Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Aktifitas


__ADS_3

Aldo sudah berangkat ke kampus karena hari ini ada jadwal mengajar di sana. Sedangkan untuk Papa Tito juga telah melakukan aktifitasnya di perusahaan Arlin. Mama Nei yang biasanya selalu mengikuti suaminya itu pun memilih untuk istirahat di rumah sekaligus menunggu Kei terbangun dari tidurnya.


Pasalnya setelah kejadian menunggu di kamar oma dan opanya itu, Kei tertidur hingga kini belum bangun. Tentunya hal ini dikarenakan semalam bocah kecil itu terlalu kelelahan saat bermain di mall dan terbangun waktu pagi buta.


Eugh...


"Lho tok Kei da alam tamal papa cama mama? Butanna adi Kei di alam kamalna opa?" gumam bocah kecil yang terbangun dari tidurnya.


Bocah kecil itu adalah Kei yang terbangun setelah tidur dengan nyenyaknya. Kei mengucek kedua matanya dan menyadari kalau dirinya sudah tidak ada berada di kamar opanya. Kei yang kebingungan hanya melihat sekitarnya dan menyadari kalau ini memanglah kamar kedua orangtuanya.


Kei melihat kearah balik gorden yang terlihat begitu terang. Ini artinya waktu sudah menunjukkan siang hari. Bahkan mata Kei langsung saja membulat saat tahu kalau papanya kemungkinan besar sudah berangkat bekerja.


"Huaaaa... Kei keciangan" seru Kei sambil menangis dengan kerasnya.


Mendengar ada seseorang yang menangis, Mama Nei yang sedang bersantai sambil melihat tayangan TV pun tersentak kaget. Mama Nei segera saja berlari tergopoh-gopoh untuk mencari sumber suara yang tak lain dari cucunya itu. Mama Nei masuk dalam kamar yang memang terbuka dan melihat cucunya menangis dengan wajah memerah.


"Kenapa menangis, Kei? Kamu kaget ya, udah nggak ada papa di kamar" ucap Mama Nei yang segera saja menggendong cucunya.


Kei tak menjawab pertanyaan dari omanya itu. Kei hanya bisa diam dan memeluk leher omanya. Masih terdengar isakan lirih yang keluar dari bibir mungil Kei membuat Mama Nei langsung mengelus lembut punggungnya. Setelah cucunya merasa tenang, Mama Nei segera memandikan Kei.


"Kamu kenapa sih, Kei? Bangun-bangun kok nangis. Padahal biasanya juga nggak pernah nangis kalau bangun tidur" tanya Mama Nei sambil memberi sabun pada tubuh Kei.


"Kei kecel. Macak pas Kei angun, cudah ndak ada olang. Papa dan opa pati cudah belangkat kelja tan? Adahal Kei ada pelu cama opa lho ni" ucap Kei sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Sebenarnya Kei menangis bukan karena takut sendirian di kamar. Hanya saja ia menangis karena terlalu kesal pada dirinya sendiri yang malah ketiduran. Padahal ia ada perlu penting dengan sang opa yang pastinya menyangkut tentang masa depannya.

__ADS_1


Mama Nei yang mendengar ucapan Kei itu langsung terdiam dengan menghentikan usapan lembut sabun pada tubuh cucunya. Tentu hal ini membuat Mama Nei bingung sekaligus penasaran. Pantas saja tadi suaminya bilang kalau cucunya itu sengaja bangun cepat karena ada sesuatu yang diinginkannya.


"Nanti kita ke kantor biar Kei bisa bilang sama opa yang diinginkan seperti apa" ucap Mama Nei memberi keputusan.


Kei pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tentu hal ini membuat Kei tersenyum cerah dengan mata berbinar ceria. Ia harus mengucapkan hal ini pada opanya segera agar tak ada halangan seperti kemarin-kemarin. Mama Nei segera membalutkan handuk pada tubuh Kei setelah selesai dengan kegiatan mandinya.


***


"Oma, tapan tita ke kantol opa?" tanya Kei setelah dirinya sarapan.


Sungguh Kei sudah tak sabar untuk menceritakan semuanya. Terlebih ia merasa kalau impiannya sebentar lagi akan tercapai dengan mempunyai mama baru. Walaupun mama kandungnya baru beberapa hari meninggal, namun keinginannya menjadikan Lili sebagai ibunya itu sudah tak terbendung lagi. Terlebih perasaannya saat bersama dengan Lili begitu nyaman dan tenang.


"Memangnya kamu ada perlu apa sih dengan opa?" tanya Mama Nei yang sangat penasaran.


Mama Nei yang merasa digoda seperti itu hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal. Ia sungguh penasaran namun cucunya malah membuatnya seperti teka-teki. Mama Nei pun akhirnya memilih untuk bersiap-siap karena akan mengunjungi suaminya di perusahaan Arlin.


"Le go, oma" seru Kei yang sangat antusias.


Bahkan Kei sudah berlari keluar dari mansionnya dengan diikuti oleh Mama Nei. Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu. Keduanya masuk dalam mobil diantar oleh salah satu sopir keluarga. Mobil mewah itu keluar dari halaman mansion dengan kecepatan sedang.


***


"Selamat siang, nyonya" sapa beberapa karyawan yang memang mengenal Mama Nei dan Kei.


Kei yang berada di gandengan tangan Mama Nei juga hanya menganggukkan kepalanya mengikuti omanya itu. Tentu saja ia berlagak seperti seorang CEO seperti papa dan opanya itu. Bahkan Mama Nei yang melihat tingkah cucunya yang berwajah datar seperti seorang CEO itu hanya bisa terkekeh geli. Keduanya segera saja masuk dalam lift yang telah terbuka.

__ADS_1


"Oma, Kei totok ndak adi watu pacang ajah datal tayak CEO ditu?" tanya Kei dengan wajah penasarannya saat pintu lift tertutup.


"Cocok dong. Kan Kei memang CEO di perusahaan ini" ucap Mama Nei sambil terkekeh geli.


Ternyata ia baru menyadari kalau Kei sengaja memasang wajah datarnya itu karena mengikuti gaya CEO. Kini keduanya telah sampai di depan ruang CEO yang membuat Kei segera saja masuk ke dalam. Lagi pula tadi sekretaris yang ada di sana yaitu Gita sudah mempersilahkan untuk masuk saja.


"Opa..." panggil Kei saat pintu telah dibuka oleh Mama Nei.


Papa Tito yang sedang fokus mengerjakan beberapa berkas yang ada di hadapannya pun segera mengalihkan pandangannya. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Kei dan istrinya itu. Pasalnya sang istri sama sekali tak mengabari dirinya kalau akan datang ke kantor.


"Kok nggak ngabari papa kalau mau ke sini, ma?" tanya Papa Tito yang segera saja berdiri dari kursi kebesarannya.


Papa Tito menyambut keduanya dengan mencium kening dari Mama Nei dan Kei. Tentunya ia sangat penasaran dengan kehadiran mereka. Papa Tito segera meraih Kei masuk dalam gendongannya kemudian mereka duduk di kursi sofa yang ada dalam ruangan itu.


"Cucu opa itu yang mengajak dadakan ke perusahaan. Nggak tahu tuh mau ngomongin apa sama papa" ucap Mama Nei sambil mengedikkan bahunya acuh.


"Kei?" tanya Papa Tito sambil mengerutkan dahinya penasaran.


Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya. Papa Tito segera saja mengalihkan pandangannya kearah Kei yang kini tersenyum padanya. Sepertinya dugaannya benar kalau misalkan tadi pagi cucunya itu ingin sekali membahas sesuatu. Namun bocah kecil itu malah ketiduran sebelum mengucapkan sesuatu.


"Iya, opa. Kei mau nomong cecuatu. Lahacia lho ini" ucap Kei dengan antusias.


"Ngomong apa, nak?" tanya Papa Tito penasaran.


"Adi...

__ADS_1


__ADS_2