakan kasih sayang seorang mama dari omamu ini untuk sementara waktu" ucap Mama Nei menenangkan cucunya.


"Deda, oma. Pototna deda" protes Kei yang langsung berjalan pergi dari ruang keluarga.


Kei memilih untuk duduk di gazebo belakang rumah untuk menenangkan dirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2